Saat membuat tulisan ini, saya sedang membantu menjadi saksi kelurahan salah satu pasangan calon yang berlaga di Pilkada DKI putaran kedua, 20 September 2012. Tepatnya di Kelurahan Karet Kuningan, Jakarta Selatan.

Setahun tinggal di Jakarta dan cari makan di sana bikin saya ngerasa jadi orang Jakarta juga. Eh, gini-gini saya lahir di Jakarta, lho. Apalagi Jakarta statusnya bukan kota biasa. Kalau kata orang, “Ini Jakarta, Bung!”, pusat pemerintahan republik ini, tempat orang-orang berebut uang, pengaruh dan kekuasaan. Siapa yang ‘memenangkan’ Jakarta akan mudah ‘memenangkan’ Indonesia. Bagi dunia Internasional, Jakarta adalah etalase negara. Buktinya, pilkada DKI ini sampai jadi bahan berita harian Singapura, mungkin karena nantinya negara kecil itu punya kepentingan dengan penguasa Jakarta, yang nantinya jadi jalan untuk penguasa Indonesia.

Indeed, foreign investors as well as the business community are watching the election closely as it could be a harbinger of things to come as the race for the presidential election heats up next year.

Ngerasa jadi orang Jakarta bikin saya juga kepingin terlibat memberikan satu suara milik saya untuk mendukung salah satu calon. Sayang KTP saya masih edisi Bandung, jadi lupakan soal bisa nyoblos. Tapi bukan berarti saya nggak bisa bantu-bantu sama sekali, kan? Buktinya, saya ikut kampanye Pak Hidayat-Didik di putaran pertama kemarin dan sekarang bantuin saksi bang Kumis.

Hasil suara di kelurahan? Foke: 4846, Jokowi: 4643. Kalau lihat hasil quick count di TV, ini mah “win the battle, lose the war” Senyum

Picture: [1]

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>