Debit Credit di Buku Tabungan

Bagi kebanyakan kita, istilah debit (D) dan credit (C) dalam soal keuangan pertama kali ditemukan dalam pelajaran akuntansi dasar di sekolah menengah. Aturan yang paling kita ingat tentang keduanya adalah jika uang bertambah, maka masuk ke debit, dan sebaliknya, uang berkurang artinya credit. Sampai kita berani menyimpulkan bahwa debit = uang bertambah, dan credit = uang berkurang. Sederhana, kan? Tunggu dulu…

Selama kita hanya berkutat dengan pencatatan keuangan pribadi yang mayoritas melibatkan transaksi uang tunai, aturan tersebut berjalan dengan lancar. Sampai suatu hari kita membuka rekening di bank dan mulai menyetorkan uang tabungan pertama kita. Karena senang akhirnya bisa menabung, kita mulai gemar mengecek saldo tabungan. Tapi eh, ada yang aneh dengan print-out buku tabungan ini. Soal debit dan creditnya…

Mengapa saat saldo kita BERTAMBAH (dalam bentuk setoran tunai atau transfer dari rekening lain), di buku tabungan tercatat sebagai CREDIT? Begitu juga dengan bunga atau bagi hasil, keduanya tergolong CREDIT.

Mengapa saat saldo saya BERKURANG (dalam bentuk tarikan tunai atau transfer ke rekening lain), transaksi itu tergolong DEBIT? Juga biaya administrasi atau potongan lainnya, masuknya ke DEBIT?

Bukankah di awal tadi, BERTAMBAH = DEBIT, dan BERKURANG = CREDIT? Mengapa buku tabungan punya cerita lain? Kok BERTAMBAH = CREDIT dan BERKURANG = DEBIT? Jangan-jangan salah cetak nih, si bank…

Akun Kas (Cash)
Pencatatan yang umum kita dapatkan di pelajaran akuntansi dasar itu adalah untuk jenis akun yang bernama Kas (Cash). Secara akuntansi, perilaku Kas adalah jika BERTAMBAH, maka tercatat sebagai DEBIT, dan jika BERKURANG, tercatat sebagai CREDIT. Akur, kan? Oke, no problemo.

Pertanyaannya, apakah cerita di buku tabungan adalah cerita akun kas? Rasanya bukan, karena beda aturannya, yakni seolah-olah kebalikan dari kas. Lalu kalau bukan tentang kas, apa dong?

Put Ourselves in Bank’s Shoes
Kata kawan saya yang jago bahasa Inggris, put ourselves in someone else’s shoes. Artinya, kita menempatkan diri dari sudut pandang orang lain. Dalam hal ini, kita mencoba seolah-olah menjadi bank yang berhubungan dengan nasabah. Uang nasabah, lebih tepatnya.

Saat nasabah menyetorkan uang ke bank, apa artinya? Apakah uang tersebut menjadi uang bank? Tentu tidak, uang itu tetap milik nasabah. Nasabah hanya MENITIPKAN uang tersebut ke bank, yang sewaktu-waktu (kapan saja) bisa diambil kembali. Dengan kata lain, bank pinjam uang dari nasabah, alias bank BERHUTANG ke nasabah.

Hutang ini harus dibayar oleh bank di waktu yang akan datang, tentu dengan tambahan bunga / bagi hasil. Kesimpulannya, cerita buku tabungan adalah cerita HUTANG BANK KE NASABAH. Bukan cerita akun kas.

Pertanyaannya, bagaimana aturan debit dan credit untuk akun hutang (liabilities)?

Akun Hutang (Liabilities)
Yup, seperti yang kita duga, aturannya berkebalikan dengan akun kas. Jika HUTANG BERTAMBAH, dicatat sebagai CREDIT, dan jika HUTANG BERKURANG, dicatat sebagai DEBIT. Kok bisa begitu? Sudah, diterima saja. Ini sudah dijadikan aturan dalam akuntansi. Kalau mau dicari sebabnya, bisa dihubungkan dengan rumus umum akuntansi:

(Aset = Hutang + Modal)

  • Aset bertambah = debit, dan aset berkurang = kredit.
  • Hutang bertambah = kredit, dan hutang berkurang = debit. Aturan untuk modal sama persis dengan hutang.

Karena kas (bagian dari aset) dan hutang berada di sisi yang berbeda dari persamaan itu, maka aturan debit creditnya pun berkebalikan agar memenuhi kaidah double entry system dalam akuntansi.

Jadi, setiap kali kita menyetor uang ke bank, hutang bank bertambah sebesar uang yang kita setorkan. Transaksi ini (HUTANG BERTAMBAH) akan dicatat sebagai CREDIT. Dan saat kita menarik uang dari bank, maka HUTANG BANK BERKURANG sehingga dicatat sebagai DEBIT. Hal yang serupa berlaku untuk bunga / bagi hasil (hutang bertambah), biaya administrasi (hutang berkurang), zakat (hutang berkurang), dan sebagainya. Cukup jelas, kan?

Ngomong-ngomong, hebat ya, kita ini ngasih hutang ke bank? Jadi, lain kali kalau datang ke bank, kita nggak usah terpesona oleh kantornya yang keren dan karyawannya yang parlente. Mas-masnya yang cakep dan mbak-mbaknya yang cantik. Santai saja, kalau perlu rada belagu karena mau kasih hutang.

Eh, tapi lihat nominal saldo dulu, ya. Kalau milyaran, boleh lah rada belagu. Kalau cuma rekening numpang lewat, yaa bersikap sewajarnya saja, kali ya, hehe. Siapa tahu kalau jadi nasabah setia, dapat kemudahan akses kredit besar, tanpa agunan, dan terserah mau dikembalikan atau nggak. Haha, ngimpiiii!

Tagged with:
 

18 Responses to Debit Credit Buku Tabungan

  1. imam says:

    apa mksud istilAh ‘accnt transfer’ di mutasi tabungan.

  2. fian says:

    Jadi kalau kita minjam uang di bank yg tertulis di rekening debet atau kredit?

  3. Prasetyo says:

    thank you gan gue jadi paham haha… artikelnya keren. good job. sukses selalu

  4. Agung says:

    @fian: bagi bank, pinjaman uang ke kita akan dicatat sebagai piutang. Aturan debit kredit piutang sama dengan harta: bertambah di debit, berkurang di kredit. CMIIW.

  5. Agung says:

    @Prasetyo: sama2 gan, sukses selalu.

  6. novi says:

    jika ada tarikan ATM itu termasuk ikut akun apa ya ?

  7. marthin oroh says:

    Mantapp.. bisa nambah ilmu accountingnya

  8. Nita Septry says:

    Thank you gan ..
    Penjelasan yg spesifik buat saya yang selalu bingung akan hal itu.

  9. Yuli Machaenas says:

    Ok. Saya sdh mengerti.

    Thanks ya sdh dijelaskan.

  10. tomi says:

    terima kasih,semua sudah terjawab atas kebingungan sms banking mandiri gw

  11. Thanks bro infonya, membantu ttg basic akuntansi :)

  12. Agung says:

    @novi: tarikan uang dari rekening bank (apapun bentuknya: ATM, tarik tunai di kasir), sama saja dengan mengurangi utang bank ke nasabah. Jadi apa hayo, kredit atau debit?

  13. ardita says:

    ane baru tau nih gan.
    ga pernah merhatiin tulisan di buku tabungan sih..
    yang diperhatiin nominalnya :p

  14. Agung says:

    @ibun: ati-ati lho, nominal gede tapi didebit kan repottt :P

  15. baety indriani says:

    Walahhh thanks binggo gan .. gue maksud sekarang maklum lah lulusan ap bukan ak hehe

  16. ditya says:

    aduh kmarin wawancara di bank gwe di tanya begini, jdi smakin grogi sampe gak bisa mikir lgi.., gwe gak bisa jawab.. hufh

  17. Jumasri says:

    Wah, selalu bingung sama yang beginian. Maklum kelamaan jadi anak IPA, kuliahpun jurusan IPA lagi. haha
    Thanks infonya, sangat membantu

  18. Nellysa says:

    ????dimengerti, suka dengan gaya bahasanya, baca sambil ngakak plus dpet info?thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>