Source: http://i.okezone.tv

Bagi pengagum Buya Hamka, tentu tidak asing dengan Masjid Al-Azhar yang terletak di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masjid yang awal mulanya bernama Masjid Agung Kebayoran ini dihadiahi nama Al-Azhar saat Grand Syeikh Al-Azha Mesir saat itu, Mahmoud Syaltout berkunjung pada 1961. Berikut kutipan singkat sejarahnya,

Pada tahun 1961 Mahmoud Syaltout, Grand Syekh Al-Azhar Cairo ketika itu,  mengunjungi tanah air sebagai tamu negara dan menyempatkan diri singgah di Masjid Agung Kebayoran. Kedatangan beliau disambut oleh sahabatnya Buya Prof. Dr. Hamka, Imam Masjid Agung Kebayoran, yang dua tahun sebelumnya dianugrahi gelar Doctor Honoris Causa (Ustadziyah Fakhriyah) oleh Universitas Al-Azhar Cairo. Dalam kesempatan itu Syekh Prof. Dr. Mahmoud Syaltout berkenan memberikan nama Al-Azhar untuk masjid tersebut sehingga nama resminya menjadi Masjid Agung Al-Azhar. (Sumber: Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar Indonesia)

Sebelum hijrah ke Jakarta, saya hanya mendengar nama masjid ini lewat tafsir masyhur Buya yang namanya pun serupa, Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini dikenalkan oleh seorang senior jurusan yang asli Minang dan berambisi untuk hafal Qur’an. Dasar junior tak mau kalah dan tergerak dengan keutamaan menjadi penghafal Qur’an, tafsir itu pun menemani saya memahami ayat-ayat yang dihafal. Dengan memahami tafsirnya, kedekatan kita dengan ayat-ayat tersebut akan lebih dalam. Kita pun tidak sekedar hafal lisan, tetapi juga paham makna. Harapannya, hafalan kita akan lebih menempel dan bisa dihayati saat dibaca dalam shalat-shalat kita.

Maka saat menjemput rezeki di ibukota, masjid ini yang pertama kali menjadi target untuk dikunjungi, bukan Istiqlal (maaf ya, Bung Karno :P ). Beberapa kali kesempatan hari raya, jika saya tidak pulang, di masjid ini saya menunaikan Shalat Ied. Ada semacam kedekatan psikologis dengan nama ‘Al-Azhar’, selain karena lokasinya mudah dijangkau dari tempat saya tinggal. Terbayang dahulu saat Buya Hamka masih hidup, setiap subuhnya diadakan kuliah subuh di tempat ini. Mungkin saya bela-belain datang subuh kalau dulu sudah tinggal di sekitar sini.

Nah, di masjid ini sekarang ada program Tahfizh Al-Qur’an  yang diselenggarakan takmir masjid. Program ini (GRATIS!) dibuka baik untuk jama’ah laki-laki (ikhwan) maupun perempuan (akhawat) yang berniat menghafal Qur’an. Demi menyesuaikan jadwal aktivitas sekolah dan kerja, waktunya yakni Jum’at dan Sabtu siang ba’da Zuhur. Semua peserta akan mulai dari Juz 30, lalu berlanjut sampai 30 Juz. Target peserta khususnya remaja dan mahasiwa, baru masyarakat umum.

Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti program ini untuk pertama kalinya. Sederhana saja, kami sebagai peserta menyetorkan hafalan kami di depan ustadz, lalu dicatat surat-surat yang sudah disetorkan (dibagikan dalam bentuk buku). Mungkin tidak selengkap program yang ditawarkan Masjid Habiburrahman PTDI (beberapa tahun yang lalu, sekarang masih ada nggak, ya?) yang termasuk mabit dan tafsir. Memang, pesertanya belum seramai yang diharapkan. Harapannya, peserta bisa konsisten bertahan selama mungkin sehingga banyak program pengayaan yang bisa dibuat. Setidaknya, ada semacam ‘wisuda’ setiap tahunnya. Lumayan kan, ngerasain diwisuda? :D

Begitu banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi penghafal Qur’an. Setidaknya mendapatkan secuil daripadanya sudah membuat hati bahagia. Apalagi lelaki pemimpin keluarga, ada tuntutan untuk lebih dan lebih lagi hidup dalam naungan Al-Qur’an karena bertanggung jawab terhadap istri dan anak di hadapan Allah. Kalau dipikir berat juga, boy. Tapi, Bismillah lah, I mean, like we have another choice but to move forward? :D Kalau pun itu masih kurang, tidak ingin kah kita menghadiahkan orang tua kita, mahkota di syurga karena anak-anaknya menjadi penghafal Qur’an?

Menghafal Qur’an di pesantren di desa atau jauh dari hiruk pikuk kota, sudah biasa. Tapi bagaimana jika itu dilakukan di tengah kota metropolitan dengan  orang-orang sekitar dengan gaya hidupnya yang serba ajaib, termasuk godaan kanan kiri atas bawah?  Itu baru luar biasa. Ah, semoga usaha yang biasa ini dinilai luar biasa oleh Allah. Long way to go my friend, long way to go…

Gimana, seru, kan?! Jangan sungkan kalau mau bergabung. Datang dan daftarkan dirimu di Masjid Al-Azhar. Semoga kita selalu bersemangat dalam berlomba-lomba dalam kebaikan dan takwa ;)

Tagged with:
 

4 Responses to Tahfizh Gratis Masjid Al-Azhar

  1. ardita says:

    Bisa minta pindahin Mesjid Al-Azharnya ke cikarang aja ga kang?

  2. Agung says:

    @Dita: Bisa aja, asal izin sama Grand Syekh Al-Azhar Mesir dulu, ya :)

  3. luthfi says:

    Program yang sangat bagus sekali, andaikan di setiap masjid yang mnyelenngarakan TPA-TPA ada program seperti itu untuk anak-anak sejak dini.

  4. Agung says:

    @luthfi: standar TPA harusnya ada, walaupun hafalan surat-surat pendek. Setidaknya Juz 30.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>