Buku ini menceritakan suka duka dan perjuangan 25 orang Indonesia dari berbagai latar belakang yang memperoleh beasiswa Master dari Ford Foundation dalam International Fellowship Program (IFP).

Buku ini saya beli awalnya karena keingintahuan saya setidaknya pada dua hal terkait penerima beasiswa luar negeri.

  1. Latar belakang mereka yang lolos seleksi
    Penting diketahui bahwa ada latar belakang tertentu yang menjadi pertimbangan lebih bagi pihak pemberi beasiswa. Bagi beasiswa tertentu, misalnya, lebih diprioritaskan orang-orang Indonesia yang tinggal di wilayah timur, yang lain memprioritaskan perempuan, yang lain lagi berdasarkan profesi semisal dosen atau bekerja di LSM/NGO. Dari kisah di buku ini, hampir semuanya yang memperoleh beasiswa Ford ini mempunyai profil sebagai berikut (perlu diperhatikan, berikut tipe penerima beasiswa yang dikehendaki oleh program ini. Tentu masih banyak beasiswa lain yang berbeda syarat dan ketentuannya):
    • Berasal dari daerah (Aceh, Makasar, Papua, Kalimantan, Yogyakarta, Malang, dll)
    • Berprofesi sebagai pengajar, jurnalis, penulis, atau aktivis LSM.
    • Menggarap masalah sosial seperti isu gender (?), konflik sosial, bahasa, demokrasi, media dan komunikasi.
    • Harus berjuang untuk mendapatkan skor TOEFL yang memadai (cerita perjuangan TOEFL ini hampir ada di setiap cerita).
  2. Lalu, apa yang mereka lakukan setelah lulus dari luar negeri?
    Seusai  menyelesaikan studi dengan beasiswa tersebut, lalu apa? Hampir semuanya kembali ke Indonesia untuk meneruskan apa yang selama ini mereka kerjakan. Ada yang tadinya merasa tidak cukup dengan gelar sarjananya, kini bisa mendapat kesempatan lebih untuk berkarya sebagai dosen. Ada lagi yang meneruskan profesinya sebagai aktivis LSM, yang dengan bekal pendidikan luar negerinya bisa menangani problem yang lebih kompleks. Serta mendapat akses pendanaan dari luar negeri pula. Ada juga yang tidak menyatakan dengan jelas apa yang dilakukan setelah lulus, yang jelas mereka berniat mengamalkan ilmu yang sudah diperolehnya tersebut.

Cerita lainnya yang mendominasi adalah perjuangan untuk mendapatkan akses pendidikan yang baik mulai dari kecil hingga mendapatkan master. Ada yang sedari kecil telah memimpikan akan kuliah di luar negeri, yang rasanya dengan latar belakan keluarganya, hal itu tidak memungkinkan. Tapi mereka tetap bermimpi. Ada lagi yang harus meninggalkan anaknya demi mengejar kesempatan meraih beasiswa yang tidak datang dua kali. Bahkan tidak sedikit yang awalnya sekedar iseng melamar dan diterima. Namun mayoritas sepakat bahwa pendidikan Master luar negeri ini adalah harapan baru bagi hidup mereka selanjutnya.

Kisah survival di luar negeri pada umumnya sudah banyak ditulis di berbagai buku dengan tema yang serupa. Mayoritas mengalami dua kali gegar budaya (culture shock). Yang pertama dialami saat datang ke negeri tujuan yang memiliki budaya berbeda dengan tanah air. Terpukau dengan keindahan alamnya, budaya akademis kampus, dosen, dan mahasiswanya, serta kelengkapan fasilitas pendidikan seperti perpustakaan dan akses internet. Sedangkan gegar budaya yang kedua adalah saat kembali ke kampung halaman. Shock karena semua yang indah-indah itu tidak dirasakan di Indonesia. Kehidupan kembali berjalan seperti ‘biasa’ dengan segala ‘kekhasan’ Indonesia yang sudah sama-sama kita ketahui.

Sampul muka buku yang dramatis cukup membuat penasaran pembaca yang menduga begitu berdarah-darahnya usaha mendapatkan beasiswa ini. Tapi emang, sih. Beberapa cerita memang membuat kita kagum akan tekad dan keinginan besar mendapatkan dan menyelesaikan program beasiswa ini.

Entah mengapa saya mudah merasa lelah membaca buku ini. Ada begitu banyak paragraf yang panjang yang membuat jeda terasa lama. Tulisan awal yang dibuat oleh masing-masing penerima beasiswa jelas perlu diedit kembali agar nyaman untuk dibaca oleh khalayak ramai. Alangkah baiknya bila editor bisa memecah paragraf yang panjang sehingga tidak melelahkan pembaca. Agar dapat menyelesaikannya, saya mau tidak mau harus membaca cepat setiap bab dan begitu bersyukur menemukan akhir tulisan untuk bisa beristirahat.

Selain itu, sayang sekali tidak ada satu pun ilustrasi atau foto di dalam buku ini. Walaupun mungkin tidak di setiap tulisan, tapi keberadaan foto tentu akan menguatkan penyampaian pesan dalam tulisan tersebut. Mungkin pertimbangannya jatuh pada tebal buku. Tanpa foto, buku ini sudah setebal 363 halaman, mirip novel. Dengan menambahkan foto, jumlah penambahan halaman mungkin akan membuat orang langsung malas membacanya. Atau justru jadi tertari dengan foto-fotonya?

Pada salah satu tulisan, ada yang namanya politik beasiswa yang melibatkan beberapa pihak negara-negara maju. Bagi perusahaan di negara-negara tersebut, ada kewajiban untuk menyisihkan dana CSR untuk menghindari pajak. Dana ini, daripada digunakan untuk membangun infrastruktur negara berkembang, lebih baik dijadikan program beasiswa. Ngebayarin uang sekolah. Toh, yang dibayarin akan sekolah di negara-negara maju ini kembali. Jadi uang CSR tadi tetap akan kembali ke tempat semula, bukan ke negara berkembang. Licik, ya? Di sisi lain, orang-orang yang diberi beasiswa bisa dibilang pintar, dan kelak diharapkan berpotensi menjadi pemimpin di negaranya. Selama belajar, penerima beasiswa diharapkan perlahan tapi pasti akan berkiblat pemikiran dan afililasinya ke negara tersebut. Kelak, saat menjadi pemimpin, kebijakannya sedikit banyak dipengaruhi oleh kepentingan negara-negara ini, yang belum tentu menguntungkan Indonesia.

Kalau itu memang terjadi, ambil beasiswanya, jangan ikuti politiknya.

Menerjang Batas Mengejar Impian/Alumni International Fellowships Program/Indonesia National Justice Network/Agustus 2012/ISBN : 9786021988107)

Tagged with:
 

2 Responses to Buku: Menerjang Batas Mengejar Impian

  1. arry says:

    pemikiran yang mendukung politik negara pemberi beasiswa seringkali tak terasa mempengaruhi, perlu digali bagaimana tipsnya supaya tak terpengaruh.. karena setiap beasiswa pasti ada maksudnya

  2. Agung says:

    @Arry: wajib meminta petunjuk, nasehat, dan bimbingan sesepuh yang sudah pengalaman :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>