Terakhir kali saya berhubungan dengan dunia story telling adalah saat memenangi kompetisi Story Telling tahun 2011. Sabtu, 9 Februari 2013 yang lalu, DeeDee Chantique mengajak saya menjadi juri untuk kompetisi story telling tingkat SD dan SMP yang bertempat di Labschool Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Oke, siapa takut!

Meet The Contestants!

Tentu beda rasanya antara berada dalam posisi juri dan peserta. Sebagai peserta, saya merasakan sekian banyak latihan dan gladi resik harus dilakukan untuk memastikan penampilan yang hampir sempurna. Selain itu, segala macam properti tambahan seperti kostum dan alat peraga juga harus disiapkan jika ingin mendapatkan nilai tambah dari keseluruhan cerita.

 

Lain halnya dengan menjadi juri yang ‘tinggal’ duduk dan menilai penampilan peserta. Eit, tapi juri juga harus mempunyai kemampuan menilai yang baik dan adil sesuai kompetensinya, lho. Saya berusaha menilai seobjektif mungkin setiap peserta sesuai kriteria penilaian. Jika tak lupa, setiap nilai yang saya tuliskan diawali dengan Basmallah agar nilai tersebut benar adanya. Karena saya tahu, bagi anak-anak peserta lomba di mana pun, menang dan kalah bisa sangat berarti buat kepercayaan diri dan tumbuh kembang jiwa mereka. Ganteng banget, ya.

 

Saya kebagian menjadi juri untuk tingkat SMP bersama DeeDee dan (mbak) Sofa. Tiga juri lainnya, Charles (bule Amrik), Lubna, dan (mbak) Sofia menjadi juri tingkat SD. Hampir semua juri adalah guru atau dosen bahasa Inggris. Apa saya ngaku dosen bahasa Inggris juga, ya? Nggak dong, saya dengan gentleman mengaku di akhir acara, di depan peserta dan orang tuanya, bahwa saya mantan peserta juga, sama seperti mereka. Eh, nggak ngaku juga gak apa-apa kali ya, hehe.

Dan kompetisi pun dimulai. Setiap peserta mendapatkan jatah waktu 5 menit untuk mengeluarkan jurus-jurus maut andalan mereka. Berusaha menjiwai emosi karakter yang mereka bawakan. Ada yang pura-pura nangis, ketawa, tidur, marah-marah, teriak-teriak, sampai menjatuhkan diri. Untuk pura-pura yang terakhir, mereka jatuh beneran. Bedebum! Lantai kelas ikut bergetar saat mereka jatuh. Harus diakui bahwa adegan jatuh ini perlu dibuat lebih anggun. Secara keseluruhan, ekspresi peserta masih bisa dilatih agar lebih alami dan lebih halus.

 

Poin penilaian lain berupa penguasaan cerita dan artikulasi, mayoritas cukup baik untuk anak-anak semuda itu. Kayanya saya dulu yang sekeren mereka, deh. Tentu mereka sudah diseleksi dan dipilih oleh guru bahasa Inggrisnya, jadi bisa dibilang perwakilan terbaik sekolah di bidang bahasa Inggris. Bahkan ada yang dari sekolah internasional dengan pengucapan yang sangat fluent. Sayang dia tidak menang karena suaranya kurang lantang dan kurang ‘bercerita’.

Nah, tentang ‘bercerita’ itu sendiri. Judulnya juga story telling, jadi juri pun berharap peserta itu ya bercerita. Cuma ceritanya pakai bahasa Inggris. Keterampilan ini gampang-gampang susah, lho. Inti bercerita, IMHO, adalah sekuat tenaga menarik penonton untuk masuk dan terlibat secara emosional dengan cerita yang kita sampaikan. Ada yang bahasa Inggrisnya udah bagus, tapi sibuk nyerocos cerita sendiri. Juri ama penonton mengerutkan kening, merasa ditinggalin. Kami sama sekali nggak ngerti dia cerita apaan, tahu-tahu udah the-end atau waktunya habis. Biar dia nggak sedih, dikasih tepuk tangan, deh. Tapi maaf ya dek, nilainya nggak tinggi, hehehe.

Untuk melibatkan penonton secara emosional tadi, salah satu elemen penting adalah kontak mata. Karena mata adalah jendela jiwa. Masuklah ke jiwa penonton melalui mata mereka, setelah telinga mereka. Coba saya tanya, kita merasa diperhatikan orang kalau orang itu menjalin kontak mata dengan kita, kan? Bahkan kita membatasi kontak itu jika kita tidak ingin orang itu ‘membaca’ kita lebih jauh. Demikian juga dengan bercerita. Sinarilah hati-hati itu dengan matamu. Jika perlu, dekati, dan sentuh mereka. Hal ini sudah terbukti menjadi senjata ampuh pramuniaga untuk menaklukkan calon konsumennya berpuluh-puluh tahun. Hehehe. Tapi ingat, jangan lakukan kontak mata yang tajam, yang membuat orang tidak nyaman. Ekspresikan emosi lewat matamu, lalu transfer emosi itu ke mata penontonmu. It always works!

Setelah semua peserta tampil, juri pun menghitung nilai dan menentukan pemenangnya. Saat pemenang diumumkan, ada bapak-bapak yang sedari awal, nampak begitu sinis dengan lomba ini, kecuali saat menonton anaknya tampil, tentu saja. Di kepalanya, anaknya harus menang, whatever it takes. Maklum, sekolahnya mahal dan dia merasa anaknya bagus banget bahasa Inggrisnya. Mosok kalah?? Eit, ternyata juri berbicara lain. Anaknya bahkan tidak mendapat posisi ketiga alias tidak juara sama sekali. Kecewa kah si bapak? Pastinya! Sampai-sampai juri ketiban getah, ‘Di sini juri-jurinya saya dengar gak ada yang aksennya British. Singaporean semua!’. Huahaha. Masih untung dibilang Singaporan. Untung si bapak nggak tahu kalau saya speak-speak Javanese English. Udah tho Pak, mbok legowo. Anaknya memang bagus Inggrisnya, tapi tidak cara berceritanya. Case is closed.

Winners!

Anyway, it was fun. Menyenangkan hadir di acara seperti itu. Saat sekolah bagi anak-anak jadi ajang bagi mereka untuk tidak malu berekspresi. Entah sampai berapa lama mereka bisa menjaga otak kanannya tetap waras sebelum dimakan oleh formalitas dan kekakuan otak kiri. Sampai SMU? Sampai kuliah? Atau sampai dunia kerja? Mari kita dengar ceritanya dari dinding-dinding sekolah yang menyimpan sejuta cerita anak-anak Indonesia.

To be Continued…

Tagged with:
 

6 Responses to Story Telling Competition, Labschool 2013

  1. setiya says:

    Mas Agung gede.. :D . Mo ijin copas tulisan jenengan ini boleh ya?
    Ada murid yg mo di ikutkan lomba.
    Ini Ga bs di share Ta?

  2. Agung says:

    @setiya: Boleh, copy aja alamat postingnya. Widget buat sharenya masih saya non-aktifin. Gudlak buat yang mau ikutan lomba!

  3. setiya says:

    oke mas.. matur thengkyu..

  4. ayu says:

    mas, mau nanya sbenernya cerita yang paling cocok untuk story telling itu yang sperti ap ? saya masih bingung bwt cerita persiapan lomba nanti..

  5. Agung says:

    @ayu: Hmm…tergantung tema yang diminta yah…intinya sih cerita narasi: ada tokoh dan ada plotnya…jadi bisa diceritakan dengan menarik ke orang lain. Semoga membantu.

  6. kurniawati syam says:

    mas agung , salam kenal dr saya nia di bontang kal-tim
    saya mau nanya,saya ditunjuk sbg juri untuk lomba story telling dan ini baru pertama kali saya jadi juri. yang mau saya tanyakan gimana saya bisa adil menilai pr finalis walaupun saya sdh punya rules & assessment. karna saya fikir saya sangat tidak pantas untuk amanah ini. Ini merupakan amanah yang sangat sulit untuk saya.
    thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>