Pada tulisan sebelumnya, saya membuka kembali sejarah lama tentang G30S. Seperti yang diceritakan tentang peristiwa tersebut, TNI muncul dalam berbagai peran.

Pertama, tentu saja para perwira tinggi, jenderal yang menjadi korban. Kedua, sebagai pelaku penculikan jenderal dan pengambil alihan RRI, yakni terdiri dari Resimen Cakrabirawa (pengawal presiden Soekarno), sebagian pasukan dari Kodam Brawijaya dan Diponegoro. Ketiga, yang diberi tugas untuk menumpas G30S, mulai dari pengambil alihan kembali RRI dan Halim Perdanakusuma, yakni Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Tampak sebagai konflik internal TNI, bukan?

Walaupun dulu sudah membaca hal-hal militer dari majalah Angkasa, pengetahuan saya tentang militer sangat awam. Nah, mumpung sedang tertarik dengan peran TNI dalam G30S, tidak ada salahnya mengetahui informasi tentang TNI mulai dari pelajaran paling dasar. TNI for dummies, kali ya. Mulai dari mana? Sederhana saja, yakni mulai mengetahui aturan kepangkatan dalam TNI, unit-unit pasukan, hingga persenjataan yang dimiliki.

Untungnya, momen belajar ini bertepatan dengan diadakannya pameran alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) yang diadakan TNI Angkatan Darat di Monas, Jakarta Pusat, dari tanggal 3-7 Oktober 2013. Kesatuan TNI yang terlibat dalam acara ini yakni Kodam Jaya, Kodam III Siliwangi, dan Kostrad. Pameran yang sudah diadakan dari tahun-tahun sebelumnya ini diselenggarakan dalam rangka HUT TNI ke-68 yang diperingati pada 5 Oktober 2013. Tidak buang kesempatan, saya harus mendatangi pameran yang belum pernah saya kunjungi selama ini.

Berikut beberapa pelajaran selama pameran yang salah satunya bertujuan menunjukkan hasil penggunaan pajak rakyat Indonesia untuk pertahanan negara.

Kepangkatan dan Atribut

Berbekal referensi Wikipedia tentang pangkat TNI AD berikut simbol kepangkatannya yang disematkan di bahu/lengan, saya melatih memori saya setiap kali berpapasan dengan prajurit militer di pameran. Pangkat di Pakaian Dinas Harian (PDH) lebih mudah dikenali daripada di Pakaian Dinas Lapangan (PDL).

Begitu masuk ke area pameran dari arah Medan Merdeka Selatan, saya berjumpa dengan pameran panser, truk, dan tank. Prajurit yang menjaganya kebanyakan berpangkat prajurit satu, prajurit dua, hingga kopral. Masuk ke tenda besar yang adem, di beberapa stand pendidikan dan penerangan TNI, nampak beberapa Mayor, Letnan Kolonel, Kolonel, bahkan Brigjen. Di bagian lain dekat area Kostrad dan parkir helikopter, bahkan ada jenderal bintang 4 sedang diwawancarai wartawan dan diajak foto bersama pengunjung. Entah siapa namanya.

Saya sempat berbincang dengan salah seorang prajurit Pembantu Letnan Dua (Pelda) yang bertugas di bagian Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Kodam Jaya. Dengan baret cokelatnya (atribut pasukan artileri), dia bercerita tentang artileri pertahanan udara, proses kenaikan pangkat, pelatihan yang dijalani, warna baret atribut masing-masing pasukan, hingga kebiasaannya berolahraga untuk menjaga stamina. Agak mengejutkan bahwa untuk kenaikan pangkat perwira menengah masih dibutuhkan tes fisik, mengingat TNI berpangkat tinggi tidak jarang terlihat gemuk.

Betapa pentingnya pangkat dalam militer, saya merasa Pak Pelda lebih bersemangat menjawab pertanyaan saya soal pengkatnya dengan bercerita pendidikan dan pelatihan yang ditempuhnya untuk sampai di posisi sekarang. Sebagai catatan, pangkat Pelda masih tergolong Bintara (di atas Tamtama), belum Perwira. Ia akan segera naik pangkat ke Pembantu Letnan Satu setelah berkarir di militer sejak 1985. Hampir 30 tahun, lama sekali bukan untuk sampai di Pelda (saja)? Nampaknya ia mulai masuk sebagai prajurit tamtama. Sebagai pembanding, lulusan sarjana yang masuk militer akan langsung berpangkat perwira paling rendah, yakni Letnan Dua.

Perangkat Avionik Buatan Lokal

Sebuah stand pameran memajang kotak hitam yang menampilkan gambar real time kontrol pesawat seperti yang lazim di game flight simulator. Saya pun bertanya apa gerangan alat tersebut, sejenis simulator kah? Ternyata bukan. Kotak berharga sekitar 1 Milyar itu adalah monitor perangkat avionik yang dipasang di dashboard kokpit pesawat tempur. Hebatnya lagi, alat ini adalah buatan Indonesia yang bersaing dengan alat sejenis buatan luar yang harganya bisa 5 kali lebih mahal.

Jadi gue mesti bilang WOW, gitu? Ya iya lah, bahkan WOW nya pakai tanda seru. WOW! Embedded system buatan PT. Infoglobal yang berkantor di Surabaya ini merupakan instrumen penting untuk pesawat dan helikopter yang tadinya menggunakan instrumen analog, lalu beralih ke elektronik. Alat ini sudah dipasang di pesawat tempur Indonesia seperti tipe F-5 Tiger hingga F-16 Fighting Falcon. Secara teknis, perangkat avionik ini dapat dipasang di pesawat atau helikopter tipe apapun, baik buatan Amerika atau Rusia.

Perusahaan yang didirikan oleh alumni ITS ini jelas sangat membanggakan negara. Betapa tidak, perusahaan lokal yang mampu memproduksi alat yang berguna di industri pertahanan yang strategis. Kita bisa menciptakan sendiri alat pertahanan yang tidak tergantung pada negara lain selain menghemat devisa. WOW banget, kan? Kalau saya bekerja di perusahaan ini atau sejenis ini, kemungkinan besar saya akan merasa bangga karena bekerja memajukan industri pertahanan negara. Rasanya bekerja dengan semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang meluap-luap.

Sayang, diakui birokrasi industri pertahanan masih terlalu panjang. Berbeda dengan kebijakan negara lain seperti Korea, pemerintah seharusnya memprioritaskan kemandirian bangsa untuk membangun kekuatan pertahanan sesuai amanat undang-undang. Selama masih bisa diproduksi sendiri, apa untungnya bergantung dengan produk impor, yang selain mahal, lebih terbatas dari versi untuk negara mereka sendiri, hingga ketergantungan kita dengan industri militer asing.

Coba kunjungi situs Infoglobal untuk mengetahui produk lainnya yang patut dibanggakan. Contohnya rekaman digital pesawat yang bisa merekam selama 11 jam, berkali-kali lipat lebih lama daripada buatan Inggris yang (hanya) 45 menit.

Kopassus (Komando Pasukan Khusus)

Pasukan baret merah ini jelas menjadi daya tarik utama kekuatan infanteri pasukan angkatan darat. Beranggotakan pasukan militer yang sangat terlatih, dan membawa misi penting bahkan rahasia membuatnya disegani dan bergengsi. Oleh karena itu, saya tak buang waktu untuk berfoto dengan pasukan yang dahulu pernah diberi nama RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) dan Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) ini.

Oke, oke, mungkin kurang ‘angker’ karena saya berfoto dengan prajurit wanita Kopassus. Tapi ini kan memang sedang pameran, jadi kesannya jangan dibuat terlalu serius. Lihat, Kopassus pun beranggotakan prajurit wanita yang tidak bisa dianggap remeh. Muka boleh tersenyum manis, tapi senapan sudah dikokang dan siap tembak. Tidak usah jauh-jauh, secara fisik saya kalah jauh dengan mbak Kopassus ini. Oleh karenanya, saya cukup cerdas untuk hanya bersalam komando dan berfoto.

Demikian pelajaran dan kesan dari pameran alutsista TNI 2013 ini. Semoga tahun depan ada perkembangan signifikan dari inventori persenjataan negara kita. Sampai jumpa dan Merdeka!

*Bonus: Mobil dinas RI-1 zaman presiden Soekarno.

Tagged with:
 

2 Responses to Belajar dari Pameran Alutsista TNI 2013

  1. luthfi says:

    jadi inget saat SMA, kata tena-teman kalau ngecengin limiter liat tanda nya, merah apa kuning.hehehh

  2. Agung says:

    @luthfi: oo gitu, ngecengin liat pangkat juga, ternyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>