Tanggal 30 September 2013 kemarin genap 48 tahun berlalunya peristiwa G30S (Gerakan 30 September) tahun 1965, yang diikuti dengan Hari Kesaktian Pancasila sehari berikutnya (1 Oktober). Bagi saya, mendengar G30S sama dengan mengingat film seram Pengkhianatan G30S/PKI yang rutin kami, remaja usia sekolah, tonton di malam-malam 30 September. Saya tidak begitu ingat awalnya, tapi yang jelas saat kami duduk di bangku sekolah, film itu setengah wajib ditonton selama pemerintahan Orde Baru Soeharto.

Film G30S/PKI

Terdorong oleh penasaran dan ingin merapikan file-file sejarah di kepala, saya pun memutuskan untuk menonton kembali film ini. Tidak sulit mendapatkannya di Youtube, walaupun kualitas gambarnya tidak jernih. Boro-boro High Definition, ya. Yang jelas kualitasnya bikin dejavu dengan gambar siaran TVRI di masa itu.

Film besutan Arifin C. Noer yang memenangkan Piala FFI 1984 untuk kategori Best Screeplay  ini terbayang-bayang di mimpi walaupun film sudah selesai dan TV sudah mati. Terlintas gerakan lambat tentara-tentara yang turun dari truk dan menyerbu masuk ke rumah-rumah jenderal, lengkap dengan rentetan senjata. Back sound kelam yang sama, yang diulang-ulang di adegan-adegan tertentu, membuatnya lebih mirip film horor. Seakan-akan waktu melambat di adegan-adegan itu, memaksa perasaan penonton untuk terjebak di suasana mencekam lebih lama.

Hebatnya lagi, rating film ini memang untuk remaja (lihat di awal film), bukan dewasa. Dengan nuansa politik dan kekerasan yang dihadirkan dalam film, walaupun temanya sejarah, rasanya tidak tepat untuk disajikan ke remaja. Kecuali memang film ini digunakan sebagai alat propaganda, maka semakin muda semakin mudah didoktrinasi untuk menerima versi sejarah sesuai naskah film. Setidaknya hal itu berhasil buat saya. Selain didoktrinasi untuk mengagungkan orde baru di bawah rezim Soeharto, saya dapat bonus tambahan: takut dan benci dengan komunis PKI.

Rekonsiliasi

Film yang berdurasi 3 jam lebih ini dinilai merupakan versi sejarah ala orde baru, walaupun pendapat ini dibantah oleh sang sutradara. Terlepas dari versi mana yang benar, faktanya tidak hanya satu versi dari para sejarawan dan saksi sejarah. Potongan fakta dan isu berusaha diagabungkan menjadi gambaran yang utuh tentang yang sesungguhnya terjadi. Sebagai masyarakat biasa yang awam sejarah dan belum lahir di masa itu, ironisnya saya berusaha menyimpulkan kejadiannya berbekal Wikipedia yang diselesaikan dalan tempo yang sesingkat-singkatnja.

Hasilnya, walaupun minimal, saya cukup puas. Dengan salah satu atau dua versi sejarah yang tidak saya pahami sebelumnya, saya bisa menyimpan file G30S dengan lebih rapi di memori saya. Walaupun tidak utuh seluruhnya, dan masih tersimpan ragu, ada perasaan tenang untuk melihatnya dengan lebih objektif. Bukan gambaran ketakutan dan kebencian anak remaja yang disuguhi adegan, “Darah itu merah, jendral!” sambil diiringi penyiksaan dan eksekusi di Lubang Buaya. Bukan, bukan itu yang ingin saya simpan. Dan saya lega, satu memori ketakutan sudah disembuhkan. Dengan cukup berhasilnya rekonsiliasi sejarah ini, mari kita move on.   

Sejarah Berulang

Bersyukurlah kalau kita masih punya keinginan untuk merekonsiliasi sejarah di benak kita. Walaupun dilaksanakan dengan keterbatasan referensi dan waktu di sela-sela rutinitas. Setidaknya kita masih peduli dengan masa lalu yang membentuk masa sekarang. Seperti soal-soal SPMB yang sering berulang, sejarah pun berulang. Setidaknya kalau kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah, maka jika kelak kejadian yang serupa terulang, kita berharap dapat ‘membaca’ dan menyiapkan ‘jawabannya’. Jangan sampai kita menjadi korban sejarah karena ketidakpedulian kita dengan pelajaran masa lalu. Bukankah Al-Qur’an begitu banyaknya menceritakan sejarah orang-orang dahulu agar orang-orang yang datang kemudian bisa mengambil pelajaran?

Seperti sebuah akronim dari Soekarno, ‘Jas Merah’, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Saya setuju seribu persen. Eh, dua ribu persen bahwa Bunda Putri itu…lah, itu beda kasus, ya??* Intinya, belajarlah dari sejarah karena sejarah akan berulang. Mungkin Allah Berkehendak agar kita mengulangi sejarah yang kita belum lulus-lulus, persis waktu menghadapi mata kuliah sulit di kampus. Sebelum lulus, ya dipaksa mengulang terus.  Hal ini berlaku untuk sejarah kita pribadi, maupun sejarah kita sebagai bangsa.

Negaraku…negaraku…

 

*Sebagai catatan, tulisan ini ditulis setelah LHI mengungkapkan adanya peran Bunda Putri pada kasus impor daging sapi, sebagai orang yang dekat dengan presiden SBY. SBY menyanggah sambil mengatakan bahwa LHI berbohong seribu persen. Lalu dinaikkan seratus persen menjadi dua ribu persen. 

Tagged with:
 

3 Responses to Rekonsiliasi Sejarah via Film G30S dan Wikipedia

  1. luthfi says:

    saya sampai saat ini gak beran nonton lagi, padahal saat kecil selalu menunggu2 saat 1 oktober.

  2. Agung says:

    @luthfi: Baca sejarahnya biar nggak takut. Kalau masih takut, nonton donal bebek aja, hehe

  3. Stella1992 says:

    This article is on 16 spot in google’s search results,
    if you want more visitors, you should build more backlinks to your website, there is one trick to
    get free, hidden backlinks from authority forums, search on youtube: how to get hidden backlinks from forums

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>