big4

Entah kapan terakhir kali saya menonton film India. Yang jelas film “My Name is Khan” telah memuaskan kerinduan saya menyaksikan adegan film timur yang dramatis, lengkap dengan bumbu-bumbu khas India. Musiknya, nyanyiannya, humornya, dramanya, berikut duet akting Shah Rukh Khan dan Kajol. Sudah nonton?

Film ini mengangkat kisah drama manusia yang berlatar belakang peristiwa ‘besar’ semisal film Pearl Harbor. Sebagai bagian dari masyarakat yang terpengaruh sejarah, mereka ‘terpaksa’ merasakan perubahan ‘besar’ dalam hidup. Apalagi jika mereka adalah orang-orang minoritas yang hidup di perantauan dengan identitas yang berbeda dengan mayoritas.

Lelakinya bernama Khan, seorang muslim India yang merantau ke Amerika sejak ibunya wafat. Ia sejak kecil hidup dengan sindrom Asperger (semacam Autis) yang membuatnya tak mampu berinteraksi normal dengan orang lain. Perempuan yang dinikahinya bernama Mandira, seorang perempuan hindu India yang bekerja sebagai penata rambut di salon kecantikan. Ia mempunyai seorang anak hasil pernikahan sebelumnya, bernama Sam. Keduanya menikah dan masyarakat mengenal mereka sebagai keluarga muslim (karena marga ‘Khan’ itu). Saat peristiwa 9/11 mengguncang Amerika, mereka yang baru membangun rumah tangga terpaksa mengalami sentimen negatif dari masyarakat Amerika. Setelah disuguhi kelucuan dan kepolosan Khan serta romantismenya bersama Mandira, layar pun dibuka dan drama sebenarnya dimulai.

Kisah pun bergulir semakin lama semakin dramatis. Peristiwa demi peristiwa, hingga puncaknya Sam meninggal karena tindak kekerasan yang bermula dari sentimen anti Islam. Mandira sedih sekaligus marah pada Khan. Ia kalap dan terang-terangan menyalahkan keislaman suaminya. Pergi dan katakan pada Presiden Amerika, “My Name is Khan, and i am not a terrorist!”. Khan dengan autisnya selalu menilai serius apa yang dikatakan orang lain. Maka bulatlah tekadnya. Ia tidak akan kembali pada Mandira sebelum ia sampaikan sendiri kalimat sakti itu di hadapan orang nomor satu di Amerika itu. Ia tak peduli sesulit dan sejauh apapun perjalanan yang harus ditempuh untuk mewujudkan janjinya. Maka siap-siaplah terharu menyaksikan laki-laki yang begitu sulit menunjukkan emosinya ini melewati bermacam kejadian yang nampak berat tanpa pantang menyerah. Tentu, agar tak kehilangan Mandira sang belahan jiwa. Demikian sedikit bocoran jalan ceritanya. Selebihnya silakan disaksikan sendiri :)

Kesan-kesan saya dari film ini:

  1. Tema yang diangkat cukup serius, yakni menyajikan cerita berlatar sentimen anti Islam pasca kejadian 9/11 di Amerika. Di awal diceritakan pelajaran yang disampaikan oleh ibunda Khan pada anaknya mengenai hubungan muamalah yang harusnya dibangun sebagai sesama manusia, apapun agamanya. Ingat, ini muamalah, bukan syariah. Bahwa perbuatan baik pada sesama manusia dapat dilakukan siapa saja, demikian pula perbuatan buruk. Jangan lantas kita membenci pemeluk agama tertentu karena sekelompok pemeluk agama yang sama telah berbuat yang merugikan orang lain. Dalam peristiwa 9/11, jangan lantas membenci setiap muslim karena katanya pelaku terorisme itu adalah muslim juga. Bagi masyarakat Amerika yang katanya demokratis itu, ini tidak terjadi. Khan dan keluarganya nampak mewakili korban sentimen anti Islam yang ada di benak orang-orang Amerika saat itu. Setelah 9 tahun berlalu, baru film ini muncul untuk menjawab dengan halus sentimen yang salah alamat itu. Tidak tanggung-tanggung, jawaban itu langsung disampaikan pada sang presiden.
  2. Bertemu Presiden Amerika
    Ide seorang muslim India bertemu presiden Amerika ini cukup fenomenal. Sejak awal mayoritas penonton pasti sudah pesimis. Tak mungkin seorang lelaki dengan kendala komunikasi, seorang warga negara biasa, dapat bertemu dengan orang nomor satu di Amerika yang dijaga dengan amat ketat, apalagi dalam suasana berburu teroris. Ide warga negara biasa bertemu presidennya saja sudah absurd. Terlalu banyak hal mustahilnya. Tapi justru inilah daya tarik film. Semakin mustahil sebuah misi, semakin baik sutradara membuat penonton tetap di tempat duduknya.
    Lebih hebatnya lagi, sang sutradara, Karan Johar, pede sekali mempersembahkan seorang warga negara Amerika asal India berada satu panggung dengan presiden Amerika. Wajar saja, begitu banyak orang India yang menempati posisi-posisi penting di Amerika. Industri IT Amerika pun digerakkan mayoritas oleh orang-orang India dan China. Maka tak heran adegan itu terjadi. Apabila bukan orang India atau China yang berada di satu panggung itu, maka adegan akan tampak aneh, bahkan bisa jadi bahan tertawaan.
    Oya, mendekati bagian akhir film kita akan menyaksikan wajah presiden Amerika yang dikejar-kejar Khan ini. Bagian ini seharusnya cukup penting diperhatikan karena penonton pasti akan sangat kritis membandingkan wajah sang aktor yang berperan sebagai presiden dengan presiden aslinya. Saya dan kawan saya sependapat bahwa bagian ini kurang sukses dibanding keseluruhan adegan karena ehm… presidennya gak mirip! :P Lebih baik mereka menggunakan aktor seorang wartawan Tempo asal Indonesia yang jauh lebih mirip dengan sang presiden. Kalau begini, tentu akah lebih heboh karena kini yang berada di panggung Amerika adalah presiden Amerika dari Indonesia dan seorang warga negara India. Mantap!
  3. Identitas Film India
    Film ini kaya akan ke-India-annya. Mulai dari bahasa India campur Inggris sampai lagu “We Shall Overcome” yang dialihbahasakan ke bahasa India. Irama nyanyian India masih bergaung di kepala saya setelah film usai, terutama pada bagian yang romantis-romantis. Ya iya lah, India! Dramatis adalah bumbu yang tak pernah hilang dari film India. Jika sedih dan haru, maka sedih sekali sampai nangis Bombay. Jika gembira, maka gembira sekali bak kehidupan raja ratu di istana. Ramuan adegan-adegan ini membuat emosi penonton diaduk-aduk. Bahkan ibu kawan saya sengaja mencari efek tangisan setelah menonton film India. Dan saya, tentu oke-oke saja menikmati adegan flamboyan dan berlebihan itu karena India memang jagonya. Oh ya, dan jika ada adegan yang mustahil, maka mustahil sekali pula adegan itu terjadi di kehidupan nyata. Setidaknya saya bersyukur tidak ada adegan action saat seorang yang dipukul sedikit saja bisa terpelanting 3 meter jauhnya.

Satu pujian saya lagi untuk film ini adalah kemampuan meramu kisah hidup tokohnya yang ‘bukan siapa-siapa’ dalam melintasi beberapa peristiwa penting dalam sejarah Amerika. Betul juga menurut resensi ini, ada ide besar dari film Forest Gump yang diadopsi di film ini. Dan jika film ini dapat dianggap sebagai pemberi pesan dakwah pada dunia (khususnya masyarakat Amerika), maka sebuah ide yang bagus untuk disampaikan oleh warga negara muslim Amerika sendiri langsung kepada presidennya. Selamat menonton!

Tagged with:
 

6 Responses to Film: My Name is Khan

  1. yusako says:

    we shall over come..we shall over come… we shall over come somedaaay..aayy..ayy… :)

  2. Agung says:

    @yusako: ooh deep in my heart, i do believe that we shall overcome someday. (Jreng jreng!)

  3. fazri says:

    ehhm , bahasa indianya we shall overcome itu apa ?
    kirimmin ke facebook saya ya,

  4. Agung says:

    @fazri: wah saya ndak hafal. Nonton filmnya saja ya, atau Googling.

  5. mary thalia says:

    kalo enga salah HONGE KAAMYAAB
    honge kaamyaab .. honge kaamyaab

  6. Agung says:

    Oh ya, kayanya kata itu sering diulang di film.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>