Anda masih ingat kejadian ini? Ya, waktu saya melapor ke kantor Polisi terkait aksi kriminal yang saya alami. Ada yang belum sempat saya ceritakan. Ya pada Anda, juga pada Polisi yang memeriksa saya. Lebih tepatnya tentang kisah sebuah buku yang ikut hilang di dalam tas saya.

Tanya: Apa saja barang yang hilang di dalam tas itu?
Jawab: Laptop satu set dengan spesifikasi… 1.. 2.. 3.. 4..(saya sebutkan spesifikasinya berikut benda elektronik lain yang ikut hilang berikut beberapa dokumen kerja)
Tanya: OK, ada yang lain?
Jawab: Ada. Buku.
Tanya: Apa judulnya?
Jawab: Judulnya…

Eh bentar bentar…
itu judulnya… anu… eh, jangan-jangan ntar..
Hmm, jawab nggak ya?

Buku pinjaman yang ikut hilang itu berjudul “Indonesia Militan” karangan Dr.Riawan Amin, mantan Dirut Bank Muamalat Indonesia. Buku yang singkat, padat, dan ‘menyengat’ ini memang ditulis dengan penuh semangat perbaikan dan perubahan. Perubahan terhadap mentalitas kita sebagai bangsa Indonesia dari kacamata Islam. Politik, ekonomi, dan budaya dibahas dengan kritis dan solutif lewat tulisan-tulisan pendek yang sebagian besar pernah dimuat di harian Republika. Saya ingin ikut ‘tersengat’, makanya saya ikut baca. Ikut pinjam, lebih tepatnya.

Judulnya tidak mau kalah dengan isinya. Pemilihan kata ‘militan’ pun bukan tanpa maksud. Salah satu maksudnya adalah meluruskan kembali istilah ‘militan’ yang sudah terlalu sering dibajak teroris, layaknya istilah ‘jihad’. Dengan penjelasan yang lebih detail, maka kesimpulan setelah membaca buku ini: jika Anda seorang yang menghendaki perubahan dan perbaikan yang dahsyat di negeri ini lewat ikhtiar yang sungguh-sungguh, maka Anda adalah seorang militan. Jadi, jangan takut disebut militan!

Nah, kembali ke ruang tanya jawab tadi. Perlu kawan ketahui saat kejadian kriminal itu, media sedang hangat-hangatnya bicara pemberantasan terorisme Noordin M. Top. Apalagi pihak kepolisian. Sesaat sebelum menjawab judul buku tadi, pikiran saya langsung ‘tersengat’ dengan hubungan ini:

‘buku indonesia militan’…
‘militan’.. (lihat TV…)
‘teroris’…
’berantas teroris’…
‘eh, kamu bukan jaringan teroris kan?’

Alamak! Asosiasi ini jelas tidak menguntungkan saya. Apalagi tak ada waktu menjelaskan isi buku itu sebenarnya yang tidak seharfiah judulnya. Apalagi dengan istilah ‘militan’ yang berulang kali dibajak isu terorisme tadi. Bisa-bisa kasus berkembang dengan dugaan aksi kriminal terkait dengan buku ‘militan’ yang saya pinjam itu. Atau setidaknya saya dicurigai penggemar teroris. Haha, berlebihan memang, tapi saya sedang tidak ingin bermain api, sekecil apapun percikannya.

Tanya: Apa judul bukunya?
Jawab: Waduh, lupa Bu. Agak panjang soalnya…
Tanya: Masa lupa judul buku sendiri?
Jawab:  Emm…iya memang agak panjang judulnya. Jadi lupa-lupa inget. Bilang kalo bukunya minjem, gak ya? Tadi kan katanya buku sendiri, lha buku orang lain… :P
Tanya: …
Jawab: Emm…
Tanya: Ya sudah, ndak usah dimasukkan saja, ya. Bukan termasuk barang berharga ini.
Jawab: Oh iya, Bu (fiuh…)

‘Maka selamatlah buku ‘militan’ itu, walau setelahnya saya tetap harus menggantinya :P

*Wawancara disingkat menjadi bagian yang penting saja. 

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>