CCFBandung di hari Sabtu. Seperti biasa, menjelang siang kemacetan terjadi di berbagai jalan sekitar pusat keramaian. Tidak terkecuali di Jalan Purnawarman yang melewati Gramedia Merdeka dan Bandung Electronic Center (BEC). Di seberang BEC, terdapat sebuah gedung Pusat Kebudayaan Perancis. Centre Culturel Francais (CCF), demikian nama lembaga yang salah satunya berfungsi sebagai tempat kursus belajar bahasa Perancis. Ke sana lah saya menuju.

Setelah bersabar berkendara di lalu lintas yang macet menuju Purnawarman, saya pun tiba di depan gerbang CCF. Ah, ada tanda dilarang masuk di gerbang ini. Pastilah ini jalan keluar. Masuknya dari gerbang yang satu lagi. What?? Gerbang berikutnya juga dipasangi tanda dilarang masuk, bahkan pintunya ditutup dan dirantai. Berbeda dengan gerbang sebelumnya yang dibuka. Maka dengan kebingungan dan sedikit kekesalan saya terpaksa memutar sekali lagi melewati Wastukencana untuk kembali ke gerbang yang pertama tadi. Aneh, keduanya dipasangi tanda dilarang masuk. Lalu bagaimana orang bisa masuk? Apa gedung ini tidak menerima orang dengan kendaraan bermotor? Tidak masuk akal.

Setelah sampai kembali di depan gerbang yang pertama, saya langsung masuk, tak peduli dengan tanda verboden yang menghiasi pagarnya. Tiga orang yang sedang duduk di kafe kecil tak jauh dari gerbang menoleh ke arah saya. Nampaknya kedatangan saya mengalihkan mereka dari hidangan di meja atau obrolan santai mereka. Begitu sampai di tengah lahan parkir mobil, seorang satpam segera mengampiri saya.

Satpam: “Maaf Pak, nggak bisa parkir di sini.”

(lho Pak, saya memang mau ke sini kok, bukan numpang parkir lalu keluar menuju BEC atau Gramedia…

*Sebagai catatan, lahan parkir kosong di BEC atau Gramedia dan sekitarnya jadi barang langka di akhir pekan. Seorang petugas parkir di Braga Music depan Gramedia pernah mengkonfirmasi saya saat saya hendak parkir di toko musik itu. Saya tidak diperbolehkan parkir jika bukan hendak masuk ke tokonya. Ooo, ada saja yang ingin numpang parkir…)

Saya:  “Saya mau ke dalam, Pak.”

Satpam: “Nggak bisa parkir di sini.”

Ha? Nggak bisa bagaimana, maksudnya? Oh, apa karena hari libur ya?

Saya: “Nggak bisa parkir??”

Satpam: “Iya, nggak bisa parkir di sini.”

Ini mulai menyebalkan. Bapak petugas yang dingin ini tidak menjelaskan lebih lanjut alasan pelarangan parkir saya ini. Dia tahu bahwa saya tahu ada tempat kosong persis di belakangnya. Dia berdiri di antara saya dan lahan kosong itu.

Saya: “Lha ini ada tempat…”, kata saya sambil menunjuk tempat parkir tak bertuan itu. Ada tulisan bercat putih di paving block nya, entah apa tulisannya.

Satpam: “Ini untuk guru, dan …, …” (saya lupa siapa saja yang disebutnya. Yang jelas untuk orang dalam). “Di sini parkirnya sudah dijatah untuk mereka saja”

Oo, mulai jelas. Tapi…

Saya: “Nah, kalau saya mau ke dalam??”

Satpam: “Nggak bisa parkir di sini.”

Saya: “Nggak bisa??”

Satpam: “Nggak bisa.”

Saya: “Walaupun saya mau belajar di dalam??”

Satpam: “Nggak bisa.”

Saya: “Trus kalau yang belajar di sini dan bawa mobil gimana?”

Satpam: “Yaa.. nggak parkir di sini.”

Saya: “Jadi parkir di luar??”

Satpam: “Ya, parkir di luar.”

Saya: “Kalo motor gak bisa juga?”

Satpam: “Motor mah bisa.”

Wah, kasihan sekali ya. Saya rasa tidak sedikit juga yang membawa kendaraan roda empat datang ke tempat ini. Maka barangsiapa membawa mobil ke CCF, terpaksa ia harus memarkir kendaraanya di luar CCF. Yang relatif aman di Gramedia atau BEC. Parkir di pinggir jalan tidak disarankan. Maka konsekuensinya biaya parkir bukan seribu rupiah seperti parkir di tempat biasa. Secure parking di kedua tempat itu bisa mematok harga Rp. 2500/jam. Jika sekali kursus membutuhkan waktu 2 jam, maka ditambah waktu keterlambatan dan sebagainya maka total waktu parkir bisa jadi 3 jam. Dua kali seminggu kursus berarti 6 jam. Maka kursus di CCF, selain biaya kursus, ada tambahan biayaHANYA untuk parkir Rp. 15.000.  Sebulan Rp. 60.000. Hmmm…lumayan.

Memang sulit punya lokasi di pusat keramaian. Lahan tidak luas sehingga tak mungkin menyediakan slot parkir yang banyak. Maka dipasang lah tanda dilarang masuk di kedua pintu gerbangnya untuk menegaskan ketiadaan tempat parkir itu. Sayang, bagi orang yang belum  tahu, tanda itu jelas membingungkan. Tidak masuk akal jika tidak ada yang boleh masuk. Maka saya yakin saya bukanlah satu-satunya orang yang harus mengadakan dialog absurd dengan Pak Satpam tadi.

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>