Setelah mencoba beberapa jenis dan merk raket (mulai dari yang KW sampai yang ori, hehe), pilihan terbaik saya saat ini jatuh pada Head Youtek Speed MP 300. Raket keluaran Head tahun 2012 ini sudah menemani saya sekitar setengah tahun dan trust me, it has served me well.

Raket saya sebelumnya adalah Head Radical Flexpoint Oversize (OS) 102. It served me well, too. Dengan ukuran kepala yang lega, jelas lebih banyak sweetspot. Dan teknologi flexpoint-nya itu memang membantu meningkatkan kontrol bola. Tapi ada yang belum pas dengan swing dan balance-nya yang sedikit head heavy. Pukulan saya seringkali keluar dan tidak cukup manuverable di depan net, yang artinya tidak cukup lincah untuk volley

Belakangan saya baru sadar kalau raket jenis ini diperuntukkan bagi pemain dengan tipe swing S1. Indeks swing ini diciptakan sendiri oleh Head untuk mengkategorikan raket sesuai panjang pendeknya tipe ayunan pemain saat pukulan groundstroke. Ayunan pendek diberi kode “S” (Short), dan yang panjang “L” (Long). Ayunan pendek berarti raket hanya diayun secukupnya, misalnya sebatas pinggang saja. Sedangkan ayunan panjang (full swing) bisa setinggi bahu, sampai bahu lagi. Skala S dimuali dari S6 untuk ayunan paling pendek, lalu S5 untuk yang lebih pendek dari S6, lalu S4, terus sampai S1. Setelah S1, disambung dengan L1 untuk ayunan panjang yang ‘paling pendek’, lalu L2, L3, sampai maksimum L6.

Apa artinya indeks-indeks itu? Artinya, sesuaikanlah raketmu dengan kebiasaan ayunanmu. Kalau biasa mengayun panjang, jangan pilih raket yang indeksnya S. Pilih yang L. Raket yang didesain untuk ayunan pendek akan terasa kurang pas untuk diayun panjang. Hasilnya pun seringkali overpowered alias kelebihan tenaga. Kalau sudah kelebihan tenaga, bola akan sulit dikontrol dan sering keluar. Begitu pula kalau terbiasa mengayun pendek, jangan pula memilih raket yang berindeks L. Raket-raket berindeks L didesain dengan karakter low-powered, yang artinya lebih banyak dibutuhkan tenaga dari pemain sendiri. Ayunan panjang akan memberikan tenaga yang dibutuhkan tersebut. Maka kalau ayunannya cuma sebatas pinggang, bola jadi letoy bin lemes. Masih untung bisa melewati net. Yang jelas nggak mungkin bola bisa sampai ke baseline.

Ayunan yang ideal dan indah dalam tenis bisa dilihat dari gaya para petenis profesional. Yup, full swing it is. Lalu kenapa nggak semua raket dibuat sesuai karakter ayunan panjang? Di sini lah produsen raket meluaskan pasarnya. Kalau hanya untuk digunakan oleh petenis pro, tentu semua raket dibuat sesuai karakter ayunan dan tenaga mereka. Sedangkan begitu banyak petenis amatir yang tidak sekuat dan sehebat mereka. Maka dibuatlah raket untuk misalnya, pemain akhir pekan yang sudah usia paruh baya. Tentu ayunan pemain di kelas itu pendek dan menuntut raket yang bisa memberi tenaga lebih. Ada lagi pemain usia muda yang kelasnya di bawah pro. Karakter raketnya pun dibuat mirip-mirip player’s racket, hanya beratnya lebih ringan atau ukuran kepalanya lebih besar. Pintar-pintar produsen raket untuk membuat sekian banyak kombinasi raket sesuai karakter pemain. Ini belum bicara inovasi teknologi material yang digunakan. Maka jangan heran ada begitu banyak raket yang dijual dengan kombinasi karakter yang berbeda. Konsumen harus pandai memilih, mencoba, dan merasakan sendiri raket yang sesuai untuk dirinya. Sayang di Indonesia tidak ada toko yang menawarkan demo raket seperti di luar negeri sana.

Kembali ke Head Youtek Speed MP 300. Indeks ayunannya adalah L5, artinya ayunan panjang. Tipe ini cocok buat saya yang memang lebih terbiasa dengan full swing. Lebih puas mukulnya dan lebih mirip pro. Saya dikomentari gayanya mirip Nadal, padahal maunya nyontek Federer, wkwk. Selain itu, beratnya 300 gram, yang menurut saya cukup mempunyai massa untuk pukulan volley, dan tidak berat untuk diayun berjam-jam oleh tubuh saya yang ‘sedikit’ di bawah ideal ini, hehe. Spesifikasi lainnya adalah ukuran kepalanya 100 inch2, cukup untuk kontrol tanpa kehilangan banyak sweetspot. Balance-nya yang head light juga lebih manuverable di depan net. Yang terakhir adalah konfigurasi senarnya yang open, yakni 16×19. Saya merasa open pattern ini lebih memberikan ‘feel’ dan lebih mudah membuat pukulan spin tanpa kehilangan kontrol. Debatable, tapi inilah yang saya rasakan jika dibandingkan dengan close pattern 18×20, misalnya.

Berikutnya soal senar. Berdasarkan salah satu panduan memilih senar, sampailah saya memilih senar hybrid Kevlar dan synthetic gut. Selama ini saya baru mencoba 3 jenis senar: full synthetic gut, full poly, dan hybrid Kevlar-syn gut. Dan saya cenderung memilih senar berdiameter 17/18 karena terasa lebih hidup. Yang pertama sudah saya tinggalkan karena mudah kehilangan tension dan cepat putus. Jenis kedua terasa keras, setidaknya saat dulu saya pasang dengan tegangan 57 lbs. Ampun, kaya mukul pakai papan! Yang ketiga sejauh ini cukup memuaskan. Kevlar dibuat agar kuat dan tidak mudah melar. Jadi saya bisa mendapatkan senar main berdiameter kecil (18) yang awet, dikombinasikan dengan synthetic gut yang menetralisir Kevlar yang tidak empuk di tangan. Sederhananya, mendapatkan senar dengan playability, durability, kontrol, dan spin potential di saat yang sama.

Kalau ada uang dan suka bereksperimen, maniak tenis tentu ingin mencoba berbagai tipe dan kombinasi senar. Coba senar main pakai poly merk Babolat, lalu senar cross pakai Wilson. Lalu coba di tegangan sekian dan sekian. Belum cocok? Ganti lagi senarnya, ganti lagi tegangannya. Dan seterusnya, dan seterusnya. Hampir tidak terbatas kombinasi senar dan tegangan yang bisa dicoba sampai menemukan yang paling cocok. Semua kembali ke preferensi dan kantong masing-masing. Petenis pro pun senarnya macam-macam. Hebat, ya, teknologi material dan jualannya?

Nah, setelah sebelumnya cukup setia dengan Forten Thin Blend, sekarang saya beralih ke Ashaway Crossfire 18. Senar kevlarnya terasa sedikit lebih tipis dan bertekstur. Artinya feel lebih tinggi sedikit, dan lebih mencengkeram bola. Tegangan senarnya antara main/cross adalah 48/52 (terinspirasi dari Federer), setelah sebelumnya saya coba 52/50 dengan Thin Blend. Rendah, ya? Tapi justru inilah tegangan yang paling nyaman buat saya. Apalagi dengan Kevlar yang nggak boleh terlalu tinggi karena akan terasa terlalu keras untuk tangan.  Raket Head Speed sudah low-powered, pun badan saya (baca: tenaga saya) nggak besar. Jadi harus diakali dengan tegangan senar yang rendah agar tetap bertenaga. Hasilnya? It serves me more than well. Lebih baik dari sebelumnya. Tentu saya memberi ruang jika nanti-nanti ada kombinasi yang lebih baik seiring dengan semakin berkembangnya permainan saya.

Yang menarik dari ‘senjata’ tenis ini adalah (hampir) tidak ada yang bisa dibilang ‘senjata’ terbaik. Semuanya bergantung pada “the man behind the gun”. Pemain lah yang menjadikan raket dan senar ini ‘perpanjangan’ dari gaya permainannya di lapangan. So, sekian sharing raket dan senar tenis pilihan saya. Silakan tinggalkan komentar atau mau sharing raket dan senar andalanmu.

Salam winner!

Tagged with:
 

4 Responses to Raket Head Youtek Speed MP 300 powered with Ashaway Crossfire 18

  1. Farrel Rasyidie says:

    Gan, saya ini pemain tenis yg kira2 baru belajar 1 tahun, pukulan emang sudah saya kuasai semua kecuali servis yg masih agak2 kaku, saya sekarang pake raket slazenger silhouete keluaran tahun 90 punya kakek saya, sekarang saya mau ganti raket, kira2 raket apa yang cocok buat saya, kalo saya si ngincer babolat aeropro drive Gt dan Head youtek speed mp 300 ky punya anda. Tolong solusi nya ya, o ya, saya masih junior, umur saya 12 tahun

  2. Agung says:

    @Farrel: Milih raket sama string itu susah2 gampang, gan. Harus dicobain.
    Kalo ngebandingin antara Babolat Aeropro sama Head Speed MP 300, saya lebih cocok pake Head. Berat, swing, sama materialnya lebih enak. Buat groundstroke pas, buat volley manteb. Ane pernah volley bola smash lawan dengan stabil, coba liat kelebihan2nya di web tenniswarehouse.
    Ane ngerasa Babolat lebih stiff (kaku) sehingga kalo tangannya gak kuat, cenderung lebih mudah cidera. Buat swing juga nggak seenak Head. Tapi temen ane lebih suka Babolat juga karena fans Nadal, hehe.
    Saran ane, cobain dua2nya. Nggak usah beli dulu, cobain punya temen aja. Main di mana, gan?

  3. Farrel says:

    @agung, kalo yg babolat aeropro udah nyoba punya temen, enak sih, jauh dari raket slazenger yg saya pke sekarang, tapi, abis liat cerita nya mas agung, kyk nya raket head lebih mantep, oh ya, kalo buat saya, enaknya string pattern nya yg 16 X 19 apa yg 18 X 20, tolong info nya ya, saya maen di bandar lampung, metro

  4. Farrel says:

    maaf baru balas, gak ada pemberitahuan sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>