Dua tahun yang lalu, Ligwina Hananto pernah berpesan kepada saya, “Finance Should be Practical”. Pesan ini dituliskan di halaman muka bukunya, “Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin”. Saat itu, sebagai penanya di sebuah acara promosi bukunya, saya dihadiahi buku tersebut. Maklum, walau sudah kepengen beli, ternyata tabiat yang mau jadi kelas menengah ini sama saja dengan anak kuliahan: doyan gratisan!

 

IMG_20131107_185444-1

Buku itu memang penuh semangat dan dorongan untuk kelas menengah Indonesia yang kuat. Dan layaknya tonik penambah tenaga, selalu ada kontra indikasi. Yang saya rasakan, buku-buku dengan topik perencanaan finansial punya efek sama dengan buku-buku karangan Stephen Hawking. Horor. Bedanya, horor yang satu sifatnya fiksi, dan yang satu lagi non fiksi alias akan terjadi, unless you do something with your money.

Kalau film seram punya andalan setan-setan berbagai rupa (well, sebagian juga tidak punya rupa), maka film ekonomi juga punya jurig sakti yang bernama Setan Inflasi. Ibarat jelangkung, datang tak diundang. Bedanya, boro-boro pulang minta diantar, inflasi nggak pulang-pulang. Makin lama makin nempel sama uang kita, sambil memakan nilainya sedikit demi sedikit sampai habis. Uang yang sekarang bernilai 1000 (seribu) suatu hari hanya akan bernilai 100 (seratus) kalau sudah kesurupan inflasi.

Akibatnya, kita harus mengumpulkan uang lebih banyak dan lebih banyak untuk menyelamatkan diri ketimbang jumlah yang dikumpulkan orang tua kita dahulu. Demikian pula yang terjadi kelak pada anak cucu kita saat harga-harga naik berlipat-lipat, dan nilai uang turun berlipat-lipat. Maka salah satu keuntungan paling praktis dari menikah di usia muda dibandingkan menikah belakangan adalah biaya-biaya yang relatif lebih murah. Mulai dari biaya nikah dan resepsi, beli rumah, sampai biaya menyekolahkan anak. Pernah ngebandingin kan, biaya sekolah atau kuliah kita yang (jauh?) lebih murah daripada adik kelas kita? Harap maklum, sektor pendidikan tergolong paling tinggi inflasinya. Makanya di sekolah suka banyak kasus kesurupan massal *lah??

Untungnya, tak ada setan yang tak ada penangkalnya. Setidaknya, kita masih punya WAKTU untuk selamat dari jebakan betmennya (ini setan apa betmen?). Dalam adu cepat rat race (balap tikus) ini, inflasi punya kecepatan yang bisa kita kalahkan, mirip zombie yang berjalan lambat tapi pasti. Bukan pakai cheat ala Nintendo (lu lahir tahun berapa sih, bro?), tapi dengan bisnis dan investasi yang menghasilkan return LEBIH BESAR daripada kemampuan inflasi memakan nilai uang kita. Dan ini harus dilakukan sedini mungkin selama kita masih produktif untuk berlari lebih cepat.

Maka ada beberapa senjata yang perlu kita siapkan agar tidak berstatus pasien inflasi stadium empat.

Pertama, melek finansial alias sadar finansial. Pokoknya paling amat sangat minimal tahu bahwa hanya menyimpan uang di tabungan dan berharap cukup di masa depan, adalah sangat sangat berisiko. Sadar ada inflasi, sadar ada risiko kehilangan sumber rezeki, sadar ada kebutuhan hidup di masa depan yang harus tercukupi, dan pastinya, sadar bahwa uang tidak turun dari langit.

Kedua, punya target finansial. Kalau udah sadar, tentu ingin selamat. Menyelamatkan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Oleh karena itu mulai ingin bercita-cita bisa punya ini dan itu. Target keuangan ini pertanyaannya simpel: Butuh uang untuk apa, berapa jumlahnya, dan kapan waktunya? Simpel, kan? Jawabannya yang nggak simpel, mungkin sampai perlu rutin shaum Senin Kamis. *Eit, hayo niat puasanya buat siapa? Senyum dengan lidah terjulur  Makin lama targetnya makin sulit dan menantang. Buku mbak Wina ini cukup membantu dengan membuat daftar 100 target keuangan yang bisa kita jadikan pegangan.

Ketiga, pendidikan finansial. Bagian ini mungkin bisa digabung dengan poin pertama. Titik tekannya ada di kemampuan untuk bisa berhitung soal uang yang dibutuhkan untuk mencapat target finansial tadi. Walau kita bisa meminta saran financial advisor atau planner, tapi alangkah lebih baiknya kalau kita pun mengerti dan mau belajar. Buat saya, agak nggak nyaman menyerahkan kepercayaan urusan dapur kita ke orang lain. Sekali dua kali boleh lah, tapi berikutnya kita pun harus mampu merencanakan dan menghitung kebutuhan keuangan kita sendiri. Sayang ya, sekolah kita tidak mengajarkan pendidikan dasar keuangan, padahal baik anak IPA atau IPS, hidupnya pakai uang. Cuma di novel yang hidupnya pakai cinta. #Eeaaa.

Selain itu, tahu cara menggunakan instrumen-instrumen keuangan untuk mencapai tujuan finansial. Mau kerja, bisnis, atau investasi? Atau ketiga-tiganya? Saham? Properti? Reksa dana? Sukuk (obligasi syariah)? Judi togel? Korupsi? Banyak, ya caranya, silakan pilih. Hati-hati terjebak penipuan setan. Berharap untung cepat, malah buntung. Kalau ‘selamat’ di dunia, masih ada akhirat. “Naudzubillah ya Bang, jangan sampai kita makan uang haram”, sahut istri pada suaminya. Di adegan film apakah dialog tadi? *malah tebak-tebakan. Tapi bener lho istrinya, bener banget!

Keempat, ready to action. Kalau sudah ada tujuan dan rencana, apalagi yang ditunggu? Segera action! Karena masih panjang perjalanan ini. Banyak aral yang menghadang. Banyak nafsu yang harus ditekan. Banyak utang dan cicilan yang harus dibayar. Hehehe, hayo ngaku yang utangnya belum lunas? *ngacung sendiri. Tapi tenang, banyak pula yang bisa dinikmati di perjalanan. Dan tentunya, yakin dengan Allah Yang Maha Memberi Rezeki bagi siapa yang DikehendakiNya. InsyaAllah hidup ini akan tenang, demikian nasihat Aa Gym.

Mari kita memohon kepada Allah agar uang ini tidak kita letakkan di hati kita, cukup di tangan kita. Kita kelola layaknya resources yang lain. Semakin sedikit emosi yang terlibat dalam soal uang, seperti takut, marah, rakus, insyaAllah semakin aman hubungan kita dengan uang. Di tangan Nabi dan orang beriman, ternyata uang bisa menjadi kekuatan dan manfaat yang dirasakan secara luas. Dan semoga uang lah yang menjadi budak kita, bukan sebaliknya.

Tagged with:
 

4 Responses to Ngobrol Finansial

  1. luthfi says:

    tulisannya benar-benar membuka mata dan hati saya mengenai finansial, ringan namun berbobot.thanks

  2. Agung says:

    @luthfi: sama2, semoga bermanfaat.

  3. nova says:

    Somehow, ada yg sering terlupakan dalam membahas inflasi, bahwa inflasi ini dalam range tertentu merupakan indikator roda perekonomian yang berputar dengan baik. 3 kategori inflasi:ringan, sedang, berat, ketiganya memiliki indikasi tertentu. Ketika inflasi mengindikasikan perekonomian sedang bagus2nya, biasanya pendapatan masyarakat di negara tsb pun meningkat, entah gajinya naik, bisnisnya laris, atau dapat bonus gede. Yang mungkin kalau dibandingkan dgn penurunan nilai uang akibat inflasi vs bertambahnya pendapatan, masih gedean pendapatan yg bertambah. Intinya, inflasi nggak selamanya buruk:)

    Btw, dalam pengelolaan keuangan, ada point: mengantisipasi resiko, salah satunya melalui asuransi. Jika masbro butuh dihitungkeun UPnya, monggo hubungi saya, ya:D

  4. Agung says:

    @nova: Ohiya, betul Buk. Di save as dulu.
    Silakan bagi hadirin hadirat yang juga membutuhkan antisipasi risiko, bisa juga menghubungi bu Nova ini. InsyaAllah ditanggung halal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>