Setelah mengambil pertimbangan bahwa TOEFL Internet Based Test (iBT) yang ‘aman’ untuk diterima jika hendak melamar beasiswa, maka saya memutuskan untuk mengambil test ini dan mempersiapkan diri lebih kurang 3 bulan lamanya (termasuk menabung biayanya, hehe…). Memang ada universitas (umumnya di Australia) yang meminta IELTS, dan ada pula yang cukup dengan ITP (misalnya Nuffic Neso Indonesia untuk universitas di Belanda), namun mayoritas universitas yang membuka kelas internasional mensyaratkan TOEFL iBT.

Kebanyakan orang yang mendengar tentang TOEFL masih membayangkan skor 500 sekian sebagai batas prasyarat beasiswa tertentu. Skor skala 500-an ini adalah skor dari jenis TOEFL paling awal dan kini sudah mulai ‘punah’, yakni Paper-Based Test (PBT, skor maksimal: 677). Dari namanya kita tahu bahwa soal dibagikan dan dikerjakan di kertas yang disediakan. Test jenis ini masih saya kerjakan saat pertama kali masuk kampus di tahun 2002. Perkembangan berikutnya adalah jenis Computer-Based Test (CBT, maksimal: 300). Jenis ini menggantikan kertas dengan media komputer. Soal ditayangkan dan dijawab oleh peserta dengan aplikasi TOEFL yang terinstall pada komputer. Yang terakhir adalah Internet-based Test (iBT, maksimal: 120) yang saya sebutkan di atas. Saya tidak terlalu yakin perihal teknis penggunaan internetnya; apakah setiap soal yang tampil terlebih dahulu di-request dari server ETS (ETS adalah organisasi penyelenggara TOEFL iBT) dan hasilnya langsung dikirim kembali ke server tersebut, atau karena pendaftarannya saja yang wajib lewat internet, hehehe…

Soal pendaftaran ini peserta tidak bisa lagi mendaftar secara lokal di negara tempat mereka tinggal (misalnya di perguruan tinggi tempat tes akan dilaksanakan). Semua peserta yang hendak mengambil TOEFL iBT dimanapun mereka berada harus mendaftarkan diri dan membayar via kartu kredit di situs ETS. Agak merepotkan bagi yang tidak punya kartu kredit (pinjam saja lah…). Tata cara pendaftaran, persiapan, pelaksanaan tes, dan beragam informasi seputar tes dapat dibaca dan ditonton (ada videonya juga…) di situs ETS. Pastikan kita membaca seluruh informasi resmi (ya, informasi apapun!) yang disediakan di situs ini baik-baik agar kita semakin siap menghadapi dan ‘menghajar’ (istilah zaman SPMB, hehe…) soal-soal TOEFL dengan jurus-jurus maut. Ciattt!!!

Dengan biaya hampir 1,5 juta rupiah, layak kiranya kita mempersiapkan diri dengan matang sebelum memutuskan untuk mengambil TOEFL iBT. Dibandingkan dengan ITP yang berbiaya sekitar 300 ribu rupiah, iBT memang wajar berbiaya lebih mahal karena jelas berlaku internasional (walau waktu berlakunya sama dengan ITP: 2 tahun), ditambah sarana komputer dan internet yang harus tersedia di tempat tes, belum biaya untuk menggaji para pengawas dan pengiriman hasil ujian via pos, yang di amplop hasil tes saya tercantum asal pengiriman dari Jerman (dengan kantor pusat ETS di Princeton, New Jersey). Akibat biaya tes yang tidak murah tersebut, maka saya mengurungkan niat untuk mengambil persiapan TOEFL iBT yang jamak diadakan TBI atau UPT Bahasa ITB. Bukan apa-apa, biaya kursusnya hampir sama dengan biaya tesnya! Hahaha… ya iyalah, daripada ikut kursus lebih baik belajar mandiri lalu kalau terjadi kasus terburuk bila harus mengambil tes lagi karena nilai tidak cukup, uangnya bisa digunakan untuk tes berikutnya itu.

Lagipula, saya rasa sulit menambah waktu untuk jam kursus ini (sok sibuk!), apalagi misalnya mengambil les yang super intensif TOEFL sebulan penuh 4 hari seminggu (ampun lah awak…). Bagi saya, lebih baik kalau mau kursus bahasa, pilih bahasa lain selain Inggris. Lha, dari SD sampai kuliah (plus les dan ekstrakurikuler) kan sudah ketemu bahasa Inggris melulu, masa sudah lulus ambil bahasa Inggris lagi?? Tapi jangan lupa bahwa belajar mandiri menuntut disiplin dan niat untuk mengalokasikan waktu mengerjakan latihan-latihan soal. Untuk yang ini saya harus bersikap rasional bahwa tidak mungkin saya mengambil waktu tes yang hanya memberi saya satu bulan untuk berlatih. Karena saya berlatih setelah jam kerja (dan kadang di sela-sela jam kerja, hihihi…)  dan di luar aktivitas lainnya, maka saya perhitungkan setidaknya saya harus berlatih 3 bulan sebelum tes. Perhitungan waktu ini saya peroleh dari buku Barron’s TOEFL iBT yang menjadi referensi utama saya. Rencana awalnya bahwa selama waktu tersebut tiada hari tanpa berlatih, sesedikit apapun soal yang dikerjakan, kosakata baru yang ditambah, atau speaking yang dilatih. Pada kenyataannya ada hari-hari tanpa latihan jika pikiran terasa jenuh atau ketiduran di depan soal TOEFL yang menaklukkan mata saya, hehehe…

Berikut beberapa sumber media belajar mandiri yang dapat kita gunakan:

Barron’s TOEFL iBT

Buku persiapan TOEFL iBT sebenarnya tidak hanya bermerk Barron. Buku ini saya peroleh dari ‘bekas’ kakak saya yang pernah mengambil TOEFL sekian tahun lalu. Halamannya mantap karena bisa dijadikan bantal mini atau ganjel pintu. Makin banyak contoh soal, makin banyak latihan yang bisa saya kerjakan. Selain itu, buku itu dilengkapi CD interaktif yang berisi simulasi pelaksanaan TOEFL iBT yang dilengkapi waktu. Hal ini sangat baik menyiapkan saya menghadapi tampilan layar tes sekaligus menghitung waktu pengerjaan soal. Namun harta karun paling berharga di dalamnya tak lain dan tak bukan adalah saran, tips dan trik, serta motivasi yang disusun oleh penulis yang berpengalaman di bidang per-tes-an ini.

Halaman-halaman awalnya membimbing kita untuk merencanakan rencana belajar mandiri yang cocok sekali untuk orang-orang sibuk macam kita ini (uhuk..uhuk…) Dalam rencana ini sang penulis memilihkan kita kapita selekta bagian-bagian soal yang prioritas untuk dikerjakan dan dipelajari jika kita hanya punya waktu persiapan minimal. Walaupun pada kenyataannya, saya tak tahan untuk ‘melahap’ soal-soal lainnya mengingat masih ada sisa waktu untuk mengerjakan semuanya (ampun, Bang… ampun…) Hampir semua soal saya kerjakan dari aplikasi interaktif di CD (hei, aplikasinya dapat dijalankan di Mac juga!) karena saya sering mengalami demotivasi setiap kali melihat banyaknya halaman bantal mini itu. Sayang, kerusakan pada cakram CD membuat tidak semua latihan dapat saya kerjakan.

English News

English Podcast

Others

Film, karya fiksi, lagu, buku teks, dan sebagainya. Belajar bahasa lewat hobi dan minat kita akan terasa jauh lebih mudah, bukan?

Pada hari Minggu, 30 Januari 2011 saya mengerjakan tes TOEFL iBT di Laboratorium Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan menerima hasilnya via pos sebulan kemudian (hasil dapat dilihat secara online 2 minggu setelah tes). Dari tiga bagian soal, Listening adalah bagian yang paling saya kuasai, disusul dengan Reading, dan yang terakhir, Speaking. Sederhana saja penyebabnya. Reading lama-lama membuat saya pusing dengan teksnya yang panjang-panjang dengan pertanyaan yang seringkali membutuhkan pengulangan pembacaan teks referensinya, belum lagi jika jawabannya implisit, bukan eksplisit. Dengan Listening kita cukup mendengarkan, memahami dan mencatat inti dan pokok-pokok pikirannya, serta yang paling menyenangkan adalah pertanyaannya tidak mungkin terlalu kompleks karena soal Listening pasti tidak sepanjang soal Reading.

Bagian Speaking berada di urutan terakhir karena akibat kurang latihan, pembatasan waktu untuk perekaman suara membuat grogi. Waktu untuk berpikir dan berbicara terasa begitu singkat sehingga kalimat belum selesai, waktu sudah habis. Hal ini bisa diatasi dengan banyak berlatih mengungkapkan pikiran dalam kalimat Inggris yang efektif. Rasanya tingkat tertinggi berbahasa ada di tingkat ini. Maklum, tak mungkin berbicara dengan kosakata dan kalimat yang efektif tanpa terlebih dahulu sering membaca dan cermat mendengarkan. Jadi, benar adanya guru saya di Lembaga Indonesia Amerika (LIA) dahulu pernah berpetuah, “Learning a language is to speak the language”.

Last but not least, tes semacam TOEFL ini kan sebenarnya ‘sekedar’ mencapai nilai yang ‘cukup’ di atas persyaratan yang dibutuhkan.  Bergantung pada kebutuhan, ada yang mensyaratkan pendidikan internasional dengan batas skor 80, 90, sampai 100 lebih. Bahkan ada persyaratan yang lebih detail seperti nilai skor untuk Speaking tidak boleh kurang dari nilai tertentu. Skor tinggi dibutuhkan untuk kuliah yang erat berhubungan dengan bahasa seperti sastra Inggris (ya eyalah!) atau hukum (CMIIW). Tapi saat mengerjakan soal, lupakan semua batas nilai ini dan kerjakan saja dengan rileks. Nothing to loose. Walaupun terdengar pahit, tapi anggap saja bahwa kalau skornya tidak mencukupi maka kita akan mengambil tes berikutnya dengan mudah, senang, dan tanpa beban. Peduli amat dengan biayanya, itu mah gimana nanti. Justru dengan semakin rileks, semakin lancar kita mengerjakan soal. Dan pada akhirnya, skenario terburuk mengambil tes lagi itu tidak perlu terjadi.

Selamat mengambil TOEFL iBT!

Tagged with:
 

23 Responses to TOEFL iBT di Bandung

  1. yusako says:

    Aih, Agung… masih sempet nge-iBT.. heheh..gimana skornya? lanjut apply nya dun.. ntahvava deh, kalau liat temen semangat gini, ak jadi mrasa tertinggal jauhh… huhuhuh… bimbang dan dilema.. quit or not…quit or not. hahaha..

  2. Agung says:

    @yusako: Alhamdulillah, cukup :) Jangan banyak merasa-merasa, rawan gangguan setan (jadi ragu-ragu), heheh. Istikharah aja, kalo lanjut ya… lanjutin… :)

  3. yusako says:

    ah, Gung.. angka cukup nya berapa???? 120 mentok? huhu.. kmrn di kelas ngomongin iBT, katanya mual2 ngerjain nya,,, lo mual2 ga??? :) )

  4. Agung says:

    @yusako: 120 mah bener semua, awak dapetnya alhamdulillah 105. Mual2? ah enggak kok, cuma adrenalin aja sedikit meningkat, maklum diburu waktu, hehe. Yang mikirnya rada keras mah Tes Potensi Akademik (TPA). Itu iya lumayan butuh stamina, hehehe…

  5. yoe says:

    huhuhu..itu sih hampir mentoook… :(

  6. Agung says:

    @yoe: Iya, banyakin latihan aja, selebihnya la haula wa la quwwata illa billah :)

  7. pai says:

    wooo, mas, pnjenengan arep ngelanjutke studi ke mana mas?? btw biayane pira to mas nek iBT kui?

  8. Agung says:

    @Pai: biayanya ada di tulisan, sekitar 1,5juta.

  9. arry says:

    pernah denger klub belajar aksen bahasa inggris hanya dengan 2×1 jam per minggu Gung? disitu kita cuma cukup denger pengajar (guide disebutnya) ngomong, lalu jawab pertanyaan yang diajukan.. dalam 100 jam dijamin bisa menguasai ngomong dengan minimal empat aksen bahasa inggris (british,aussie,newyork, california)

  10. Agung says:

    @Arry: belum pernah denger, Ry, dimanakah itu? Penuturnya berarti bisa 4 aksen itu? Native? Apa yg pernah tinggal di luar?

  11. arry says:

    ada di setiabudi,iya penuturnya bisa empat aksen tapi bukan native. Beliau mempelajari aksen plus metode pembelajarannya selama 20 tahun.. pastinya udah pernah tinggal di luar. Prinsip program belajarnya diibaratkan seseorang yang ga tau bahasa inggris, tiba-tiba harus tinggal di negara berbahasa inggris selama 1 bulan. Jadi mau ga mau kita mesti ngomong bahasa inggris, atau pake bahasa tubuh untuk komunikasi dengan orang lain. Oya mereka punya program trial gratis buat pengenalan metode belajarnya.

  12. arry says:

    eh ya kalo agung tertarik, trialnya bisa ditempat yang kita tentukan

  13. Agung says:

    @arry: wah kayanya Arry udah mendalami info2nya, hehehe… Menarik juga tuh, nanti lah kalo ada kesempatan boleh dicoba. Thx infonya, ry :)

  14. abdul luky says:

    hi…
    meet you again, Pal….

    hehe…..

    assalaamualaikum

    ini page ane dapet dari google…
    ente yg muncul…

    mantabbbb

    gak perlu jauh2 ane kalo mo nanya2….. :D

  15. Agung says:

    @luky insinyur: wa’alaikuksalam bang, insyaallah percaya dah ente bisa mantabs hasilnya, ky! :) *Another plan, nih? ;)

  16. Dian says:

    bang, nanya nih,,, jadi kita daftarnya lewat situs ya, trus nanti mereka menginformasi tempat tes nya? kebetulan pas abang kmrn tes itu tempatnya di upi begitu?
    mohon info lebih jelas…

    trus untuk tempat les yg menyediakan tes iBT itu gimana tuh? ada tempat les di bdg menawarkannya, tapi mereka cuma minta biaya 400rb++… apa itu sesuai sama yg harganya 1,5 yg daftarnya lewat internet….

  17. Agung says:

    @Dian:yes betul banget, ada pilihannya waktu kita daftar via web itu. Udah ada jadwal dan tempatnya. Tinggal pilih. Untuk waktu yg saya bisa kemaren ya tempatnya di UPI.
    Ya bisa aja kalau ada yg buka kursus harga segitu, selama materi dan latihannya ngebantu persiapan iBT ya. Good luck! :)

  18. Dwi says:

    Whoaaa, Selamat Gung…sekali tes bisa dapat skor tinggi…

    Aku juga pencinta IBT (tes 2 kali tapi belum memenuhi target juga) mungkin aku masih suka panikan and deg-degan yang berlebihan,walaupun sdh banyak latihan soal-soal, malah aku sempet ambil privat IBT. tapi ya tetep ajah… makanya yang ada malah grogi ngadepin soal-soal….

    Sedikit banyak tips mu membantu lho Gung….hehehehe, terima kasih yaaa…

  19. Agung says:

    @Dwi: Whoaa, thanks ya :D Kabarin kalo udah berjaya IBTnya. Bismillah, semoga sukses!

  20. vidya says:

    Assalaamualaikum wr wb. Numpang nanya, yaa.. Kiat2 adek biar listening bagus gimana ya?? Kok berasa mendingan grammar dibanding listening yaa… he he. Makasih:)

  21. Agung says:

    @vidya: Wa’alaikumsalamwrb kak :) Yaa intinya sering2 dipakai aja kupingnya buat dengerin bahasa inggris. Kalau suka nonton film ya subtitlenya dihilangin, berusaha ngerti langsung dari dialognya. Kalau suka musik ya belajar dari liriknya sambil nyanyiin lagunya. Semoga membantu :)

  22. zia says:

    saya mau menanyakan kalo toefl ibt tuh dibandung di daerah mana ya?

  23. Agung says:

    @zia: Zia, sori nanya dulu nih, tulisan di atas udah dibaca baik-baik, belum? Kalo udah, pasti tahu deh, ada di mana TOEFL IBT di Bandung, hehe :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>