Seorang kawan pernah bilang kalau tenis itu olahraga yang paling banyak minta maafnya. Beneran lho, di banyak klub tenis dengan pemain amatir seperti kita-kita ini, hampir setiap kali pukulan yang gagal, baik nyangkut di net atau out, berujung maaf. “Aduh, sori-sori”. Ya, hampir setiap kali.Fenomena yang sama jarang kita temukan di olahraga lain seperti badminton, tenis meja, atau basket. CMIIW ya, coba kita bikin survei iseng menghitung kata sori/maaf yang diucapkan pemain dalam satu sesi permainan. Besar kemungkinan tenis yang menang.

Alasannya gampang, orang mengira memukul bola tenis itu soal sederhana, sehingga kegagalan dianggap harusnya nggak terjadi. Jadinya orang perlu minta maaf karena melakukan sesuatu yang harusnya nggak terjadi. Bayangin, apa susahnya mukul bola bundar dengan raket sehingga jatuh di lapangan lawan tanpa nyangkut di net? Gampang, kan?

Kalau dibandingin dengan olahraga lain seperti basket, dari awal orang udah kepikiran kalau memasukkan bola basket ke ring kecil di atas itu emang nggak mudah. Kalau masuk lega banget, tapi kalau luput ya dianggap wajar aja. Orang udah pada maklum kalau itu tuh sulit, jadi nggak perlu lah minta maaf segala kalau nggak masuk, iya kan?

Nyatanya tenis termasuk kategori olahraga yang sulit. Secara fisika, sulit untuk bikin pukulan yang bagus dengan konsistensi dan akurasi yang baik. Buat bikin satu pukulan yang bagus, dibutuhkan timing dan point of contact dengan sedikit toleransi kesalahan. Belum lagi dihitung dengan posisi badan, gerakan tangan, serta posisi dan kecepatan swing dari raket. Semua itu harus dihitung di kepala dalam waktu sekian detik dan diwujudkan dalam satu kesatuan gerakan. Bagi yang udah belajar tenis bertahun-tahun, pasti setuju banget.

Tapi, ada sisi positifnya, loh. Karena orang mikir tenis itu seharusnya gampang, apalagi kalau lihat pukulan-pukulan bagus atlit dunia, jadi orang penasaran untuk bisa kaya begitu. Setiap kegagalan di lapangan bikin orang belajar dan belajar untuk memperbaiki faktor penyebabnya. Diperbaikin swingnya, footworknya, sampai penasaran dipilih yang bagus raket dan senarnya. Nggak heran tenis bisa bikin ketagihan. Apalagi kalau lapangannya dibayarin, jadi bisa main berjam-jam. Hehehe.

Suatu hari di Sabtu pagi, saya ketemu temannya teman yang baru belajar tenis. Dengan pedenya, dia bilang bahwa dia udah bakal bisa main tenis setidaknya 2 minggu lagi. Itu adalah pernyataan terPD yang pernah saya denger dari seseorang pemula. Kami yang denger itu nggak komentar apa-apa (atau pura-pura nggak denger), takut menyurutkan semangat belajarnya. Maunya sih bilang, “2 minggu?? 2 tahun, kali, maksudnya :D ”. Anyway, selamat belajar, yaa…

Picture: [1]

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>