Bagi yang belum menonton Inglourious Basterds (Quentin Tarantino, 2009), saya sarankan, nonton deh*. Banyak pujian yang dialamatkan kritikus film terhadap film ini, mulai dari plotnya, dialog-dialognya, dan pengambilan gambarnya. Tapi yang paling memesona buat saya itu adalah Kolonel SS Hans Landa yang diperankan Christoph Waltz.

Saya sudah jatuh hati dengan pesonanya di adegan pembuka film. Sebagai tentara Jerman, bahasa Perancisnya fasih. Dan layaknya penonton lain, saya dibuat suka dengan gayanya yang sopan dan kepandaiannya bertutur kata dan basa-basi. Tapi saya juga tahu, dengan perannya sebagai Kolonel SS Nazi Jerman, dia tidak mungkin orang baik.

Saya harap-harap cemas di balik sikap dan kata manisnya itu. Percakapan demi percakapan (lebih mirip interogasi halus) dengan monsieur LaPedite si petani Perancis semakin menyingkap jati dirinya yang cerdas, investigatif, sekaligus kejam. Julukannya sebagai ‘Jew Hunter’ akhirnya mengantarkan satu keluarga Yahudi yang bersembunyi di kolong rumah si petani dieksekusi dengan sadis, kecuali anak perempuan keluarga tersebut. Inilah adegan pembuka film yang walaupun ditonton berkali-kali, rasanya tetap menegangkan.

Landa adalah tokoh antagonis utama di film ini, melebihi Hitler sekalipun. Hitler bahkan terkesan konyol. Tapi Landa, yang dengan bangganya mengakui dirinya adalah detektif yang hebat, di setiap kemunculannya selalu berarti kesialan untuk kubu lawan. Taktiknya khas, yakni pelan-pelan tapi mematikan. Berbincang dengan senyuman dan pesona, lalu kemudian mencekik sampai mati seperti yang dialami Bridget von Hammersmark. Dia bisa mengendus kebohongan dan membaca bahasa tubuh. Sangat berbahaya kalau sedikit salah kata atau sikap.

Hal ini nampak jelas pada adegan di bioskop saat ketiga Basterds menyaru sebagai orang Italia dengan dugaan orang Jerman tak tajam mendengar bahasa Italia. Rencana gagal karena Landa ternyata bisa bahasa Italia dengan sangat baik! Ia bahkan bisa mengenali aksen Italia dengan lagunya. Oh ya, di film ini Landa selain berbahasa Jerman, juga Perancis, Inggris, dan Italia. Mantab betul!

Tapi tidak berarti Landa tanpa cela. Semua karakter tadi ternyata bergabung dengan sifatnya yang self-centered. Kalau penonton berpikir Landa akan mempertaruhkan hidupnya untuk tegaknya Reich ketiga layaknya seorang sersan yang dipukuli Bear Jew sampai mati, maka dugaan itu salah besar. Saya sungguh tak menyangka munculnya sifat ini di akhir film bersamaan dengan gaya lucunya saat ‘bernegosiasi’ dengan Aldo “The Apache”.

 

Tak heran Cristoph Waltz diganjar Academy Award atas perannya yang brilian. Hebatnya lagi, sang sutradara, Quentin Tarantino, dengan lugas menyatakan jikalau ia tidak menemukan aktor yang pas untuk memerankan Landa, maka Inglourious Basterds tidak akan pernah dibuat. Bravo!

 

*Banyak adegan kekerasan ala perang di film ini, pastikan tidak nonton bersama anak kecil, ya :)

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>