(Tulisan sebelumnya…)

Babolat Reflex 105 & Senar Babolat Synthetic Gut (Lupa tipenya)

Preferensi saya masih Babolat. Maklum, efek ingin seperti petenis profesional ATP tadi. Dengan berat 270 gram, raket ini masih terhitung ringan. Dengan headsize nya yang oversize (105 sq.in.), raket ini menyediakan sweetspot yang relatif besar dan potensi untuk menghasilkan pukulan spin.

Pada tahap ini, saya sudah pede dengan raketnya. Tapi belum dengan senarnya. Saya masih belum paham senar apa yang cocok dan berapa tarikan yang pas. Saat itu saya gunakan senar Babolat Synthetic Gut (lupa tipenya) dengan tarikan 53 lbs. Belakangan baru saya tahu mungkin kombinasi itu yang menyebabkan bola sering out. Tarikan terlalu rendah untuk raket yang punya power.

Cukup lama saya gunakan raket ini, sampai saya merasa bahwa power yang dihasilkan terlalu besar. Begitu sering bola out, sehingga kalau main, pukulannya cari aman. Di sisi lain, raket ini enak untuk backhand. Namun dengan berat hati, raket ini saya lepas pada orang lain yang mungkin lebih pas menggunakannya. Bye bye, my first Babolat.

Babolat Pure Control Team & Senar Toalson Thermaxe 18 Spin

Raket ini ditawarkan oleh pelatih pada suatu sesi latihan. Konon pemiliknya seorang bapak-bapak. Aneh juga, biasanya bapak-bapak pakai Wilson. Kalau Babolat identik dengan tenis prestasi atau anak-anak muda yang nafsu (dan tenaga) memukul bolanya besar, hehehe…

Babolat Pure Control Team ini adalah generasi awal dari raket-raket Babolat yang banyak digunakan sekarang. Saat mencobanya pertama kali, saya kaget dengan pukulan-pukulan yang dihasilkanya. Rasanya begitu mudah membuat pukulan bagus dengan net-clearance yang rendah, alias tipis di atas net. Wow. Dengan beratnya yang mencapai 320 gram dan headsizenya yang midplus (97 sq. in.), saya merasa menggunakan raket atlet (player’s racket). Kepercayaan diri melambung bukan main!

Cukup lama pula raket ini saya suka sampai saya menemukan ‘kelemahannya’. Kelemahan yang saya maksud adalah beratnya. Saya baru menyadari setelah beberapa lama bahwa berat raket di atas 300 gram tidak cocok buat saya. Saya akan lebih cepat lelah bermain menggunakan raket seberat itu. Plus sulit digunakan untuk pukulan-pukulan volley yang menuntut refleks cepat. Walaupun raket berat berarti tambahan power dan kestabilan, tapi tetap it’s just too heavy for me. Andai saja beratnya lebih ringan, tentu tidak masalah.

Saya sudah mulai berani mencoba eksperimen senar, khususnya untuk spin. Maklum, pemula ingin cepat jago bicaranya sudah pukulan spin. Senar Toalson Thermaxe Spin 18 yang disarankan mas-mas di toko olahraga saya pakai juga. Lumayan bisa menghasilkan pukulan-pukulan spin yang merepotkan lawan. Tapi nampaknya tarikan 54 lbs masih terasa kurang kencang, akibatnya tak jarang bola melambung keluar garis lapangan.

Entah karena kombinasi raket dan senar yang kurang pas ini, kontrol bola pun rendah. Jikalau saja raket ini bertemu tangan dan senar yang tepat, tentu hasilnya adalah pukulan-pukulan yang bagus dan mematikan. Dor! dor! dor!


Bersambung ke (3)…

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>