http://nightsheep.deviantart.com

Setelah sekian lama hiatus dari menyentuh tuts hitam putih keyboard, lucunya Ramadhan ini keinginan memainkannya muncul kembali. Bukan karena mendengarkan lagu baru di radio (masih jaman?), tapi karena mendengarkan rekaman tafsir Al-Misbah. Di bagian akhir salah satu tafsir surat, sebuah lagu dinyanyikan sebagai penutup. Bukan sembarang lagu tentunya, tapi “Takdir” ciptaan Opick.

Yang berbeda dari versi aslinya, yang dinyanyikan Opick bersama Melly Goeslaw, versi ini dinyanyikan secara akustik dengan piano ditemani biola. Sedap, nggak sih? Syairnya dalam dan akor-akor minornya membuat lagu ini pas rasanya: syahdu, dan sedikit sendu.

Dihempas gelombang, dilemparkan angin
Terkisah kubersedih, kubahagia

Di indah dunia, yang berakhir sunyi
Setiap langkah di dalam rencananNya

Semua berjalan dalam kehendakNya,
Nafas hidup, cinta dan segalanya

Dan tertakdir menjalani, sgala kehendakmu ya Rabbi
Kuberserah, kuberpasrah, hanya padaMu ya Rabbi…

Akornya dapat dicontek di sini, video klipnya di sini.

Lagu ini sempat jadi tema lagu Ramadhan di Metro TV, kalau tak salah dua atau tiga tahun yang lalu. Lagu-lagu Opick memang jadi langganan pilihan Metro TV, bahkan sampai Ramadhan 1434 H ini.

Lagu ini sukses mendudukkan saya kembali di belakang keyboard yang sudah agak berdebu. Tutupnya yang berdebu, maksudnya. Untung pas dinyalain, suara dan semua fungsi masih kaya judul toko besi, lancar jaya. Dan untungnya lagi saya masih ingat cara memainkan iringan lagu dengan teknik arpegio yang paling pas untuk lagu-lagu selow model begini. Bikin style keyboard jadi suara piano, jadi deh bunyinya mirip piano. Tinggal suara saya, yang entah kapan, perlu rajin kontrol ke klinik tarik suara, biar mirip mas Opick.

Bicara soal keyboard, ternyata ada berbagai jenis keyboard yang dibuat produsen berbagai merk, sesuai kualitas dan peruntukannya. Artikel ini cukup lengkap membahas jenis-jenis keyboard itu, mulai dari yang ‘sekedar’ organ tunggal, sampai digital synthesizer, plus merk dan tipe masing-masing jenis itu. Jadi, kalau butuh keyboard jenis tertentu, bisa cek merk dan tipe yang tersedia di pasaran. Tinggal membandingkan kelengkapan fitur, kualitas merk, dan tentu saja, seberapa dalam mau merogoh kocek. Kocek sendiri ya, jangan kocek orang lain. Kecuali doi memang mau beliin.

Bagi kebanyakan pemain musik amatiran di rumah, keyboard yang berjenis organ tunggal merupakan pilihan yang realistis. Keyboard jenis ini pula yang nampaknya digunakan di kursus-kursus musik. Fungsi utamanya digunakan untuk belajar dan mengiringi nyanyian. Bukan digunakan untuk pentas layaknya grup band, atau mengaransemen lagu layaknya pencipta musik. Kedua jenis yang terakhir ini tentu harus memenuhi syarat kualitas suara, koneksi input output, sampai recording dan sythesizing yang oke. Maka beli lah keyboard sesuai kebutuhan. Kalau baru belajar, ya nggak perlu sampai membeli Korg Triton yang harganya 20 juta ini. Kita bisa bingung kebanyakan tombol dan fungsi, padahal cuma mau main “Twinkle Twinkle Little Star“. Cukuplah seri Yamaha PSR, Roland E Series, atau mungkin Casio CTK Series.

Yang paling menarik dari jenis itu menurut saya adalah digital piano (portabel). Konsepnya adalah menghadirkan piano yang portabel (hampir seportabel keyboard), tapi dengan jenis (dan jumlah) tuts seperti piano. Keyboard memang bisa menghasilkan sampling digital suara piano, namun tutsnya tentu gaya keyboard yang ringan itu, bukan seperti piano yang lebih berat dan peka sentuhan keras lemah karena konstruksi mekanisnya. Oya, tahu kan, kalau piano akustik itu cara kerjanya yakni saat tuts ditekan, di belakangnya, ada konstruksi mekanik yang memukul string logam untuk menghasilkan nada? Konstruksi ini pula yang menyebabkan tuts saat ditekan tidak kembali ke posisi awal secepat keyboard yang digital.

http://www.cheapamusic.com.au

Ituah salah satu daya tarik memainkan piano, yakni ada rasa natural dan lebih berseni. Ini pula yang menyebabkan murid kursus piano tidak disarankan untuk berlatih di rumah dengan modal keyboard, karena rasanya beda. Jelas bisa mempengaruhi kepekaan otot-otot jari dalam kegiatan tekan menekan itu. Kalau belajar piano, ya pakai piano, bukan keyboard, karena feelingnya akan beda. Nah, piano digital ini berusaha menghadirkan rasa tuts piano dalam ukuran keyboard. Jadi bagi yang ingin memiliki piano tapi tidak punya cukup ruang di rumah untuk menempatkan piano akustik yang seukuran meja komputer itu, digital piano ini merupakan pilihan yang sangat menarik. Atau merasa harga piano akustik kemahalan, maka lagi-lagi versi digital ini jauh lebih murah, mulai dari 4 juta Rupiah saja.

Bahkan Korg membuat yang lebih kecil lagi, judulnya Micropiano. Lucu, deh.

http://youtube.com

Ukuran tutsnya bukan standar piano, tapi bunyinya ya tetap piano, nggak ikut-ikutan jadi mikro, kecuali dikecilin volumenya. Di tangan yang ahli, bisa jadi melodi-melodi jazz kaya begini, lho. Manteb, tho? Memang ini faktor man behind the gun, udah diikhlaskan saja kalau memang masih pemula kaya kita-kita ini. Masih panjang perjalanan, kawan :)

Bagi saya, memainkan keyboard atau piano baru sebatas mengiringi lagu saja, alias aliran pop. Kalaupun mau belajar partitur klasik, sekedar selingan saja. Itu juga yang gampang-gampang aja, lah. Soalnya butuh komitmen lebih untuk menyelami karya-karya komponis klasik, romantik, atau barok itu. Kalau pop kan bisa sambil nyanyi, beda sama klasik. Coba, situ tahu nggak liriknya “Fur Elise“? Ya nggak lah, lha wong memang nggak ada liriknya, melodi semua. Selain bisa dinyanyiin sendiri, juga bisa dinyanyiin bareng orang lain. Dinyanyiin untuk orang lain? Apalagi itu, komplit mau lagu patah hati, putus cinta, ketemu jodoh, sampe ngajak nikah. Hayo, tinggal pilih mau pilih mana, gampang kan? :)

Layaknya belajar apapun, belajar musik ini bisa dari buaian sampai ke liang lahat. Kombinasi nada, akor, dan tempo yang bisa diciptakan mendekati tak hingga. Begitu banyak kita bisa belajar dari guru musik yang terbaik, yakni komposisi musik itu sendiri. Demikian menurut guru musik jarak-jauh-saya-yang-saya-belum-pernah-ketemu, mas Yulia Rendra lewat buku-bukunya. Semoga musik ini bisa membuat kita semakin bersyukur atas nikmat pendengaran dan kepekaan akan keindahan yang Allah Berikan pada kita. Yah, seperti lagu Opick, saya menganggap ini takdir saya untuk kembali duduk dan belajar lagi dari tuts hitam putih itu. Salam do-re-mi!

Tagged with:
 

Comments are closed.