Apakah selalu dibutuhkan perkenalan formal untuk mulai menyapa orang lain? Seharusnya nggak, kan? Selama ini keyakinan saya begitu, sampai suatu sore seseorang menjungkirbalikkan asumsi saya dalam seketika. Dalam sekelebat tatapan mata, lebih tepatnya.

Sore menjelang maghrib itu saya turun ke kantin untuk makan malam sebelum pulang. Seperti biasa, saya mengajak seorang kawan untuk makan bersama. Sesampainya di kantin, ritualnya selalu mencari counter mana yang menunya masih tersedia. Dan enak, tentunya. Oh, counter Sedap Malam enak tuh, kayanya. Saya beli di sana, ah. (Sedap Malam hanyalah nama samaran, nama sebenarnya adalah Sedap Malam Enak Sekali, hahaha)

Di depan counter, seorang perempuan sedang memesan makanan yang akan dibawanya pulang. Sebagai orang normal yang berusaha untuk perhatian dengan lingkungan sekitar, saya mencoba mengenali perempuan itu. Oh, mbak Siti Nurhaliza. (Sekali lagi ini nama samaran ya, nama sebenarnya Siti Nurhaliza cantik sekali, hehehe). Dan sebagai orang Indonesia yang ramah tamah, saya sapa dong, sekedar basa-basi. Saya nggak mau dituduh sombong atau pura-pura nggak melihat orang lain.

Saya: “Pulang, mbak Siti?”

Siti: “…” (diam)

Dia mendengar saya tapi matanya masih tertuju ke makanannya. Kayanya dia nggak yakin ada yang manggil namanya.

Siti: “…” (masih diam)

Lalu dia mulai memalingkan wajahnya ke saya dan… JLEB! Pandangannya itu loh! Kesannya agak ngeri lihat saya. Seolah-olah saya ini orang asing dan berniat jahat sama dia. Semacam lihat psikopat yang mau melancarkan aksinya dengan modus pura-pura ramah sama calon korbannya. Beneran, seumur hidup saya belum pernah dikasih tatapan kaya begitu.

Saya mencoba mengendalikan situasi dengan kembali bertanya.

Saya: “Mbak Siti penyanyi Malaysia itu, kan?” (tentu dialog sebenarnya sesuai kerjaan mbak Siti yang asli)

Siti: “…” (Mengangguk tertahan, pelan sekali, tanpa suara, sambil melirik nametag saya)

Saya: (Akhirnya saya diam, berusaha mencerna sikap diamnya barusan. Jangan-jangan foto di nametag saya pakai topeng dan bawa golok)

Siti: “…” (Sama sekali diam. Dia mengambil makanannya, membayarnya, dan berlalu meninggalkan saya yang speechless)

Saya berusaha mengendalikan situasi dan harga diri saya dengan melakukan prosedur normal memesan makanan. Teman saya yang merekam seluruh adegan tadi mulai menyenggol-nyenggol saya. Dia juga menangkap tatapan mbak Siti tadi.

Saya: “Udah, sana pesen dulu, nanti dibahas pas makan!”, sahut saya sekenanya.

Oke, memang saya dan mbak Siti belum pernah berkenalan secara formal dalam arti ketemu dan memperkenalkan diri masing-masing. Kami kadang bertemu muka, tapi tidak saling menyapa karena memang tidak ada perlunya. Lebih jauh dari itu, pernah saya berinteraksi saya dengannya lewat email. Pada saat itu, dalam kepanitiaan acara kantor saya membutuhkan bantuannya. Saat itu, berbalasan email sudah cukup untuk menyelesaikan urusan.

Kita bahas soal email ini dulu. Coba pikirkan, dalam perusahaan yang karyawannya banyak dan urusannya kompleks, seringkali kita berhubungan dalam pekerjaan dengan banyak orang via email. Bisa jadi kita sudah kenal orangnya di dunia nyata, bisa jadi belum. Bagi saya, hampir seperti wajib untuk mengetahui wujud orang yang belum saya kenal lewat email tadi. Terutama yang frekuensi interaksi emailnya tinggi. Masa udah saling minta tolong lewat email tapi nggak saling kenal muka? Bagi saya yang sok kenal sok dekat (SDSB, eh SKSD), kalau saya sudah tahu mukanya dan berjumpa di jalan, akan saya tegur. Dengan begitu  yang tadinya hanya tahu lewat email sekarang jadi kenal. Silaturahmi, toh? Nah, itulah yang saya lakukan pada mbak Siti tadi. Salah, nggak ya, saya mikir begitu?

Kembali ke kantin. Teman saya mulai angkat bicara soal kejadian tadi. Dia bilang mungkin cara ngomong saya kelewat pakai perasaan, nggak biasa aja. Hah? Kalo pakai perasaan, udah saya bawain bunga sekalian. Ngaco. Dia bilang juga kalau saya ngagetin mbak Siti dengan ujug-ujug (“tiba-tiba” dalam bahasa Sunda)menyapanya. Bisa jadi dia nggak siap disapa orang sok kenal di kantin waktu mau pulang. Mungkin pikirannya masih di pekerjaannya yang tertunda esok hari. Iya sih, mungkin saja hal itu terjadi. Saya juga kalau kepikiran kerjaan bawaannya males ketemu orang lain. Tapi apa iya sampai nggak ada sepatah kata pun yang terucap darinya? Bahkan sekedar “iya, mas”, atau “duluan, ya”?

Kemungkinan lain bisa jadi mbak Siti ini udah punya pacar atau suami (less likely) yang dia setia banget sehingga lelaki asing manapun akan dianggap berniat menggodanya. Akibatnya, tidak boleh ada ruang percakapan yang dibuka. Atau mungkin dia sekedar pemalu. Pemalu? Ya, sesederhana itu. Demikian juga saya. Saya hanya menyapa, bukan (amit-amit) psikopat.

Menurut kamu, gimana?

Picture: [1]

Tagged with:
 

2 Responses to That Look In Your Eyes

  1. nova says:

    Hahahaha, jd kepancing buat komen (maafkan pemirsa, sy mulu komen disini). Satu lg kemungkinannya, mbak Siti bisa liat penampakan, karna abis magrib pan suasananya agak gmn tuh, kali dia kaget disapa sama seseorang yg mgkin belum dikenalnya? Mungkiiinnnn lho yaaaa #kebanyakan nonton dunia lain:p

    Komen serius!
    Tenang aja Pak, wanita memang begitu, susah dipahami. Seringnya kl kebanyakan pikiran, kepekaan dgn dunia nyatanya menurun jauh. Anggap saja begitu:D

  2. Agung says:

    Again, noted :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>