Comic by Museum BI

Suatu sore, ada angin tapi tak ada hujan, kesempatan itu datang. Seorang kawan yang bekerja di Bank Indonesia (BI) meneruskan info lomba stand up comedy yang diselenggarakan oleh Museum Bank Indonesia. Acaranya bertempat di museum itu, di daerah kota tua Jakarta, hari Sabtu ini, 26 Oktober 2013.

Frankly, as much as I want to be a standup comedian, saya belum pernah menyempatkan diri untuk naik panggung. Baru akhir-akhir ini berencana untuk setidaknya mulai merapat ke satu atau lebih komunitas comic di Jakarta. Belum lah niat itu kesampaian, datang kesempatan emas untuk tampil langsung dalam lomba. Pertanyaanya, am I that funny to be a comic?

Jawaban pertanyaan itu lebih tepat ditanyakan ke penonton. Mereka ketawa atau nggak waktu saya ngelawak. Kalau menurut saya sendiri, kadang saya lucu, kadang biasa, dan kadang (sering?) nyebelin. Sebagaimana yang sodara-sodara ketahui, melucu itu tidak lah mudah. Ada sekian banyak teknik untuk membuat orang tersenyum hingga tertawa terpingkal-pingkal. Ada teknik yang cocok untuk kita, ada yang sebaiknya dilakukan orang lain, dan ada yang sebaiknya tidak dilakukan siapapun. Hehehe. Tidak ada rumus bakunya, harus sering-sering dirasakan dan diujicoba.

Yang tidak kalah penting adalah penonton yang dihadapi. Kalau ngelucu sendiri, semua orang juga bisa. Situ yang ngelucu, situ yang ketawa. Kalau ngelucu di depan orang-orang, pastinya harus diperhitungkan lawakan yang bisa dibawakan kepada hadirin yang terhormat. Buat penonton tertentu, gaya pantomim atau slapstick ala Srimulat atau Mr.Bean sudah cukup lucu. Ketawanya gampang karena nggak usah pakai mikir. Klasik.

Nah, kalau comic , lawakannya dituntut lebih ‘cerdas’. Memotret kejadian sehari-hari atau menciptakan analogi kejadian satu dan lainnya, bahkan menciptakan suasana imajinatif untuk dibayangkan penonton. Penonton diajak ‘sedikit’ mikir agar bisa tertawa satu frekuensi dengan lawakannya. Yang jelas, selama tampil, jangan biarkan perhatian penonton lari dari kata-kata dan gerak tubuh kita.

Wajib baca! Greg Dean, Step by Step To Stand-Up Comedy (Source: http://suc.metrotvnews.com)

Anyway, saya sedang mempersiapkan penampilan besok. Risiko terburuk? Lawakan saya nggak lucu, dan tak ada seorang pun yang ketawa. Saya disuruh berhenti oleh juri sebelum 3 menit habis karena dianggap udah nggak berpotensi lucu sampai menit ketiga. Saya turun panggung dan pulang dengan tangan hampa. Pas mau pulang, hujan deras, batere HP habis, trus duit habis di dompet. Mau ngambil ke ATM, mesinnya out of order.  Ahaha, that bad? Always prepare for the worst, tapi naudzubillah! Jangan sampai tersia-sia seperti itu :D

Hasil terbaik? Saya juara satu pada penampilan panggung saya yang pertama, lalu pulang dengan uang 8 juta rupiah. Aamiin!

Stay tune ya, saya update hasilnya besok malam atau lusa. For the time being, please pray for me :D

Senin, 28 Oktober 2013

Walah, janji saya telat sehari ya, apa dua hari? Aduh, sori ya *belagak menyesal

Bertempat di museum paling keren di daerah kota tua Jakarta ini, 50-an peserta berjuang membuat juri dan penonton tertawa dengan jurus-jurus comic selama 3 menit. Mendapat urutan nomor 41, saya baru tampil selepas break Zuhur dan makan siang. Hasilnya? Baca hasil copy-paste dari WhatsApp ini saja, ya. Seorang guru performance saya menanyakan pertanyaan yang sama dan inilah kisah saya:

I was a big hit!
No one laughed :D (bomb)
Not the audience, not even the judges :D
Probably I was more like insurance agent than standup comedian
But I tell you, I felt great
I performed the way I used to, and I did the best I can
Even put a fedora hat to dress up
One of the judges is Mongol, if you notice the show
Most of the contestants who continued to the final round were members or standup community
If I knew that fact, I would’ve backed down, but then again, ignorance is a bliss :)
I enjoy do things that when it’s over, I’m relieved that I don’t know the whole facts in the first place :)
Just do it!

Now, I know what’s not funny,
Or the way I think, I didn’t impose the comic style (persona)
The way the comedy is presented
Joke and the joker are one package
Even the joker is more important
One of those guys (still student) have been doing standups for two years
Regularly performs on stage in an open mic show
So, no wonder they went so smooth. And of course, funny.
I start to get the way this comic works
And I wouldn’t be there if I didn’t experience what I had last week
It was an eye, heart, and mind opener :D

This is no excuse and I’m not drunk :P

Yup, nggak ada yang ketawa walau saya udah berbusa-busa ala tukang jual obat. Walaupun saya punya cerita, tapi saya belum punya gaya comic. Malu? Halah, dikiit. Paling cuma fedoranya mau dipindah buat nutupin muka. Wahaha. Nggak lah, nggak nyesal. Justru saya bersyukur bisa senekat itu untuk tampil dengan moto nothing to lose (ini moto atau lagu MLTR?). Dan pastinya, nothing to win juga! Hahaha lagi.

All and all, acara itu penting buat membuka mata, hati, dan kepala saya. Berbeda dengan orang pidato yang sangat mungkin menganggap pendengar di ‘bawah’ dirinya, standup comedy harus membuang itu jauh-jauh. Seorang comic harus dekat dengan pendengar agar bisa ‘masuk’ dan memancing tawa. Comic meminta tidak hanya perhatian penonton, tapi juga tawa mereka. Dan untuk membelinya tidak murah, kawan.

Last but not least, yang menarik adalah kegiatan ini tidak terbatas pada kalangan tertentu saja. Selama joke-nya ‘kena’ dan penonton ‘pecah’, berapa pun usia Anda, you’re in. Saya berjumpa peserta bapak-bapak dengan tipikal yang lazim saya temui membawa¬† keluarganya kalau jalan-jalan ke mall. Bahkan seorang ibu-ibu yang mengaku pengemudi bus Transjakarta! Beneran deng, emang pengemudi TJ betulan. Joke pertamanya ‘kena’ sekali, “Tuh, bus saya parkir di depan”. Gerrr. Lucu karena persis di seberang museum memang ada halte TJ, Stasiun Kota. Orang biasanya parkir mobil/motor, lha ini bus besar. Di ‘depan’ bisa artinya parkiran, bisa juga emang di seberangnya, ya Stasiun Kota itu. Eh, ini kalau dijelasin kok jadi nggak lucu, ya? Makanya, harusnya dateng di acara kemaren! *lho kok sewot

Reportase lengkap hingga pengumuman pemenang bisa dibaca di sini. Selamat kepada kawan-kawan comic yang menang kemarin. Memang, berlatih di komunitas StandUp tidak akan sia-sia. Hasilnya? Tuh, pada menang! Haha, iya deh! Kapan-kapan saya sempatkan merapat, semoga manfaat :) Akhirul kalam, seorang comic katanya harus rela menertawai, bahkan ‘mengejek’ dirinya sendiri. Gimana lagi, daripada ngejek orang lain. Persis seperti gambar profil kawan saya di BBM (mau pamer BBM Android, maksudnya) berikut ini.

Tagged with:
 

8 Responses to Ngelawak Perdana di Stand-Up Comedy Museum BI

  1. nova says:

    Hahahahahahahhahahaha

  2. Agung says:

    @Nova: Oleh WordPress komen ini dianggap spam. Sekalian didelete aja, apa ya? Oh jangan, dipajang aja. Satu-satunya ketawa yang saya dapet. Hore! *masukin spam

  3. luthfi says:

    aku baca tulisan ini juga udah ketawa….

  4. Agung says:

    @luthfi: Saya mau komentar, juga ketawa dulu. Thanks ya.

  5. nova says:

    Ini judulnya:kesuksesan yang tertunda, masbro. Waktu live ga ada yang ketawa, begitu diceritakan kembali, pada ketawa semua:D

  6. Agung says:

    @nova: SKSnya belum lulus, harus kuliah lagi.

  7. aditbram says:

    keren mas ,,, next kalo kita kumpul-kumpul pasti saya tagih mas agung open mic ^_^

  8. Agung says:

    @aditbram: Boleh2 mas, turun panggung nanti saya tagih fee nya, haha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>