(Tulisan sebelumnya…)

Ebox Nano V88 & Senar Ebox, Toalson Thermaxe 123, Toalson Thermaxe 18 Spin

Raket berikutnya, Ebox Nano V88 ini akan selalu terkenang sebagai raket yang mengajari saya cara menghasilkan pukulan-pukulan spin. Dengan beratnya yang 270 gram dengan sekian poin head light, mudah sekali menghasilkan pukulan-pukulan topspin. Ternyata eh ternyata merk Ebox ini adalah merk official yang digunakan Pelti. Jadi, walaupun saya tidak menemukan situsnya di internet untuk mengecek keaslian tipe-tipenya, cap Pelti sudah cukup meyakinkan saya bahwa merk ini juga tidak kalah kualitasnya. Apalagi Ebox terkenal banyak bonusnya. Beli raket langsung dapat senar dan tas tenis. Dahulu teman saya cerita bahkan sampai dapat sepatu, hehehe…

Cukup lama pula Ebox ini menemani saya, hingga saya menemukan ‘kelemahannya’. Akibat bobot dan konstruksinya yang ringan, raket ini mengorbankan kestabilan. Beberapa kali raket berputar saat menghadapi bola-bola kencang, sehingga saat seharusnya saya dapat menghasilkan dropshot, eh justru bolanya jatuh di lapangan saya sendiri. Selain kestabilan, power nya pun saya rasa kurang. Saya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mengembalikan pukulan, apalagi untuk pukulan backhand. Lama-lama capek juga.

Senar pertama adalah senar gratisan dari Ebox. Senarnya standar, cocok di awal, lalu lama-lama kehilangan tegangan dan mulai mudah belok-belok setelah digunakan untuk memukul.

Senar kedua adalah Toalson Thermaxe 123. Senar ini berbahan polyester, yakni bahan yang terkenal lama putus, kaku, dan kurang elastis. Senar tipe ini banyak digunakan pemain profesional. Lagi-lagi, saya gelap mata mengikuti standar mereka. Senar yang seharusnya ditarik sebesar 51-52 lbs saja saya pasang di 55 lbs. Akibatnya raket Ebox ini terasa seperti papan! Keras bukan main. Untuk memukul forehand saya harus mengerahkan seluruh tenaga. Sampai loncat-loncat. Itupun kemudian terasa agak sakit di tangan karena ‘keras’ rasanya. Senar ini memecahkan rekor karena hanya bertahan sehari, hehehe…

Senar terakhir yang masih terpasang adalah Toalson Thermaxe 18 spin dengan tarikan 55 lbs. Entah bagaimana rasanya, karena belum pernah saya coba. Raket ini masih saya simpan sebagai cadangan.

Wilson nTour Two nCode & Senar Toalson Cyberspin 135, Toalson Ultrasoft, PSGD 17

nTour Two 95 Specs
Head Size:
95 sq. in. / 613 sq. cm.
Length: 27.25 inches / 69 cm
Strung Weight: 10.6oz / 301g
Balance: 1pts Head Light
Swingweight: 320
Stiffness: 62
Beam Width: 22 mm Straight Beam
Composition: 25% nCoded Hyper Carbon / 75% nCoded Graphite
Power Level: Low-Medium
Swing Speed: Fast
Grip Type: True Grip
String Pattern:
16 Mains / 20 Crosses
Mains skip: 7T,9T,7H,9H
One Piece
No shared holes
String Tension: 50-60 pounds

Thanks to its even balanced design, the nTour Two swings with good mass from the baseline, making it a great choice for a player looking for a solid playing racquet that’s still easy to get around. Spin and pace come easily on serve and we found a predictable response both on flat and spin serves. Stronger intermediate to advanced level players will find this one has a lot to offer from all areas of the court. Recommended for players at the 4.0+ level.

Sumber: Tennis Warehouse

Akhirnya setelah riset berbagai raket, jatuhlah pilihan paling serius saya ke raket Wilson nTour Two nCode ini. Karakteristik berat (288 gram) dengan headsize 95 sq.in. ini membuat saya jatuh hati. Konstruksinya yang stabil dengan tambahan wing pada head arah jam 3 dan 9 untuk menghindari raket berputar saat menerima bola cepat. Tak lupa warnanya sesuai warna favorit saya, cokelat! Cokelat keemasan, lebih tepatnya. Warna ini membuat raket nampak eksklusif dan berkelas, bukan? Jadi, teknologi bertemu dengan estetika. Mantap!

Begitu banyak respon positif yang ditunjukkan orang untuk raket all-round players ini. Maka dengan bekal riset itu saya pun tak ragu menggunakannya. Hasilnya? Sangat memuaskan! Pukulan groundstroke, slice, volley dan serve semakin membaik. Lebih hebatnya lagi, dengan teknologi foam pada konstruksinya, getaran pukulan dapat diredam sehingga tidak berpotensi menyebabkan tennis elbow.

Raket ini memang bukan keluaran terbaru dari Wilson. Raket ini penyempurnaan (versi terakhir) dari Wilson nTour nCode sebelum Wilson K-Factor diluncurkan. Versi setelah K-Factor adalah Wilson BLX yang digunakan Federer sekarang ini. Sejarahnya keluar pertama kali di tahun 2006/2007 dan konon pernah digunakan oleh pemain WTA Justine Henin (Belgia) dan Lindsay Davenport (USA).

Senar pertama yang saya gunakan di raket ini adalah Toalson Cyberspin 135 dengan tarikan 55 lbs. Saat menggunakannya saya bingung karena tiba-tiba raket terasa lebih berat dari seharusnya. Belakangan saya tahu bahwa senar yang saya gunakan ini mempunyai diameter yang lebar (Gauge: 15 atau 16). Diameter yang lebar mengakibatkan volume (dan berat) yang lebih besar. Walaupun judulnya cyberspin, senar ini tidak membantu saya membuat pukulan spin akibat kendala berat tadi. Tenaga yang saya hasilkan pun rendah karena kombinasi senar tebal, tarikan sedang, dan headsize yang kecil tidak sesuai dengan tangan saya. Saya harus loncat-loncat untuk menghasilkan pukulan yang cepat.

Senar kedua adalah Toalson Ultrasoft (Gauge: 16) dengan tarikan 54 lbs. Senar ini empuk dan powernya kelebihan sedikit. Saya menghasilan serve-server cepat, namun tidak pukulan-pukulan spin. Karakter senar ini cukup elastis namun karena ukuran diameternya yang agak besar, senar tidak punya kemampuan untuk mencengkeram bola. Ini dibutuhkan untuk menghasilkan kontrol dan pukulan spin. Selain itu, karena tarikan yang relatif tidak tinggi, senar lari kemana-mana saat melakukan pukulan-pukulan spin.

Senar terakhir dan masih digunakan dengan cukup puas adalah Prince Synthetic Gut with Duraflex (PSGD) (Gauge: 17) dengan tarikan 56 lbs. Awalnya saya sempat menganggap remeh senar ini karena senar ini merupakan salah satu senar dengan harga ekonomis yang paling laku sedunia. Eh, ternyata ujung-ujungnya saya pakai juga. Senar ini sejauh ini menjawab kebutuhan saya untuk menghasilkan kontrol, spin, power, dan kenyamanan. PSGD juga baik menahan tarikan sehingga senar tidak lari kemana-mana. Dengan warnanya yang kuning keemasan, senar ini nampak harmonis dengan Wilson nTour Two yang cokelat keemasan tadi. Klop sudah.

Fiuh… setelah beberapa kali berganti raket sambil mengembangkan permainan, dapat lah akhirnya dengan raket dan senar yang (sejauh ini) paling pas. Saya berharap raket ini cukup bisa bertahan hingga 2-3 tahun ke depan. Kalau senar, mungkin saya akan mencoba yang lain jika ternyata PSGD ini mudah putus atau ada senar lain yang lebih baik (selama harganya tetap ekonomis,hehehe…).

Sekian reportase sejarah raket dan senar tenis saya. Saatnya kembali ke lapangan :)


Tamat.

Tagged with:
 

4 Responses to Mencari Raket dan Senar Tenis yang Pas (3)

  1. teguh says:

    Ms Agung saya mo bertanya, apakah benar tarikan senar manual dengan mesin berbeda ? Karena sy pernah baca klo tarikan senar dengan menggunakan mesin 5lbs…jadi semisal kita pasang senar dengan tarikan 58lbs menggunakan manual, itu sama saja dengan 53lbs menggunakan mesin..mohon pencerahannya..makasih

  2. maman says:

    Artikel yg bagus. Sangat membantu untuk newbie tennis sperti saya. Cuman kalo bisa sih mencantumkan harga2 raketnya waktu beli. Karena saya bener2 buta dengan harga raket. Makasih

  3. Agung says:

    @teguh: memang ada yang bilang begitu, kalau manual tarikannya lebih rendah daripada mesin. Saya belum pernah coba tarikan manual, biar aman pakai yang mesin saja.

    @maman: harga raket sih macam-macam ya, yang penting usahain beli yang ori, bukan yang KW. Selain material dan balance raketnya bener, sama biar kalo disenar, kepala raket nggak retak/patah.

  4. Arif says:

    Mau tanya bos, yg prince synthetic gut with duraflex yg bungkusnya hitam atau yg putih ato yg hijau ya… Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>