“Kenapa nggak ngelamar di nomor-satu aja?”
“Oh, karena berada di nomor-dua itu jadi semangat mengejar nomor-satu. Kalau udah nomor-satu, mau mengejar siapa lagi? Hehehe…”

Aha! Jawaban langsung kuutarakan karena pertanyaan itu sudah kuantisipasi sebelumnya. Hanya tidak kusangka akan ditanyakan di halal bi halal keluarga besarku. Yang bertanya adalah seorang ibu muda yang sudah bekerja di nomor-satu selama 4 tahun. Bekerja di urusan marketing, wajar ia bertanya seperti itu. Ujung-ujungnya bisa kutebak: salary / reward yang diberikan nomor-satu hampir pasti lebih besar daripada nomor-dua.

Alasan klasik saat dahulu kala saya tidak melamar ke nomor-satu berkaitan dengan treshold / batas. Batas IPK, maksudnya, hahaha… Secara alami orang tentu tertarik bekerja di perusahaan swasta pelat merah yang menjadi market leader. Walaupun alasan karir tetap ada, tidak bisa dipungkiri hitung-hitungan reward membuat tekad lebih bulat, terutama bagi fresh graduates.

Bekerja di nomor-satu bukan tanpa risiko. Beberapa yang pernah saya dengar berkaitan dengan promosi, gaya kerja, dan kenyamanan. Pertimbangan politis untuk mempromosikan orang lebih terasa di nomor-satu daripada nomor-dua. Wajar karena sahamnya milik negara. Negara = politis, bukan? Seorang kawan yang bekerja 4-5 tahun di nomor-satu mengakuinya. Bahasa diplomatisnya, “Tidak selalu orang yang dipromosikan itu karena pertimbangan keahliannya”. Saya rasa ia pernah kalah saingan untuk dipromosikan akibat kandidat lain yang lebih “tidak ahli” menang secara politis dibanding dirinya.

Yang kedua, gaya kerja nomor-satu yang duitnya kencang membuat pendekatan kerjanya lebih condong memiliih vendor sebagai solusi. Kebanyakan vendor, kata kawan saya yang lain. Vendor di sini berarti membayar partner bisnis untuk memberi solusi atas kebutuhan bisnis perusahaan. “Kami di sini tidak menggantungkan sepenuhnya pada vendor. Kami juga belajar agar kami juga bisa menghandle problem tersebut”, kata pewawancara saya di nomor-dua setengah berpromosi. Ia membandingkan dengan perusahaan sejenis yang ‘berbeda gaya’ dalam berhubungan dengan vendor. Saya rasa ya perusahaan nomor-satu itu.

Yang ketiga adalah kenyamanan yang ditawarkan membuat karyawan “lembam” (kembali meminjam istilah kawan). Sudah jamak kalau bekerja di perusahaan yang ada plat merahnya bahwa begitu kita sudah masuk, selama tidak melakukan pelanggaran berarti, maka kita akan baik-baik saja. Jauh dari lay-off. Apalagi semakin lama kita bekerja kan berarti pundi-pundi uang pun semakin bertambah. Maka semakin nyaman lah kita di dalamnya. Perkara apakah tantangan pekerjaan semakin meningkat atau karir semakin bersinar mungkin bukan urusan nomor satu.

Ah, saya memang sok tahu, Baru tahu sedikit dari obrolan orang-orang yang saya temui, saya sudah berani-berani membuat kesimpulan gambaran besarnya. Jangan-jangan saya disangka orang buta yang hanya memegang ekor kuda tapi sudah merasa bisa mendefinisikan kuda. Kita lihat saja dalam perjalanan waktu benar tidaknya opini ini. Yang jelas, suami ibu muda tadi, sempat menanyakan kepada saya jika ada lowongan untuk dirinya yang kini sedang bekerja di bank swasta asing. Kabarnya dia mendengar bahwa salary di nomor-dua lumayan walau tidak sebesar 24 kali gaji per tahun yang diterima istrinya. Well, salary again. Yah, setidaknya nomor-dua pun dilirik karena reward yang diberikannya. Lagipula ini kan bukan kecap, jadi nggak harus nomor satu :P

Bagi saya, sampai saat ini reward bukan yang utama, melainkan adanya kesempatan kita untuk mengaktualisasikan diri di lingkungan kerja yang mendukung untuk pertumbuhan diri dan karir kita. Dan jangan lupa, seperti judul buku Rene Suhardono, “Your Job is Not Your Career!” :)

Tagged with:
 

3 Responses to Nomor-Dua

  1. Andik says:

    udah lama ga mampir kesini… hehe
    nomor 2 juga udah bersyukur kok daripada nomor 3 :p

  2. Agung says:

    @Andik: iya saya juga dah lama ga berkunjung :P Yup betul mas,

  3. arry says:

    oo pantesan no hape yang no satu jadi sekunder :) setuju Gung, your job is not your career

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>