Semenjak saya memutuskan untuk menjadi penulis dan menyadari bahwa sebagian besar cara melakukannya di abad nan modern ini adalah dengan bantuan komputer, maka saya pun tergerak untuk menguasai keterampilan mengetik dengan 10 jari seperti yang pernah dijelaskan di sini. Alhamdulillah dengan bantuan ini dan ini, keterampilan saya maju pesat. Masih ada keliru-keliru dan salah pencet, tapi kegigihan untuk terus berlatih dan bersumpah tidak akan mengetik dengan cara lama membuat salah ketik yang terasa menyebalkan itu terasa sebagai batu ujian. Oh, yeah.

Mengetik 10 jari itu menambah efisiensi dan efektivitas menulis. Kecepatan itu masuknya efisiensi. Lebih banyak jari yang bekerja akan membuat huruf di papan ketik semakin mudah dijangkau, bukan? Menggunakan kesepuluh jari adalah bagian efektivitas karena Allah telah menganugerahkan sepuluh jari sempurna kepada kita. Dengan menggunakan kesemuanya kita sedang menyelamatkan diri sendiri dari sikap mubazir. Lha iya, dikasih sepuluh kok yang dipakai ngetik cuma lima? Apa ndak mubazir? Coba pikirin, deh. Ini serius, loh. Eh, itu yang di belakang jangan ketawa-ketiwi gitu, ya. Coba perhatikan ibu di papan tulis. Halah, hari gini masih pakai papan tulis. Sekalian aja dilempar kapur. Wuutt!

Di balik fungsi praktisnya tersebut, ada manfaat lain untuk otak. Dalam artikel penelitian yang pernah saya baca, stimulasi otak paling efektif setelah bangun pagi adalah dengan menggerak-gerakkan ujung jari. Dalam hal ini, bisa jari tangan dan jari kaki. Kalo jari kaki nggak terlalu ngefek kali, ya. Yang lebih deket syarafnya ke otak kan tangan, kecuali kaki sampeyan ada di deket kepala, haha. Stimulasi dan pergerakan kedua jenis tungkai ini membuat belahan otak kiri dan kanan dapat bekerja sama dengan harmonis. Sering-sering mengerjakan hal-hal yang melibatkan koordinasi penuh dua belahan otak ini pada akhirnya akan mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan otak. Yaeyalah, keterlaluan banget udah dilatih sering-sering nggak pinter-pinter. Nanti mama masukin kamu ke bimbel, loh! Eh, biasanya yang ikut bimbel emang udah pinter, deng.

Itulah sebabnya kegiatan bermusik sudah diakui membantu meningkatkan kecerdasan. Bukan cuma koordinasi gerakan tangan dan kaki, bahkan telinga, penglihatan, dan mulut. Coba bayangin orang yang main drum. Tangan kiri dan kanannya menggebuk drum dengan harmonis. Belum kakinya yang main di pedal. Dua-duanya, loh. Itu pun harus punya feeling dengan telinga untuk memberikan rythm pada lagu yang diiringinya.

Lihat lagi yang main piano atau keyboard. Tangan kiri dan kanan jelas main. Tambah kaki di pedal bas. Nggak semua ada, tapi jelas lebih menantang. Bukan cuma rythm seperti drum, main piano seringkali menciptakan rythm dan melodi pada saat bersamaan. Nah, paling canggih kalau pelakunya juga nyanyi sekalian. Main piano/keyboard sambil nyanyi? Sebut saja Billy Joel, Alicia Keys, Stevie Wonder, dan lain-lain. Coba deh diukur otaknya, mereka kemungkinan besar cerdas. Gampang aja caranya, kalo udah bisa bikin lagu yang hit dan aransemennya keren, udah deh dikasih jempol. Ambil ijo-ijonya di kulkas sekalian, gan.

Contoh lainnya juga berlaku di pemain akordion, gitar, ukulele, biola, sampai suling, tentu dengan intensitas yang berbeda-beda. Percaya deh, main musik itu emang terasa bikin otak segerr. Sampai bingung mana telornya mana ayamnya: main musik bikin orang kreatif atau kreatif bikin orang bisa main musik? Hayoo, bingung, kan? Udah, setuju aja sama saya, saya juga bingung, kok.

Nah, sayang sekali sebagian besar orang yang baca tulisan ini saya yakin kerjaannya bukan main musik. Nggak nyari duit dari musik. Bahkan bisa jadi pula sebagian besar nggak bisa main musik, entah karena nggak ada waktu dan kesempatan, atau memang nggak minat sama sekali. Tapi tenang, tenang, dan tenang. Bukan berarti tertutup kemungkinan untuk menjadi kreatif dengan cara yang sama persis dengan apa yang dirasakan oleh bermain musik. Bermain piano, lebih tepatnya.

Saya yakin sebagian besar yang baca tulisan ini bisa pakai komputer. Yaeyalah, makanya bisa browsing dan baca tulisan ini. Gimana sih, kamu. Dari sebagian besar komputer itu, pasti ada keyboardnya. Lha iya, emang tablet pakai touchscreen. Nah itu dia! Itu alatnya, ya si keyboard itu! Keyboard buat ngetik kan udah sama namanya dengan keyboard buat main musik, sama-sama “keyboard”. Dimainkannya dengan cara yang sama dong: pakai 10 jari! PAKAI 10 JARIIII! Hahaha, puas banget saya bisa nyambungin ide ngetik 10 jari, kecerdasan otak, terus muter-muter ngomongin musik, sampai bikin kesimpulan yang elegan ini. Eh, muter-muternya kejauhan kali ya, sampai ada Billy Joel segala, hihihi…

Ya, MENGETIK 10 JARI merupakan sarana yang murah-meriah-bermanfaat untuk bisa ngetik lebih efektif dan efisien, plus manfaat yang nggak kalah pentingnya: bikin otak segerrr. Ujung-ujungnya, otak yang lebih kreatif dan cerdas, dong. Alhamdulillah banget, yah. Dulu sebelum saya ngetik 10 jari, kepala rasanya sering pusing-pusing. Tapi semenjak ke klinik Tongkang kepala saya hilang! Eh, sakit kepalanya  yang hilang, maksudnya. Itu tongkang sejenis kapal, kan, ya? Yang bener tongkang apa tongfang, sih? <—dilemparin ember se-kelurahan.

Serius nih, udahan becandanya, ini paragraf terakhir. Eh, nggak janji, deng. Kesimpulan. Saya memang merasakan manfaatnya, jauh dari mudharat setelah mempraktekkan mengetik 10 jari. Nggak mudah awalnya, tapi menyenangkan hasilnya. Riset latihan koordinasi gerakan tangan kanan dan kiri berikut hubungannya dengan otak itu memang betul. Makanya ada yang menganjurkan kalau sering gosok gigi pakai tangan kanan, sesekali gosoklah dengan tangan kiri. Blepotan dan jadi lama banget di kamar mandi, emang. Tapi kerasa, kan, otaknya dipaksa latihan? Orang sikat gigi mau tidur malah disuruh latihan. Hahaha. Eh, tapi serius masih banyak yang nggak bisa ngetik 10 jari seolah-olah itu susah dan nggak akan bisa. Ayo dong, optimis bisa! Awalnya aja yang sulit, selanjutnya masih sulit, sih. Siapa suruh hidup, kalo maunya gampang melulu. Ih, kamu kok malah ceramahin aku, sih? Lha salahnya sendiri mau baca tulisan saya sampai sini. Hihihi.

Kalau udah terampil, pengennya ngetik melulu. Bukan kerjaan dia, eh diketikin juga. Pengennya ngirim email terus. Nggak penting juga diemailin. Mulai tertarik ngapalin shortcut di keyboard yang bikin kerjaan makin efisien. Bikin email baru di Outlook? [Ctrl + N]. Ngirim email yang udah ditulis? [Ctrl + Enter]. Mark as Read? [Ctrl + Q]. Tutup tab Firefox? [Ctrl + W]. Tutup jendela aplikasi? [Alt + F4]. Haha, canggih, kan? Sampai shortcut yang bikin layar jumpalitan buat ngisengin orang: [Ctrl + Alt + Panah Bawah]. Yang terakhir belum tentu sakses, lho.

Sip, kan? Maka nanti kita juga bisa merasakan “main piano” sambil kerja. Aseek. Kalau nggak puas main piano pura-pura, sekalian aja deh download freeware ala virtual keyboard yang bikin keyboard QWERTY kita jadi kaya keyboard beneran. Siapa tahu ada yang jadi penerus Stevie Wonder setelah membaca tulisan ini dan mempraktekkannya. Salam QWERTY!

Picture: [1]

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>