Konsentrasi

Pada sebuah referensi saya pernah membaca bahwa latar belakang waktu perkuliahan yang 1 jam = 50 menit itu adalah berdasarkan hasil riset yang menyatakan bahwa kemampuan otak untuk tetap berkonsentrasi di kelas sebelum membutuhkan waktu istirahat adalah 50 menit. Lama waktu ini tentu hasil rata-rata, itu pun mungkin untuk mahasiswa dengan tingkat intelektual tertentu, dalam waktu tertentu (misal, pagi lebih optimal untuk belajar dibandingkan setelah makan siang), sampai seberapa menarik dosen menyajikan kuliahnya. Singkatnya, katakan saja dalam keadaan normal, mahasiswa (dan dosen) di kelas dalam satu jam sesi perkuliahan setidaknya harus berkonsentrasi pada kuliah selama 50 menit tersebut. Setelah lebih dari 50 menit, dibutuhkan jeda istirahat 5-10 menit untuk menyegarkan otak agar siap kembali.

Ok, itu dalam keadaan normal. Bagaimana jika abnormal? Bagaimana jika ternyata sampel mahasiswa yang diuji dengan ketahanan 50 menit itu bukan mahasiswa dari kelas saya? Bagaimana jika ada mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti kuliah hanya mampu bertahan untuk tetap fokus dalam waktu 10 menit saja?

Sepuluh menit fokus, 10 menit ngobrol.
Sepuluh menit memperhatikan dosen, 10 menit memperhatikan laptop (baca: facebook).
Sepuluh menit melihat papan tulis, 10 menit melihat meja (baca: tidur)

Tidak semua mahasiswa kuat untuk diajak ‘berlari’. Tidak semua tahan untuk menanggung 50 menit itu. Alhasil, bak dirigen orkestra yang memainkan komposisi-komposisi lagu, dosen harus merasakan saat-saat yang tepat untuk memainkan tempo yang rapat, atau nada-nada tinggi yang menyundul-nyundul kesadaran. Jika perlu, sisipkan tanda diam tiga perempat atau penuh untuk menyisipkan pertanyaan yang menggelitik, menunggu pikiran-pikiran berkecamuk dalam hening. Tanya. Jawab. Aksi. Reaksi. Pancing. Respon.

Jumlah mereka yang kuat bertahan 50 menit termasuk minoritas. Selebihnya mereka harus introspeksi diri. Entah karena malamnya kurang tidur, karena sedang ada masalah, karena kurang gizi (eh, bisa lho!), karena tidak terbiasa belajar, karena lebih senang main, karena kurang motivasi, karena lebih suka belajar sambil bergerak, dan karena-karena yang lain. Salahkah mereka?

Atau sebenarnya saya yang harus mengaca. Jangan-jangan sajian kuliah saya tidak nikmat. Cukup hambar untuk hanya dirasakan setiap 10 menit saja. Kalau begitu apa boleh buat, saya harus lebih banyak berlatih meracik masakan kuliah. Kalau perlu ikut M@ster Chef. Halah.

Entah siapa yang salah. Mungkin dua-duanya salah. Perlu penelitian untuk menemukan penyebabnya. Dan lagi-lagi, penelitian kegiatan pengajaran yang melibatkan manusia tidak bisa cepat. Sayangnya, lagi-lagi (merasa) tidak ada waktu untuk hal-hal demikian. Kuliah harus disampaikan, tugas harus diberikan, dan ujian harus diselesaikan. Sadarnya tahu-tahu sudah akhir semester. Weleh-weleh.

Berikut saya lampirkan tips mengatasi masalah konsentrasi belajar dari sini:

Do well

  1. Select a place you like to study and where there are few distractions
  2. Plan your study time so that you will have enough time to finish your work.
  3. Make sure that you have all the materials and resources you need to finish the assignment.
  4. Develop a positive mental attitude to the task ahead. Think about finishing your work and try to do well.
  5. Remember your purpose for studying and make this your goal. Question yourself about what you are studying and then read actively for the answers.
  6. Work in short sessions of forty to fifty minutes and take regular breaks to avoid getting tired.
  7. Make notes and summaries of the main points you are studying and refer to them to check your progress
  8. Break your work into smaller units of study and mark each unit off as you complete it.


Gambar: [1]

Tagged with:
 

4 Responses to Konsentrasi 50 Menit

  1. anita says:

    Eh,ngajar dimana sekarang Gung? ngajar bidang studi apa? baca tulisan ini saya jadi inget pak Satria Bijaksana, dosen Fisika waktu TPB, beliau pernah masuk kelas dan ngajar di depan kelas nya cuma 10 menit, sisanya muter film ‘beautiful mind’ dan nonton bareng.. metode ngajarnya menurut saya cukup kreatif sehingga masih keinget-inget sampe sekarang..selain muter film, metode lain yg sering diterapkan si Bapak ini adalah ngasi tugas dari soal-soal yg aplikatif -bukan yg ada di text book- sehingga bikin kita benar2 ‘mikir’ utk menyelesaikannya:D

  2. Agung says:

    @anita: di Poltek Telkom Nit, ngajar Mobile Programming, E-Commerce, & SCM. Yang keinget Beautiful Mind apa materinya? hehehe… Itu namanya Contextual Based Learning, lebih ‘kena’ karena contoh dan aplikasinya ‘terasa’

  3. tym@sundae says:

    more practice aja gung kuliahnya ya… hehehe… case study minded (Sok tau neh tri)..
    anyway, selamat mnjadi Pak Dosen ya..!

  4. Agung says:

    @tym: practice makes perfect ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>