Dalam perang Badar, Rasulullah SAW pernah memanjatkan do’a kepada Allah dengan permohonan yang amat sangat sampai selendang beliau terjatuh. Do’a itu adalah agar kaum muslimin diberi kemenangan atau tidak akan ada lagi orang yang menyeru kepada Islam bila sampai kalah. Ya, tidak akan ada lagi yang akan mengemban misi dan cita-cita mulia itu jika pengusungnya tiada.

Apa lagi yang berharga dari seorang manusia jika dia sudah kehilangan cita-cita luhurnya?

Pertanyaan itu sempat membuat saya tertegun. Iya ya, apalagi yang masih dia punya jika cita-cita sudah tidak ada? Apalagi yang membuatnya berharga jika hidup hanya sebatas hari ini atau lebih gawat, menunggu mati? Apakah masih disebut hidup jika sudah tidak ada asa?

Setiap kita punya mimpi berharga yang kita simpan baik-baik. Sebagian cukup percaya diri untuk menunjukkan mimpi itu dan melangkah dengannya. Sebagian lagi sudah berani bermimpi, tetapi masih disimpannya erat-erat dalam hati dan hanya dibisikkannya di malam-malam yang sunyi kepada Tuhannya. Sebagian lain mungkin sudah tidak pernah bermimpi lagi, alias sudah malas mikir. Jalani saja hidup ini apa adanya, untuk makan saja susah.

Untuk bermimpi dibutuhkan keberanian. Untuk mewujudkannya bahkan dibutuhkan keberanian yang lebih besar lagi. Dan seringkali kenyataan hidup yang kita sebut realitas menciutkan nyali kita untuk membuat mimpi itu nyata. Kita berpikir untuk berhenti bermimpi dan kembali membuka mata. Walaupun dalam kasus ini sebenarnya kita kembali menutup mata. Lha iya, kita tidak berani membuka mata menatap masa depan gemilang, toh?

Jika seseorang cukup yakin bahwa mimpinya itu merupakan hal yang mulia, maka berhenti bermimpi berarti melupakan cita-cita mulia itu. Itu berarti dia setuju untuk tidak melihat hal mulia itu terjadi di masa depan. Tidak terjadi untuk dirinya, keluarganya, bahkan lingkungan sekitarnya. Tidak tahukan dia bahwa tidak semua orang diilhami untuk bermimpi yang mulia? Dan setelah dia mendapatkannya, dia melupakannya begitu saja?

Bayangkan jika Muhammad Al Fatih melupakan cita-cita penaklukkan Konstantinopel. Bisa jadi hingga sekarang kota itu tidak pernah dibebaskan dan sejarah sama sekali berubah. Contoh yang lebih sederhana, bagaimana jika Bill Gates melupakan cita-cita menciptakan komputer personal untuk setiap rumah? Dunia kita akan sama sekali berbeda. Atau Soekarno dan Hatta lebih memilih menjadikan Indonesia persemakmuran Belanda daripada Indonesia merdeka? Sejarah jelas akan berbeda. Mimpi-mimpi ini mengubah sejarah. Dan itu hanya terjadi jika sang pemimpi tidak melepaskan impiannya. Ya sobat, tidak melepaskan impiannya.

Apakah kita percaya bahwa mimpi kita akan mengubah sejarah?

Kalaupun bukan sejarah manusia yang berubah karenanya, maka satu sejarah yang pasti akan berubah: sejarah kita. Takdir kita akan berubah. Mimpi kita akan mengubah takdir kita. Selamanya. Dan dunia kita tidak akan pernah sama.

Bayangkan kembali jika mimpi itu cukup besar. Maka bukan hanya takdir pribadi kita yang berubah. Melainkan takdir keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia! Mimpi kita bisa merubah dunia, kawan! Tidak kah kau melihatnya?? Sekian banyak orang besar telah membuktikan bahwa cita-cita mereka memang bisa mengubah dunia. Itu mungkin, bahkan sangat mungkin terjadi!

Hanya saja…

Kita harus berkorban untuk mimpi itu sebagai harga yang harus dibayar. Mengorbankan waktu, harta, bahkan mungkin nyawa. Untuk apa? Untuk mengubah takdir. Sebesar itukah pengorbanan yang dibutuhkan? Entahlah, coba kita tanyakan pada diri sendiri. Jika memang cita-cita ini cukup mulia dan indah di masa depan, bukankah cukup layak untuk mengorbankan sebesar-besarnya? Atau kita cukup duduk-duduk, sambil berharap hujan emas turun dari langit? Atau memang kata berani dan rajin sudah hilang dari kamus kita, berganti dengan takut dan malas?

Kawan, setidaknya niat kita sudah benar. Kita sudah mengarahkan diri ke takdir yang baru. Jika pun tak tercapai, niat kita sudah tercatat sebagai kebaikan. Dan kebaikan tidak akan tertukar. Sebagaimana mimpi yang dititipkan Allah pada kita semua, mimpi-mimpi itu tak mungkin tertukar. Kita lah yang harus mewujudkannya.

Mimpi dan sang pemimpi tak mungkin tertukar sebagaimana setiap nabi yang diutus dengan misinya masing-masing. Mungkin suatu saat kita ingin berlari dari mimpi yang harus kita wujudkan, seperti Nabi Yunus. Tapi lihatlah, beliau kembali dan menuntaskan apa yang harus dituntaskan setelah berada dalam kegelapan perut ikan Nun. Mungkin sekali waktu kita pun harus menemukan ikan kita sendiri. Dimakan kegelapan, lalu kembali tercerahkan.

Beginilah takdir mimpi kita yang berbeda dengan sinetron Putri itu: tak mungkin tertukar. Setiap kita ditugasi mimpi yang berusaha kita wujudkan. Sayang sekali, tidak bisa didelegasikan. Kita lah yang bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Saya, Anda, dan kita semua, insya Allah.

Tagged with:
 

One Response to Mimpi yang (Tidak) Ditukar

  1. luthfi says:

    Menggapai mimpi, takdir yang mesti kita jalanin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>