Orang lain pernah bilang kalau bapak yang satu ini memang layak di posisi General Manager (GM), terutama dalam hal perlakuan terhadap orang -orang yang menjadi anak buahnya. "Nggak pernah ninggalin anak buah", begitu ungkapan yang pernah saya dengar.

Bagi ‘bawahan’, dukungan dari atasan, terutama bila sedang menghadapi problem pekerjaan, membuktikan kualitas pimpinannya tersebut. Kalau sedang ada problem yang sengaja / tidak sengaja disebabkan oleh anak buahnya, dia tidak menyalahkan, bahkan cenderung melindungi. Fokus pada solusi, bukan pada blaming others. Tidak sedikit, lho, pemimpin yang cari selamat sendiri dengan menyalahkan anak buah if something goes wrong. Padahal kalau mau jujur, tentu tindakan anak buah disupervisi oleh atasannya. Artinya, kalau ada masalah, ya atasan sedikit banyak ikut bertanggung jawab.

Ah, dia begitu karena memang tuntutan jabatannya sebagai GM. Tentu  seiring waktu seseorang yang sadar akan semakin bijak memimpin orang lain. Di luar itu, tentu perusahaan memberikan pelatihan agar para leader bersikap demikian. Bukan begitu?

Setidaknya seminggu sekali saya berkesempatan untuk bermain tenis bersama Pak GM. Saya punya kesempatan untuk melihat karakter personalnya di luar kantor, di luar ‘kekuasaannya’. Suatu waktu saya dibuat tersentuh. Malam hari itu, pada saat istirahat giliran main, dia menelpon ke rumah. Besok anaknya ujian. Di ujung telepon anaknya menanyakan soal-soal IPA tingkat sekolah menengah. Mulai dari menghitung percepatan benda ala fisika sampai soal biologi. Untuk yang berhitung, Pak GM cukup sabar memandu langkah demi langkah menghitung soal. Tak jarang dia mengulang ucapannya bila anaknya terdengar tidak paham. Bila perlu, dia menjelaskan dengan metafora agar lebih mudah dipahami. Baginya, jarak dan waktu tidak membatasi dirinya menjalin hubungan dan melaksanakan tugas ayah mendidik anaknya.

Suatu ketika ada rencana perusahaan yang ‘memaksa’ ‘memberi pilihan’ Pak GM dengan sekian ribu orang yang termasuk pada rencana tersebut untuk ‘dipindahkan’ ke perusahaan lain yang menjadi mitra perusahaan sebelumnya. Dia pindah, dan hubungan dengan saya yang masih di perusahaan lama tentu sudah ‘bukan siapa-siapa lagi’. Berbeda dengan dahulu saat saya dan Pak GM masih di perusahaan yang sama. Dia kenal GM saya, dan demikian pula saya mengenal anak buahnya. Kalau masih satu perusahaan walaupun beda departemen, status GM dan staf rasanya sedikit banyak masih berlaku. Kini tidak lagi.

Malam kemarin, saya kembali bermain tenis dan bertemu Pak GM. Walaupun sudah beda perusahaan, rasanya sikapnya tidak berubah. Dia tetap ramah dan menujukkan supportnya pada yang lebih junior. Berarti sikap baiknya memang secara personal sudah menjadi bagian dari dirinya, bukan karena jabatannya. Memang yang namanya kualitas memimpin ya sebanding dengan kualitas pribadi. Tidak bisa dibuat-buat.

Beruntung bagi bawahan yang mempunyai atasan seperti Pak GM. Tentu bekerja lebih tenang, lebih semangat, dan lebih engage. Sebagai timbal baliknya, Pak GM mendapatkan loyalitas dari bawahannya. Yang begini rasanya masih perlu diusahakan di ‘bagian’ saya. Hahaha.

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>