Sumber: http://ria.choosen.net

Jika suatu saat kita pernah bersumpah lalu di waktu lain kita berniat untuk menarik kembali sumpah kita tersebut, maka kita wajib membayar kaffarat (denda). Sesuai dengan Q.S. Al Maidah: 89:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”

Jadi, pilihan pertama adalah memberi makan dengan makanan yang biasa kita makan kepada 10 orang miskin. Selain makanan, pakaian pun bisa kita berikan kepada 10 orang miskin tersebut. Jika tidak mampu, bebaskanlah budak. Akhirnya jika semua itu tidak mampu dilakukan sama sekali, puasalah selama 3 hari.

Saya insyaAllah masih mampu untuk memilih yang pertama. Maka hari itu saya punya misi: menemukan 10 orang miskin dan memberinya makan! Bukan hanya sembarang makanan, tapi makanan yang biasa saya makan (makan siang/ makan malam). Dan mayoritas ulama sepakat bahwa yang diberikan harus berupa makanan, bukan uang.

“Mbak, pesen 10 bungkus nasi ama lauk, ya!”
“Ha? 10 bungkus, mas?”
“Iya, udah mbak tenang aja. Saya yang bayar, kok”
“Yaiya dong mas, mosok saya yang bayar”
“Hehehe, namanya juga usaha, mbak” :P

Saya pesan sepuluh bungkus nasi dengan lauk pauk yang biasa saya makan. Syarat ini sangat manusiawi dan memuliakan orang miskin yang akan kita beri. Tidak sedikit pembantu rumah tangga yang diberi makan oleh majikannya dengan makanan kelas dua yang tidak disajikan di meja sang majikan. Atau setidaknya, makanan majikan boleh dimakan setelah tidak habis dimakan beberapa hari. Artinya, makanan ini menjadi pembeda mana majikan dan mana orang suruhan, bukan?

Nggak bagus itu, harusnya yang mampu bisa memuliakan yang kurang mampu, setidaknya dengan memberinya makanan yang sama dengan yang dimakan, bukan begitu? Giliran makanannya nggak enak, baru dikasih ke pembantu. Kalau enak, kita habisin sendiri, ya?  Memang mereka nggak berhak makan enak juga? Berhak, dong! Jadi ini ujian pertama memberi makan orang lain: melawan ego kita.

Kalau makannnya suka yang enak dan mahal, bisa pusing kena kaffarat ini. Makanya kalau makan enak sekali-kali aja. Selebihnya cukup bergizi, biar kalau kena kaffarat, nggak berat bayarnya. Ini kok jadi kaya akal-akalan, ya? Nggak deng, makanlah sesuai kemampuan. Dan bergizi. Dan sehat. Dan enak. Dan orang miskin pun berhak makan enak, setuju?

Nasi ‘enak’ 10 bungkus sudah di tangan. Berikutnya adalah mencari 10 orang miskin. Di manakah mereka berada? Andai tempat tinggal kita tidak jauh dari pemukiman yang tergolong miskin, ini bukan soal. Tapi kalau sekitar kita rumah-rumah berpagar tinggi dan gedung-gedung bertingkat Jakarta? Tentu orang miskinnya ada di tempat lain. Di jalan-jalan. Di tempat mereka bisa dekat dengan sumber rejeki dari orang yang punya. Maka tempat itu adalah tempat orang-orang yang punya berkumpul. Dan berbelanja. Dan makan-makan. Dan bersenang-senang. Tempat itu bernama mall.

Saya teringat satu mall yang terkenang saat Obama kembali ke Indonesia: Sarinah. Tak seberapa jauh untuk dicapai dan dekat dengan keramaian. Betul saja, tidak butuh waktu lama membagikan nasi bungkus terakhir ke seorang pemulung. Di sekitar sana kumplit profesinya: pengemis, pemulung, dan tuna wisma. Bercampur dengan keramaian orang-orang bermobil yang berbelanja lalu kemudian lapar.

Terpisahkan dinding kaca yang tembus pandang atau aroma makanan yang lezat, orang-orang miskin hanya hilir mudik. Ah, sadis juga kita ini. Bisa makan enak padahal di depan hidung sendiri ada orang lain kelaparan. Masih mending kucing yang kelaparan, tinggal dilempari sisa ikan. Orang kan nggak mungkin dibegituin. Memang, hati itu lebih peka saat lapar ketimbang kenyang.

Yang lebih terenyuh, saat satu nasi bungkus dimakan tiga orang: dua perempuan dan satu anak kecil. Padahal porsi segitu saya makan sendiri! Mereka lebih mengamalkan pesan Rasulullah ini daripada saya:

“Makanan untuk seorang itu dapat mencukupi dua orang dan makanan dua orang itu dapat mencukupi empat orang, sedang makanan empat orang itu dapat mencukupi delapan orang.” (H.R. Muslim)

Apa saya merasa berjasa memberi makan orang miskin? Saya lebih pengen denda ini menghapus beban saya kalau nanti di akhirat ditanya soal sumpah itu. Dan yang perlu saya lakukan untuk meringankan beban itu pun kalau dipikir, ya tidak berat, cukup beri makan 10 orang (sekali) saja. Denda saya tuntas, mereka bisa makan (sedikit lebih) baik, dan saya dapat pelajaran penting soal mall dan orang miskin ini.

Nanti saya akan ajak anak saya untuk sesekali datang ke lokasi shopping center bukan untuk belanja, makan, atau main. Tapi untuk memberi makan orang miskin. Biar mereka tahu, beginilah ironinya dunia kita. Di tempat yang sama ini, satu orang menghabiskan makan dan yang lain mencari makan. Semoga dengan itu hati mereka lebih peka dan tidak terikat dengan mall. Selain baik untuk akhlak mereka, tentu juga baik untuk orang tuanya. Ya iyalah, ke mall terus bisa jebol kantong kita!

Tagged with:
 

2 Responses to Dicari! 10 Orang Miskin (di Mall)

  1. luthfi says:

    memang sumpahnya apa nih?

  2. Agung says:

    @luthfi: ada dehh,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>