Source: http://equranacademy.net

Selepas Ashar, langit sangat cerah di atas Masjidil Haram. Putaran ribuan manusia mengelilingi Ka’bah tidak putus-putusnya. Sambil menunggu Magrib, jamaah manusia berbagai bangsa ini mengisi waktu dengan berbagai aktivitas. Ada yang menyempurnakan 7 putaran thawaf, tilawah Qur’an, sekedar mengobrol dengan jamaah lain, bahkan tidur. Walaupun agak lelah dan ingin meniru aktivitas yang disebut terakhir (kapan lagi tidur di Masjidil Haram?), saya memilih tetap terjaga dan menuntaskan target tilawah Qur’an untuk hari ini: juz 30. 

Setelah pertanyaan ‘mau ngapain’ terjawab, berikutnya adalah ‘di mana melakukannya’. Ada begitu banyak tempat di area masjid yang dapat digunakan untuk tilawah. Ya, bisa di mana saja, kecuali di toilet, tentunya. Ada yang lebih suka menyendiri di lantai 2 yang dengan panorama melihat putaran thawaf dari atas. Ada yang senang duduk beratapkan langit. Ada juga yang memilih beralaskan permadani tebal yang hangat, ditemani AC, dengan view langsung ke Ka’bah, dan disuguhi makanan minuman dari orang-orang yang ramah. Nggak usah ditanya, jelas saya memilih yang terakhir.

Tepat di pojok kanan ke arah Ka’bah dari pintu Ismai’l, di bawah ruangan muadzin, di situ adalah salah satu lokasi favorit dari orang-orang Turki. Entah kenapa sejak awal saya memilih tempat itu. Nyaman aja. Tapi kompetisinya ketat. Jangan harap mendapat tempat kosong sejam sebelum Adzan. Jadi, sangat layak untuk diperebutkan. Terlebih menjelang Magrib ada suguhan minuman hangat khas Turki yang disajikan dengan kurma. Nyam nyam.

Berbekal mushaf kecil yang saya beli sebelumnya saat di Masjid Nabawi, saya duduk manis dan mulai tilawah. Lebih tepatnya, mengulang hafalan juz terakhir itu. Yang lebih saya kejar adalah menghafal urutan surat-surat itu dari An Naba sampai An Naas. Sampai ‘Abasa, semuanya baik-baik saja. Saat mengulang At Takwiir, seorang pria di sebelah kanan saya menyapa.

 

“Assalamu’alaykum :) ” 

“Wa’alaykumussalam :)

“…anta…lughatul…Arabiya?” (…kamu…bahasa…Arab? – kamu bisa bicara bahasa Arab?- Titik-titik artinya saya nggak nangkep kata-katanya)

“La, la, ana la lughatul Arabiya” (nggak, saya nggak bisa bahasa Arab)

“Wa hadza Arabiya!” (lah, barusan itu bahasa Arab!)

“Hehehe, soghir, soghir” (Hehehe, dikit doang. -Belepotan banget nih, bahasa Arab saya. Walaupun saya ingin mengajaknya berbicara bahasa Inggris, tapi di jantung tanah suci ini rasanya bahasa Inggris nggak pas. Ini tanah Arab dan seluruh muslim memang diharapkan bisa punya satu bahasa yang sama: bahasa Arab-)

Doi senyum-senyum. Umurnya sekitar 40 tahun, Abdul Qadir namanya, dari Turki asalnya. Tentu setelah saya bilang nama saya ‘Agung’, dia nggak bisa melafalkan nama saya dengan benar walaupun sudah saya ulang tiga kali. Ya sudahlah. Setelah saya bilang dari Indonesia, dia manggut-manggut.

 

“Anta hafiz?” (Anda hafiz (hafal Qur’an) ? -Sambil lihat mushaf yang saya pegang-)

“La, la…ana la hafiz” (Nggak, saya belum hafal Qur’an)

“Wa hadza hafiz” (Lah itu hafiz. -Sambil kembali lihat mushaf saya. Sesaat saya bingung apa hubungannya hafal Qur’an dengan mushaf kecil ini. Belakangan saya baru tahu kalau bawa mushaf kecil itu dianggap hafiz, karena fungsinya buat menghafal-)

“Wa anta hafiz?” (Anda sendiri hafiz? -Saya balik nanya, nggak mau kalah-)

“Na’am” (Ya. -Subhanallah, beneran, nih? Kalau lihat di sini, diperkirakan di dunia sekarang ada sekitar 10 juta orang yang hafal Qur’an. Besar kemungkinan abang dari Turki ini memang nggak bercanda waktu bilang dia hafiz)

 

Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya dan mengambil mushaf dari tangan saya. Dari gelagat dan mimik mukanya, niatnya jelas sudah. Dia mau ngetes! Waduh, mimpi apa ini datang jauh-jauh dari Indonesia, malah dites di depan Ka’bah. Untung lagi buka juz 30, kalau yang dibuka juz tengah-tengah, bisa memalukan bangsa sendiri di depan orang Turki ini.

Yak, ayo mulai baca At Takwiir. Kira-kira begitu perintahnya. Saya bisa aja nolak, bersikap low profile, ngeles ke sana ke mari, dan menolak halus tantangannya. Tapi aura Masjidil Haram ini terlalu kuat untuk membuat saya jadi pengecut. Apalagi yang dimintanya adalah hal baik, juz 30 pula. Dites oleh seorang hafiz, bukankah itu kehormatan jua? Oke, bismillah, saya ladeni.

Maka saya pun mengulang hafalan surat demi surat di hadapannya. Kalau ucapan saya kurang jelas, dia meminta diulang. Kalau ada bagian ayat yang saya ragu, dia menunggu dengan tatapan yang bilang, “hayo…hayo…”. Lucu juga mas Abdul ini. Tapi keramahannya tidak berhenti di sana. Segelas zanjabil hangat disodorkan ke saya, disuruh minum setelah satu surat selesai. Zanjabil ini di kita semacam wedang jahe. Asik, hangat-hangat. Setelah setengah gelas habis, dia suruh saya ngelanjutin surat berikutnya, sampai Al Buruuj.

Baru dua tiga ayat Al Buruuj, adzan Magrib sudah berkumandang. Suara saya sudah hilang ditelan suara muadzin yang membahana di masjid. Bacaan saya hentikan, dan dia pun bersiap shalat. Dalam hati saya bilang, sayang nih, tanggung banget belum selesai satu surat ini. Ya sudahlah, dibaca waktu shalat sunat qabla magrib aja, biar plong, tuntas.

Beberapa menit kemudian, muadzin melantunkan iqamat dan shalat pun dimulai. Kalau tidak salah, malam itu Syeikh Al-Ghamidi yang mengimami. Saya menikmati bacaan beliau hingga akhir Al Fatihah di rakaat kedua. Setelah itu saya terhenyak karena sang Imam tidak meneruskan bacaan surat dari rakaat pertama seperti biasanya. Beliau beralih membaca satu surat di juz 30. Dan surat yang dipilih itu adalah…ya, Al Buruuj!

Ohh, saya terharu berat. Setidaknya saya merasa dari sekian ratus ribu jamaah di Masjidil Haram ini, Allah Menghibur saya. Dan hiburan itu adalah surat yang belum selesai saya baca, diselesaikan oleh Imam Masjidil Haram! Mungkin saya geer, tapi dari sekian banyak kemungkinan surat yang bisa dipilih oleh imam, mengapa jatuhnya ke surat Al Buruuj itu?

Seusai Isya, saya mencari mas Abdul. Karena saya harus kembali ke hotel, saya berpamitan dengannya.

“Ma’assalamah! :) (Dengan selamat -ungkapan selamat tinggal, sampai ketemu lagi-)

Dia pun membalas dengan ungkapan yang sama dan senyuman. Saya berharap bisa bertemu lagi besok-besok. Tapi sayang, malam itu adalah kali terakhir saya bertemu dengannya. Hari-hari setelahnya, walaupun saya duduk di tempat yang sama, saya tidak pernah lagi bertemu muka. Mungkin dia sudah kembali ke negerinya, entahlah. Yang jelas, jazakallah khair sudah membuat sore itu berkesan. Kapan-kapan saya main ke Turki, deh :)

Saya dan lelaki Turki itu tidak mengenal satu sama lain sebelumnya. Lalu Al-Qur’an menunjukkan jalannya sehingga kami bisa berdialog. Kami merasa mempunyai something in common. Dan kawan, bukankah memang seharusnya kitab itu menyatukan hati-hati kita semua dalam rahmat-Nya?

Tagged with:
 

4 Responses to Disangka Hafiz

  1. anita fr says:

    Seruuu!!! jangan2 mas Abdul adalah Imam Alghamidi.. *bisa lanjut novel ini*

  2. Agung says:

    @anita: :)

  3. luthfi says:

    keren,,kelajutannya gimana?

  4. Agung says:

    @luthfi: udah selesai, gitu aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>