How’s life? Lama waktu berlalu sejak posting-an terakhir saya. Banyak yang terjadi beberapa bulan ini, semoga bisa dicicil ceritanya. Maklum, sok sibuk. Saya mulai saja dari yang masih segar di ingatan, OK?

Saya diperkenalkan pada tenis pertama kali waktu SMP. Ayah saya yang saat itu hobi bermain tenis, membawa saya berlatih tenis pada pelatih di Lapangan Taman Maluku, Bandung. Di sini ada sekolah tenis bernama FIKS (Fikiran Inti Keunggulan Sport). Oya, jangan tanya saya alasan kepanjangan singkatan FIKS yang seperti itu, hehe… Sekolah ini yang melahirkan salah satu petenis puteri nasional, Angelique Wijaya. Saya tidak bergabung di FIKS, hanya berlatih di lapangannya saja.

Singkat cerita, saya berlatih menggunakan raket tenis milik ayah. Belakangan saya tahu bahwa raket Wilson Hammer milik beliau itu didesain untuk digunakan oleh orang tua dengan gaya swing yang pendek. Sebenarnya tidak cocok digunakan oleh remaja tanggung yang baru belajar. Tapi saat itu saya tidak terpikir apapun, demikian juga ayah saya. Demikian pula sekian banyak pemula dalam tenis, bahkan sampai yang sudah memainkannya sekian lama, tidak memahami faktor raket dan senar sangat berpengaruh dalam olahraga ini. Yang saya paham saat itu, belajar saja cara mengayunkan raket untuk memukul bola dengan tipe pukulan groundstroke, baik forehand maupun backhand. Begitu selama berbulan-bulan, diselingi pukulan volley dan serve.

Pelatih seingat saya tidak pernah menyinggung perihal raket. Memang panjang ceritanya dan dibutuhkan eksperimen untuk menemukan kombinasi raket dan senar yang tepat untuk gaya permainan kita. Oleh karena itu, biarkan saja pemain menggunakan raket apapun yang dimiliki untuk datang dan berlatih pukulan. Sudah syukur pemain bisa rajin datang seminggu sekali, hehehe…

Sekian lama berlalu sejak terakhir kali saya bermain di Taman Maluku itu. Sekitar 6 bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bermain tenis. Tapi dengan tekad, kali ini harus lebih serius.

Wilson Hyper Hammer 5.3 Oversize & Senar-Entah-Apa

Oversize Specs
Head Size:
110 sq. in. / 710 sq. cm.
Length: 27.5 inches / 70 cm
Strung Weight: 9oz / 255g
Balance: 8 pts Head Heavy
Swingweight: 301
Stiffness: 70
Beam Width: 28 mm/25 mm Dual Taper Beam
Composition: 15% Hyper Carbon / 85% Graphite
Power Level: Medium
Swing Speed: Moderate-Fast
Grip Type: Cushion Aire Conform Grip
String Pattern:
16 Mains / 20 Crosses
Mains skip: 7T,9T,7H,9H
One Piece
No shared holes
String Tension: 53-63 pounds

Best suited to 4.0-5.0 level players with medium-full to full swings, the Hammer 5.3 Stretch racquet offers a nice combination of tempered power with control-oriented features. Doubles players may favor the Oversize because of the the power provided on serve with plenty of pop and forgiveness at net.
Sumber: Tennis Warehouse

Ini adalah (tetap) raket milik ayah saya. Beliau sudah agak lama tidak memainkan tenis juga. Jadi, raketnya bisa saya pakai. Setelah mencoba bermain menggunakannya setelah lama hiatus tenis, ternyata kepercayaan diri saya jeblok. Saat bermain dengan rekan kantor yang sama sekali baru belajar tenis, saya tidak jauh beda. Tidaaaak! Bola keluar, menyangkut di net, sampai memukul ala moonballer itu sudah biasa.

Selain karena masih kaku, saya merasa tipe raket ini tidak kunjung cocok dengan gaya anak muda yang masih ingin mengayun raket dengan full swing dan full power. Saya merasa power nya terlalu besar sehingga membuat bola lebih sering out, dan headsize nya yang terlalu besar sehingga kontrolnya kurang. Senarnya pun belakangan saya tahu sudah mati alias tidak elastis lagi. Pantesan.

Kesimpulan: Raket ini (masih) cocok untuk ayah saya, bukan saya. Saya harus mencari raket yang memang cocok untuk saya. Maka petualangan pun dimulai.

Wilson Fusion XL, Wilson KW, Babolat Aeropro KW & Senar-Entah-Apa

Wilson Fusion XL (gambar: kiri) saya beli saat sebuah diskon memotong harga raket ini sampai setengahnya. Menarik nih, pikir saya. Bisa beli Wilson ori pertama kalinya, dan nampaknya cocok buat saya. Beratnya memang masih ringan karena bahannya campuran aluminium. Saat beli sudah dilengkapi dengan senar dengan logo Wilson. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan spesifikasinya yang lain, yang penting dapat Wilson asli berharga relatif murah.

Ternyata oh ternyata, raket ini hanya mampu mengantar saya sampai level pemula. Saat saya dan kawan saya sudah mulai bermain dengan pukulan yang kencang, raket sudah mulai terasa banyak berguncang saat menerima pukulan. Puncaknya, satu pukulan keras yang datang membuat raket ini sedikit bengkok. Pantas saja, bahannya yang berupa campuran logam dengan ketebalan sedang membuat raket ini rawan mengalami perubahan bentuk. Akhirnya, raket ini terpaksa dijual. Alhamdulillah, masih ada yang mau beli, hehehe…

Wilson KW (gambar: tengah) ini saya beli di Borma. Konyol memang, karena harganya yang miring dan tempat penjualannya yang di toserba tidak membuat saya curiga dengan keasliannya. Berbekal logo dan tulisan Wilson yang mirip sekali dengan aslinya, mereka berhasil menjual Wilson KW pada saya. Sampai suatu hari, saya menyadari bahwa Wilson tidak mengeluarkan model raket semacam itu dan di bodi raket terdapat salah ketik yang fatal, yakni “lentgh” yang seharusnya “length”. Ouch. Maka setelah digunakan bermain beberapa kali, raket ini saya jual juga. Alhamdulillah ada juga yang beli, hehehe…

Pengalaman membeli Wilson KW tidak membuat saya kapok mencari raket dengan harga miring. Bertemulah saya dengan Babolat Aeropro KW (gambar: kanan). Harganya yang miring dan nama Babolat yang katanya digunakan oleh pemain profesional dunia membuat saya kepincut. Awalnya saya sudah curiga. Sudah googling dan tidak menemukan tipe yang dijual tersebut. Tapi saya menenangkan diri sambil berbaik sangka bahwa bisa saja ada tipe-tipe tertentu yang dikeluarkan lokal untuk negara tertentu atau apa lah. Maklum, lagi senang-senangnya tenis, jadi gelap mata. Setelah membelinya, kecurigaan saya terbukti seratus persen. Seharusnya sudah terlihat dari tampilan cat di bodinya yang tidak rapi. Apa boleh buat, setelah digunakan beberapa minggu, Babolat KW ini saya jual juga. Eh, ada yang beli juga. Alhamdulillah, hehehe…

Kesimpulan: Ada harga, ada rupa. Selain itu, raket-raket KW berisiko saat dilakukan penyenaran. Bahannya tidak menjamin bahwa raket tersebut dapat disenar sesuai tegangan yang disebutkan. Misalnya, di bodinya tertulis tegangan yang di rekomendasikan 55-60 lbs, padahal sebenarnya raket tersebut tidak kuat ditarik sekencang itu. Akibatnya, bodi raket retak atau patah. Selain itu, raket KW berisiko menyebabkan tennis elbow karena konstruksi bahannya mungkin tidak dipertimbangkan sebaik yang asli.

Pada kasus Wilson Fusion, memang raket berbahan aluminium itu lebih cocok untuk digunakan pada awal-awal belajar.


Bersambung ke (2) dan (3)…

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>