Jalan-jalan ke Karimunjawa kali ini diadakan oleh komunitas Mlancong pada tanggal 6-9 Juli 2012.

image_thumb2

(Update: Info trip Karimunjawa dari Mlancong tanggal 28 Sept – 1 Okt 2012)

Jum’at malam, 6 Juli 2012

Rombongan berkumpul di Gelael Pancoran, Jakarta Selatan selepas Maghrib. Di sana peserta bertemu dan bersiap-siap berangkat dengan dua mobil: 1 minibus elf (12 orang) dan 1 Avanza (5-6 orang). Setelah dibuka dengan perkenalan singkat dan dilepas dengan doa oleh mas AM, rombongan bergerak menuju jalur Pantura pada pukul 19:15 WIB, meninggalkan kemacetan Jakarta Jum’at malam.

Saya yang duduk di kursi tengah elf sudah menyiapkan diri untuk tidak merasa terlalu nyaman dalam perjalanan ini, maklum kami ramai sekali di dalam sini Senyum Empat peserta perempuan yang duduk di paling belakang yang paling enak karena kursi belakang bisa ditarik hingga mencapai posisi optimal untuk tidur. Kami yang di tengah sudah cukup bersyukur kalau bisa tidur tanpa merasa pegal di leher, kaki, atau bokong.

Kemacetan sudah kami rasakan dalam perjalanan menuju Cikampek, sekitar pukul 22.00 WIB. Kami singgah di sebuah rumah makan Padang untuk membekali perut hingga bertemu waktu sarapan esok paginya di Jepara. Setelah makan setengah jam dan sedikit foto-foto, perjalanan dilanjutkan dengan perut kenyang dan tentu saja, mata yang mengantuk.

Perjalanan malam ini, seingat saya dalam keadaan tidur-bangun-tidur, menjumpai macet dan kondisi jalan Pantura yang kurang bersahabat untuk tidur nyenyak. Pak sopir yang sigap beberapa kali saya lihat cukup lihai menyalip kendaraan dan tak ciut dengan kendaraan-kendaraan besar. Kadang sport jantung juga, tapi nggak lama ya balik ngantuk lagi, hehehe…

Sabtu, 7 Juli 2012

Rencana awal kami yang akan shalat Subuh di Masjid Kudus harus berhadapan dengan kenyataan bahwa pada jam tersebut kami baru tiba di Pemalang. Ya, beda sejam, nggak beda jauh. Lalu bayangan Masjid Kudus berubah menjadi mushola pompa bensin. Ini baru beda jauh. Setelah subuh, sebagian besar kami melanjutkan ritual selepas subuh: tidur lagi. Maklum, ceritanya menyiapkan tenaga untuk wisata laut setibanya nanti di Karimun.

LostKarimunJawaPart2_1_thumb1Singkat cerita tibalah kami di pemberhentian wisata kuliner kedua di kabupaten Jepara (Pecangaan) sekitar pukul 09.00 WIB. Restoran Pak H. Ismun ini katanya punya dua menu khas: Soto dan Karang Asem (?). Yang disebut belakangan katanya lagi hanya ada di pagi hari, dan karena namanya asing, saya pilih yang itu. Seperti namanya, rasanya gurih-gurih-asam. Mirip soto ayam, isinya ada jengger, daging, dan kuahnya bening. Dibungkus dengan daun pisang dan dinikmati dengan sepiring nasi hangat dan teh manis. Oh, pagi yang sempurna untuk melupakan Pantura Senyum

Mas AM kembali mengingatkan untuk tidak bisa berlama-lama di sini berhubung ada jadwal kapal penyeberangan Jepara-Karimunjawa (Bahari Express) yang harus kami kejar. Masing-masing orang dibagikan tiket kapal, lalu perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan Jepara. Sebagai informasi, selain dari Jepara, ada pula kapal penyeberangan ke Karimun yang berangkat dari Semarang (Kartini). Waktu tempuhnya lebih lama sejam daripada kapal Jepara, yakni 3 jam.

LostKarimunJawaPart2_2_thumb1Setibanya di pelabuhan, kami segera bersiap untuk menaiki kapal. Tentu kami tidak ingin ketinggalan satu-satunya alat transportasi yang bisa mengantarkan kami ke terumbu-terumbu karang Karimun itu. Cuaca yang cerah dengan matahari yang terang benderang seolah menyambut semangat liburan kami dan sekian banyak wisatawan lokal dan asing yang memenuhi kapal itu. Sebagai catatan, cuaca sangat menentukan pelayaran ini sebab nahkoda tak berani melayari laut Jawa ini jika angin dan ombak sedang beradu.

KarimunJawaBulanJuli2012_30_thumb1Saya yang awalnya kebagian duduk di dek dan terpapar matahari itu kemudian diminta masuk. Senang awalnya membayangkan dapat tempat duduk empuk dibanding di dek, namun malang kursi plastik ala tukang bakso yang didapat. Kesal juga sudah harga tiketnya sama dengan yang lain, namun akibat banyaknya penumpang yang diizinkan naik, sebagian harus duduk di bangku plastik tanpa bisa bersandar jika terombang ambing ombak ini.

Adanya bangku plastik ini menandakan sebenarnya kapal kelebihan muatan. Bangku plastik dijajarkan sepanjang gang antara deretan kursi bagian kanan dan kiri. Saking ingin kapalnya penuh atau mungkin ini adalah keberangkatan terakhir hari itu, kapal yang sedianya kami kira akan segera berangkat setelah kami naik, harus menunggu hingga pukul 11.15 WIB. Hiburan yang disediakan selama menunggu ini cukup khas: karaoke dangdut yang menampilkan penyanyi dangdut perempuan yang tidak terkenal membawakan lagu yang lagi-lagi tidak terkenal. Nampaknya video ini memang bukan untuk mengajak orang bernyanyi bersama, tapi lebih ke tarian dan goyangan mbak-mbaknya. Tarik, mangg!

Uniknya, setelah mesin dinyalakan dan kapal menjauhi dermaga, acara TV berubah drastis: Box Office Hollywood! Sempat saya menonton Planet of The Apes dan Harry Potter sebelum sampai Karimun. Film bajakan, tentunya, yang kualitasnya nggak bagus sebab gerakan mulut, subtitle, dan suaranya nggak sinkron. Beberapa saat setelah kapal keluar dan menjauhi Jepara, kami baru bisa melihat bahwa atap pelabuhan Jepara dibuat menyerupai kura-kura raksasa. Kerenn!

Cuaca yang bagus dan ombak yang tenang mengantar kami dengan selamat ke pelabuhan Karimun. Lautan di bawah cakrawala dan langit biru di atasnya: sungguh pemandangan lepas yang tak akan kami temukan di kota. Bau garam yang dikirimkan angin pantai tidak akan bertahan lama, jadi tanpa buang waktu kami segera diantar ke penginapan dan bersiap wisata laut jilid pertama. Penginapan kami sederhana saja, sebuah rumah yang dijadikan penginapan dengan 7-8 kamar. Satu kamar ditempati 2 orang. Rumah ini masih baru direnovasi sehingga kamar mandi dan perabotan masih nampak baru. Di Karimun ada kebijakan hemat energi yang menyebabkan tidak ada listrik sebelum mendekati waktu Maghrib. Jadi jangan buang waktu berusaha men-charge baterai ponsel atau kamera: nggak ada listriknya!

KarimunJawaBulanJuli2012_35_thumb4KarimunJawaBulanJuli2012_43_thumb1

Tak jauh dari penginapan kami berjalan ke dermaga Karimunjawa untuk kapal-kapal kecil yang akan mengantarkan kami ke pulau-pulau di sekitarnya. Dua kapal sudah siap dan setelah diwajibkan mengenakan pelampung, kapal berlayar membelah laut biru menuju ke utara, target persinggahan snorkeling yang pertama. Spot di sini tidak terlalu bagus terumbu karangnya. Kami snorkeling sambil berfoto-foto di bawah air. Menemukan bintang laut ungu dan menjauhi sejauh-jauhnya bulu babi.

KarimunJawaBulanJuli2012_82_thumb1LostKarimunJawaPart2_14_thumb6

Setengah jam kemudian kami bergerak ke arah timur, ke sebuah pulau. Di sini target utamanya adalah menyaksikan indahnya matahari terbenam dari pantai yang tenang. Banyak foto-foto dihabiskan di sini, mulai dari gaya berdiri biasa sampai loncat, nungging, berbaring, jumpalitan, naik pohon kelapa, peluk pohon kelapa, semuanya ada. Yang paling bagus tentunya gaya siluet di depan pemandangan matahari terbenam. Udaranya yang masih bersih memungkinkan kami melihat sang surya berangsur-angsur mengecil sampai hilang di horison. Subhanallah, beautiful! Tentu lebih beautiful lagi kalau dinikmati pasangan yang sedang jatuh cinta. Bisa-bisa langsung dilamar saat itu juga!

KarimunJawaBulanJuli2012_152_thumb1KarimunJawaBulanJuli2012_146_thumb2KarimunJawaBulanJuli2012_128_thumb1LostKarimunJawaPart2_43_thumb1

Setelah puas berfoto-foto, dan menikmati kombinasi pisang goreng dan teh manis yang uenak tenan, kami kembali ke pulau utama. Malam yang turun tanpa cahaya bulan di laut ternyata gelap sekali, ya. Beruntunglah Allah Menciptakan bintang-bintang sebagai pemandu arah, yang dengan aplikasi Google Sky, kita jadi tahu nama-namanya. Setelah bersih-bersih dan shalat, acara berikutnya adalah makan malam. Makan seafood pastinya! Di mana? Di alun-alun tempatnya.

Tapi jangan bayangkan alun-alun ini seperti di kota besar yang tertata rapi. Di sana alun-alunnya lebih mirip disebut lapangan biasa. Lapangan rumput yang lebih kecil daripada lapangan bola, dan disediakan tikar-tikar untuk orang makan secara lesehan. Lapangan ini disinari lampu halogen putih di dua sudutnya, menyinari orang-orang yang sedang makan di tengah-tengahnya. Nggak ada romantis-romantisnya seperti di laut tadi. Betul-betul ala kadarnya, belum diurus dengan serius. Tapi yang lebih berkesan adalah makanannya.

Sebagian kami sepakat pesan pindang ikan, yang luar biasanya, sejak dipesan hingga disajikan membutuhkan waktu 1 jam! Ini adalah rekor waktu terlama pemesanan makanan selama hidup. Maklum, yang jualan juga penduduk sekitar, jadi entah karena belum profesional atau banyak pesanan, si pindang ikan lama betul sampai ke perut. Ada sih, yang menyediakan makanan di semacam rumah yang disulap jadi restoran, tapi kesan alun-alun ini memang lebih tak terlupakan. Duduk menunggu sejam dalam lapar ditemani angin laut sepoi-sepoi dan disorot lampu halogen.

LostKarimunJawaPart2_49_thumb1LostKarimunJawaPart2_50_thumb2

Makan malam pun berakhir dalam damai. Kami kembali ke penginapan dan setelah ngobrol sejenak, kami beristirahat untuk menyiapkan diri untuk serunya snorkeling jilid dua mulai pagi hari.

(Bersambung ke Mlancong ke Karimunjawa (2))

Tagged with:
 

One Response to Mlancong ke Karimunjawa (1)

  1. luthfi says:

    Mantab,,perjalanan yang benar-benar tak terlupakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>