Source: http://whatisquran.com

Sehari Sejuz

Saat ngaji di zaman kuliah dulu, saya belajar untuk mampu bertilawah Al-Qur’an sehari satu juz, yang artinya khatam dalam sebulan. Tidak mudah awalnya untuk membaca 10 lembar Qur’an cetakan mushaf Ustmani itu. Apalagi diawali dengan qira’ah saya yang masih salah makharijul hurufnya (pengucapan huruf-huruf) dan hukum-hukum tajwidnya.

Namun perlahan tapi pasti, dengan mengikuti program tahsin (perbaikan baca Qur’an), kedua masalah tadi bisa diperbaiki. Tinggal berusaha istiqamah untuk rutin tilawah, walau awalnya nafas sering habis dan mata berkunang-kunang lihat sisa bacaan target sehari nggak habis-habis :P Ada perasaan lega saat sehari bisa menyelesaikan satu juz, seolah-olah memberikan energi ruhiyah yang membuat hari itu terasa ‘tercerahkan’ dengan cahaya Qur’an. Begitu pula jika sebulan berhasil khatam, terasa berhasil menyelesaikan target (minimal?) interaksi seorang muslim dengan kalam Allah itu.

After 1 Juz, Then What?

But still, setelah saya menjalankannya, ada saja yang hilang. Saya membaca ayat-ayat yang saya tidak paham maknanya. Pernah saya mencoba membaca satu halaman, lalu membaca terjemahnya. Itu pun sekedar membaca, tidak sampai memaknainya lebih dalam. Maklum, di kepala masih menghitung-hitung sisa halaman 1 juz yang belum diselesaikan. Begini lah jika hati kurang ikhlas :P Waktu yang saya habiskan untuk membaca 1 juz dan membaca terjemahannya tentu menambah total alokasi waktu berinteraksi dengan Qur’an dalam sehari.

Biasanya kalau tilawah saja, rata-rata memakan waktu 45 menit. Dengan membaca terjemah, seharusnya bisa sampai total 1,5 jam. Jumlah waktu ini, agar tidak memberatkan, biasanya dibagi di waktu-waktu setelah shalat fardhu. Pembagian paling rata, misalnya 2 lembar seusai 5 shalat fardhu. Total 10 lembar, kan? Seringkali ba’da subuh bisa lebih banyak karena hati masih bisa fokus karena belum banyak disibukkan dengan berbagai urusan harian (Q.S.73:7). Selain itu, bacaan di waktu subuh, seperti di waktu malam, lebih berkesan di hati (Q.S.73:6).

Satu juz sehari ini sudah jadi mindset tilawah yang saya pegang sejak zaman kiwari itu. Walaupun tentu saja, belum bisa saya jalankan dengan istiqamah. Rasanya belum pernah satu tahun penuh lulus khatam sebulan sekali. Ada saja yang membuat target ini melenceng dari semangat berapi-api setelah Ramadhan usai. Mungkin karena saya hanya melulu membaca dan menghafal, tidak naik tingkat ke level berikutnya: tadabbur (Q.S.47:24). Tapi tadabbur yang seperti apa? Kayanya pernah dicoba bertadabbur, tapi ya sudah, gitu aja. Nggak jadi gimana-gimana. Akhirnya balik lagi ke tilawah (saja) satu juz sehari. Memang tadabbur harusnya jadi bagaimana? Good question.

Beberapa buku tentang berinteraksi dengan Al-Qur’an pernah saya baca. Ada yang ditulis oleh Al-Hafidz Abdul Aziz Abdul Rauf, Imam di Masjid Habiburrahhman PTDI, ada juga yang ditulis Dr. Yusuf Qardhawi. Mungkin karena di kepala saya, lagi-lagi (hanya) tilawah dan tahfizh (menghafal), maka kesimpulan buku-buku itu, lagi-lagi membaca dan menghafal. Mengerti sampai bisa mengingat surat dan ayat tertentu yang isinya ini itu, tidak terpikirkan sama sekali, kalau tidak sedikit sekali. Walaupun memahami ayat bagi saya sangat membantu menghafal. Tanpa menafikkan keutamaan tilawah dan tahfizh, bukankah seharusnya semakin lama kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, semakin banyak petunjuk dan rahmat (Q.S.45:20) yang kita rasakan? Semakin terasa kemudahan yang Allah Berikan untuk mengambil pelajaran dari kitabNya ini? (Q.S.54:17).

Saya pernah mendapat cerita tentang seorang ibu yang karena sudah hafal dan mengerti ayat Qur’an, tidaklah ia berkomunikasi dengan orang, kecuali dengan pertanyaan dan jawaban yang berupa ayat Qur’an. Juga cerita seorang anak kecil di Iran, Husein Tabataba’i, yang sudah hafal dan mengerti Qur’an juga. Dibacakan ayat, lalu disuruh membaca terusan ayat tersebut,…bisa. Ditanya arti ayat ini itu,…bisa. Ini artinya Qur’an sudah ngolotok di kepalanya. Subhanallah, ternyata yang bisa demikian tidak sedikit. Saya pernah lihat buku yang mengisahkan anak-anak yang sejak kecil (bahkan sejak dalam kandungan), telah hafal dan mengerti Qur’an. Sayang tidak dibeli, jadi tidak ada testimoni.

Sebagai Petunjuk dan Argumen

Pertanyaanya, apakah dengan rutin tilawah 1 juz sehari ditambah sedikit demi sedikit menghafalnya, mampu menjadikan kita, menyerupai kemampuan mereka? Yang dengan kemampuan itu, kita bisa menjadikan ayat-ayat Qur’an sebagai argumen, sebagai petunjuk, sebagai hukum terhadap berbagai kejadian dan problema dunia keseharian kita? Bukankah tidak jarang, saya hanya mampu membaca dan menghafal, begitu ada orang tanya, saya tidak mampu membacakan ayat Qur’an yang menjawab hal tersebut. Padahal ayat itu sering saya baca. Cuma bisa bilang, “Ada kok di Al-Qur’an, surat berapa ayat berapaa, gitu…”. Sekali dua kali boleh lah, tapi kalau terus-terusan?

Jangan-jangan saya hanya sekedar menempatkan Qur’an di lisan, hanya sebagai bacaan. Bukan kitab sempurna yang diturunkan Allah Yang Maha Tinggi, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, yang tak ada keraguan di dalamnya. Bukan sebagai kitab yang bisa fasih saya rujuk ayat-ayatnya, sebagaimana hakim, jaksa, dan pengacara merujuk kitab undang-undang hukum perdata/pidana.

Jika betul saya meyakini kebenaran dan kesempuraan Al-Qur’an, bukankah harusnya kitab ini lebih layak saya rujuk daripada kitab-kitab lainnya buatan manusia (yang mengandung kesalahan dan ketidakakuratan)? Jika saya bisa menghafal dan merujuk pancasial, UUD, bahkan pasal dan ayat di peraturan perundangan apapun, bukankah Al-Qur’an lebih layak diperlakukan seperti itu?

Atau karena sempurnanya Qur’an ini, cukup lah saya baca saja (toh nggak ada yang salah), lalu saya kembalikan dengan rapi di atas meja, untuk saya baca lagi esok hari? Toh, juga karena Allah Telah Menjamin penjagaanNya atas Qur’an (Q.S.15:9)? Apakah jika saya yakin saja, itu sudah cukup, tanpa berusaha menjadi ‘Al-Qur’an yang berjalan’ seperti Rasulullah?

(bersambung)

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>