CoffeeBreakPada suatu kesempatan makan malam, saya tak kuasa menahan diri untuk menanyakan sebuah situasi yang agak ganjil. Seorang vendor bercerita mengenai detail teknis permasalahan yang dihadapi perusahaan tempat vendor tadi memberikan layanan. Saya menangkap ia lebih paham akar masalah di perusahaan tersebut daripada pegawai perusahaan itu sendiri. Ganjil, bukan?

Saya: Saya tidak paham bagaimana mungkin Anda lebih memahami permasalahan yang ada ketimbang pegawai perusahaan itu?
Vendor: Oh, itu karena saya melihat masalah itu sebagai TANTANGAN, bukan RUTINITAS.

Masuk akal. Posisi seorang vendor sebagai penyedia layanan, yang notabene adalah seorang technopreneur, berbeda dengan posisi pegawai yang bekerja mengabdi pada perusahaan. Posisi yang berbeda ini –tidak dapat dipungkiri walau tidak juga hukum yang pasti– menghasilkan perspektif yang berbeda pula. Kecenderungan orang luar (vendor) melihat permasalahan cenderung lebih kritis ketimbang orang dalam (pegawai). Selain itu, bagi vendor, masalah di perusahaan ibarat tantangan terhadap kemampuannya memberikan solusi. Posisi pegawai sebagai orang yang mengelola apa yang sudah ada dan sudah berlangsung lama, juga cenderung membuat pekerjaan nampak lebih sebagai rutinitas ketimbang tantangan.

Pada kesempatan santai yang lain, seorang Doktor lulusan Perancis bercerita tentang kekagumannya pada hasil karya seorang ulama –yang dengan izin Allah– mampu menghasilkan ijtihad-ijtihad yang mumpuni. Hasil pemikirannya segar dan memperbarui pemahaman umat akan Islam sebagai agama yang sempurna (kamil) dan menyeluruh (syamil). Hasil pemikiran yang orisinal semacam itu, dengan metode ilmiah yang teruji, layak diganjar gelar Doktor. Sebagai lulusan S3 yang juga pernah mengalami proses menghasilkan ide orisinal berdasarkan penelitian dari berbagai sumber, ia mengagumi kemampuan sang ulama tadi. Kesimpulan dari kekaguman itu adalah tak mungkin sang ulama mampu melakukan ijtihad-ijtihad itu tanpa proses perenungan yang panjang, pengalaman yang banyak, kemampuan membaca dan mengolah informasi yang tinggi, serta keutamaan (fadhilah) yang Allah karuniakan kepadanya.

Cara kerja menghasilkan ide-ide orisinal ini layaknya kerja seniman. Dalam bidang sang Doktor Elektro ini, ia melihat penemuan-penemuan baru lahir dari kemampuan calon-calon doktor yang berjiwa seni. Seni ini mengalirkan darah segar yang membuat masalah-masalah rumit bisa diselesaikan dengan beragam solusi kreatif. Bisa begini, bisa begitu. Tentu tak lain karena penguasaan sang seniman terhadap sifat-sifat elemen-elemen dasar keilmuan yang ia geluti. Wajar, bagi calon doktor tak mungkin hanya paham kulitnya saja. Semakin dalam tingkat pemahamannya, semakin besar kemungkinan ia menemukan ide-ide yang orisinal. Di dunia riset ini, masalah juga dilihat sebagai tantangan, bukan rutinitas.

Saya kutip kembali yang pernah saya bahas dalam resensi buku The Apple Way.

Kutipan favorit saya di buku ini adalah bagian yang menceritakan bahwa orang-orang terbaik di bidang komputer di San Fransisco/Berkeley/Bay Area pada tahun 70-an dan 80-an mayoritas adalah penyair, penulis, dan musisi. Mereka menemukan komputer sebagai media baru untuk menyalurkan kreativitas mereka. Wujud kreativitas itu adalah karya-karya yang berangkat dari pemikiran mendalam tentang masalah-masalah sosial. Karya-karya yang dibuat dengan penuh apresiasi, ekspresi, dan gairah layaknya penyair atau pelukis ini akhirnya dapat bermanfaat bagi orang lain.

Lagi-lagi, seniman yang memandang masalah-masalah sebagai tantangan dunia baru.

Jadi, ada perbedaan besar antara melihat masalah sebagai tantangan dan rutinitas. Yang pertama akan menghasilkan solusi, ijtihad, ide orisinal, dan penemuan baru. Mayoritas pelakunya, jika tidak dari golongan seniman, maka entrepreneur. Yang kedua mungkin hanya akan mendapat gaji bulanan dan kenyamanan untuk tetap berada di wilayah aman.  Entah untuk berapa lama. Rasanya seorang seniman atau entrepreneur sekalipun pernah menganggap masalah sebagai rutinitas. Hanya saja mereka tidak berlama-lama di sana. Mereka nampaknya memaksa diri keluar dari rutinitas dan mulai menantang diri mereka sendiri.

Life is either a daring adventure or nothing (Helen Keller)

Gambar diambil dari sini.

Tagged with:
 

3 Responses to Antara Tantangan dan Rutinitas

  1. anita says:

    tercerahkan kembali utk melakukan setiap pekerjaan dg sepenuh hati..
    (loh, jadi selama ini?..)

  2. adhiguna says:

    “Mayoritas pelakunya, jika tidak dari golongan seniman, maka entrepreneur”.

    Betul sekali. Plus ilmuwan.

    Entrepreneur2 dan ilmuwan2 yang saya kenal, biasanya adalah juga seniman yang handal. Mereka bisa berpikir out of the box. Tidak suka dengan kemapanan dan rutinitas.

    Ada benang merah antara tiga profesi ini.

  3. Agung says:

    @adhiguna: Ya, betul, dan biasanya mereka passionate dengan apa yang mereka kerjakan. Thanks komentarnya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>