letter_R Beberapa bulan yang lalu saat singgah hampir sebulan di Malaysia, mau tidak mau kami harus menyesuaikan diri dengan bahasa setempat. Wisata bahasa, demikian istilah kerennya. Rasanya tidak menghargai tuan rumah kalau kita tidak beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan mereka. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu campur Inggris. Maksudnya, kalau upaya jihad menggunakan bahasa Melayu sudah menemui jalan buntu, sila gunakan Inggris, hehe

Belajar bahasa Melayu diawali di bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport), tepatnya di terminal LCCT (Low Cost Carrie Terminal). Di sana kami mulai bertemu istilah-istilah yang menurut bahasa Indonesia, lucu. Bangsa serumpun, tapi bahasa sudah berbeza (Indo: berbeda). Setelah bandara, kami baru bertemu dengan orang-orang Malaysia atau orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Malaysia. Baru lah bahasa pergaulan sebenarnya muncul. Sampai saat ini saya masih belum bisa mengikuti kecepatan ucapan orang Malaysia. Rasanya bicaranya cepat sekali, mirip orang Sumatera. Karena sama-sama terbiasa, mereka tak ada masalah. Bagi tamu seperti kami, itu masalah.

Setelah pasang kuping baik-baik selama waktu kunjungan kami itu, kami mendapati sebuah fakta bahasa Melayu yang menarik. Menarik karena hampir mirip dengan bahasa Perancis, yakni perlakuan dua bahasa itu terhadap huruf “R”. Huruf R tidak dibunyikan dengan tebal, melainkan samar, bahkan bisa sampai tak terdengar. Misalnya jika nama seorang Malaysia adalah “Amir”, maka kita akan mendengar ia dipanggil “Ami”. Pada awalnya kami tak paham kebiasaan ini sehingga kami bingung siapakah gerangan orang bernama “Ami” ini. Begitu pula dengan kata “server” yang mendadak terdengar “seve”. Demikian pula dengan bahasa Perancis yang memaksa pengucapnya seolah-olah pelo (tidak bisa membunyikan huruf ‘R’). Dengar saja bunyi ucapan Paris, bonjour, Francais, parle, dan sebagainya.

Memang perkara bahasa ini suka-suka pembuatnya. Maka mempelajari bahasa baru menuntut toleransi untuk menyesuaikan diri dengan gaya orang lain. Suka tak suka, mau tak mau. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, bukan begitu?

Gambar dari sini.

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>