Saya termasuk orang yang awam dengan dunia telco dan saya tidak belajar telekomunikasi saat mahasiswa. Interaksi pertama saya dengan operator telco adalah saat saya pertama kali dihadiahi ponsel sejuta umat Nokia dan hingga sekarang bekerja di salah satu operator. Itupun tidak mengurusi dapurnya telco. Jadi, ini adalah rekaan saya berdasarkan baca, tanya, dan mikir sana sini tentang transformasi ala operator telco.

Semua sudah mafhum bahwa layanan voice dan SMS yang dahulu menjadi andalan telco kini tidak lagi bersinar. Sudah jenuh, segitu-gitu saja. Kalaupun bertambah, tidak akan signifikan. Di sisi lain, layanan internet yang dahulu hanya menjadi produk sampingan layanan telco kini menjadi primadona. Semenjak ledakan produksi smartphone yang haus akses data internet, operator pun mengemas berbagai paket layanan data untuk pelanggannya. Penyediaan layanan data ini tentu hanya bisa dilakukan dengan menambah kapasitas network yang dimiliki operator sehingga mampu menyediakan akses data sampai 3G/HSDPA sesuai jumlah subscriber data. Gratis? Tentu tidak ;)

Ada biaya upgrade hardware network ini (investasi di awal) yang dinamakan CAPEX (Capital Expenditure), dan ada pula biaya operasional sehari-hari hardware-hardware tersebut alias OPEX (Operational Expenditure). Dan yang namanya operator telco, selama ini beban biaya yang-tak-terelakkan dan terbesar ada pada dua jenis expense ini. Setelah saya baca-baca dengan sedikit sok tahu, bisnis telco yang selama ini berjalan pada intinya adalah menguangkan (monetize) network yang dimilliki, entah untuk dijual, disewakan, maupun dibangun service di atasnya, lalu service-nya dijual. Semakin efisien utilitas network, semakin baik pula bisnisnya.

Nah, hubungannya dengan melonjaknya permintaan layanan data via handset Blackberry, Android, dan iPhone itu, tentu operator perlu juga menghitung kembali CAPEX dan OPEXnya, Apa iya, sekian banyak layanan data yang dibayar itu akan menutup kedua biaya itu? Bukankah tren masa depan layanan data semakin gila-gilaan, bisa-bisa menuntut upgrade yang semakin cepat dari network-network ini? Belum lagi biaya operasionalnya? Sanggupkah kita terus maju di antara kejar-kejaran biaya dan revenue ini? Sementara prediksi revenue layanan data ini ternyata dalam kurun waktu yang sama jauh disalip oleh besarnya dua biaya tadi. Tidaaaak…

Telco's Cost and Revenue

 

Apa akal? Daripada repot-repot memikirkan biaya network dan revenue pada saat bersamaan, sudah saja kita pisahkan keduanya. He, maksudnya? Maksudnya, biar orang lain (partner) saja yang pusing memikirkan kapasitas network dan biaya yang harus dikeluarkan. Efisiensi biaya dalam bentuk Managed Service (MS) merupakan model yang dipilih telco untuk keluar dari kejar-kejaran tadi. Partnership dijalin dengan vendor telco yang mengurusi BTS dan network seperti Huawei, Ericsson, atau Nokia Siemens Network. Dalam contoh XL, partnership dilakukan dengan Huawei. Sejumlah 1200 karyawan XL berikut pekerjaannya di bagian network berpindah dari milik XL menjadi milik Huawei. Tentu, Huawei terikat untuk menyediakan layanan sesuai permintaan XL.

Lalu, setelah biaya berpindah menjadi urusan partner, saatnya operator memikirkan cara menghasilkan revenue stream yang kencang dari layanan data. Tapi sebelumnya, coba kita rehat sejenak dan melamunkan sesuatu. Entah mana telur dan mana ayamnya, antara perkembangan smartphone dan layanan OTT (Over The Top) yang mendorong pesatnya layanan data. OTT ini mengacu pada aplikasi-aplikasi layanan data (socmed, audio, video, dll) yang bisa langsung diakses end-user tanpa campur tangan Internet Service Provider, yang dalam konteks ini adalah operator. Subscriber telco bisa bebas mengakses Twitter, Facebook, Youtube dan bersenang ria menikmati berbagai layanan tersebut, dengan menjadikan telco HANYA sebagai pipa saluran data. Ya, karena bagi operator, data tersebut semuanya dianggap sama saja. Tidak peduli layanan OTT apa yang diakses, semua dipukul rata, dianggap hanya DATA.

Hebat bukan, bisnis-bisnis layanan OTT ini? Dibangun dengan sumberdaya IT, dan baru seumur jagung, namun sudah menjadi primadona subscriber telco, yang notabene punya akun socmed, berbagi jepretan instagram, dan bermain game online. Subscriber-subscriber ini menjadi pelanggan setia OTT yang aplikasinya semakin mudah diinstal / di-bundle dalam paket smartphone terbaru. Oh sebentar, ada yang ketinggalan. Operator? Ini dia masalahnya. Subscriber yang sudah dimiliki dan dipromosikan bertahun-tahun kini menjadi pelanggan OTT dan operator hanya dijadikan ‘tempat lewat’. Jika mau tetap survive, disarankan bahwa operator yang tadinya ‘berkuasa’ pada saat layanan voice dan SMS harus mau ‘legowo’ untuk mengubah model bisnisnya, jika perlu dengan melakukan revenue sharing dengan OTT atau bahkan membuat OTTnya sendiri. Istilahnya, jadi operator yang ‘smart‘ (eh, bukan Smart yang anti lelet itu, ya, hehe…).

So, Is this new business? Ya, mau tidak mau, suka tidak suka. Inilah transformasi ala telco. Efisiensi biaya network (via Managed Service) dan monetize revenue layanan data. Model bisnisnya bisa jadi nanti akan jauh berbeda dengan model bisnis yang orang bayangkan terhadap operator telco selama ini. Bisa jadi nanti, operator, yang sudah tidak punya network sendiri itu, akan mengelola bisnis cloud computing yang sedang jadi buzz itu. Atau bahkan mengelola data layanan kesehatan (e-health), dan atau atau lainnya. Pertanyaannya, seberapa fleksibelkah operator mengubah dirinya mengikuti tuntutan bisnis yang sudah di pelupuk mata ini? Mampukah operator telco bertransformasi menjadi, well, karena belum ada nama resminya, sebut saja Operator Telco 2.0? Let’s wait and see

Innovative Challenger Telco

 

 

Beberapa sumber:

  1. Why Telecom Business Transformation,
  2. Next Generation Managed Service, The Key To Business Transformation
Tagged with:
 

2 Responses to Transformasi ala Telco

  1. bram says:

    cool bro … :)

  2. Agung says:

    @bram: Thanks, bro. T-sel kayanya juga ada di artikel itu, masuk kategori ‘incumbent’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>