Sejak istriku hamil, kami sudah bersepakat bahwa saat lahiran nanti, aku harus hadir bersamanya menjemput si kecil yang akan mellihat dunia untuk pertama kalinya. Kehadiran suami bagi istri saat persalinan katanya akan memberikan ketenangan dan perasaan bahwa istri tidak sendirian menghadapi persalinan. Bentuk dukungan verbal, sentuhan, pijatan diharapkan dapat meringankan kecemasan dan rasa sakit. Apalagi untuk kelahiran anak pertama, tentu istri tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Maka bagaimanapun caranya, aku wajib hadir menemaninya.

Saat istriku mengabari bahwa cairan ketubannya telah merembes keluar, maka kelahiran harus segera. Sore itu, sepulang kantor, pukul 18:00 aku pergi ke Bandung dengan travel Citi Trans. Walau termasuk mahal (165 ribu), tapi tak ada artinya dibandingkan bisa segera menemani istri yang sudah masuk ke rumah sakit Hermina Pasteur. Untuk mengganjal perut, nasi goreng dan siomay yang dijual di Grand Lucky pun kubeli. Mahalnya gak karuan untuk nasi goreng dan siomay, rasanya pun biasa. Kapokk.

Pukul 21:00 aku sampai di Hermina dan segera menemui istriku yang sudah terbaring di sebelah ruang bersalin, ditemani ibuku. Ayah dan mamah mertua menunggu di ruang tunggu. Seperti biasa, kukagetkan dia dengan tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, tanpa mengabari bahwa travelnya sedari tadi sudah mendarat di Pasteur. Dia tertawa, kukecup keningnya, kulihat cahaya di matanya walau tubuhnya lelah, berusaha untuk tertidur. Mataku mulai basah, antara sedikit cemas dan haru…hari ini datang juga.

Setelah rasa malas, lelahnya, dan nafsu makannya yang minimal di bulan-bulan awal kehamilan, lalu semakin membaik di bulan-bulan berikutnya walau tubuhnya makin payah tidur dan berjalan. Kurasakan kerinduan istriku untuk bertemu si kecil yang sudah lama digendongnya di perutnya selama ini. Apakah ia sehat? Bagaimana mukanya, mirip ayahnya kah, atau ibunya kah?

Sekitar pukul sebelas malam, dokter kandungan istriku, dokter Widyastuti datang memeriksa. Setelah menunggu, bukaan istriku tidak bertambah sehingga kontraksi harus dirangsang dengan cara induksi lewat infus. Sejak awal kami berdoa agar lahiran dapat berlangsung normal. Sejauh ini masih besar harapan untuk normal. tapi dengan kondisi cairan ketuban sudah keluar, prosesnya harus dipercepat. Alhamdulillah, detak jantung si kecil masih normal. Good boy…dia masih bisa bertahan. Sejak awal pula istriku sudah berbicara dan mensugesti si kecil untuk selalu sehat, baik…sama-sama bekerja sama agar persalinan berjalan lancar, normal dan sehat wal afiat.

Ibuku menyuruhku untuk tidur agar bisa gantian menjaga istriku. Kutempati sofa ruang tunggu yang keras dan tak nyaman itu, dan kutidur-tidurkan mataku agar bisa terbangun cukup pagi, perkiraan waktu kelahiran terjadi.

Sekitar jam 3 pagi, ibuku membangunkanku. Dita kontraksi hebat, katanya. Setelah menggeliat (akibat posisi tidur yang tidak enak), aku masuk ke ruang bersalin. Kudapati istriku terduduk di ranjang menahan rasa sakit yang datang berulang-ulang. Dia memejamkan mata, menahan nyeri kontraksi. Kugenggam tangannya, kuusap-usap punggungnya, kulantunkan dzikir, berharap sedikit mengurangi perihnya reaksi induksi beberapa jam sebelumnya. Tak tega juga rasanya melihatnya meringis kesakitan, bergetar tubuhnya seperti kejang-kejang menahan sakit. Tapi tetap kulihat kesabaran dan kepasrahannya. Mau gimana lagi, memang harus dijalani…

Subuh pun datang, dan kontraksinya semakin sering. Tangannya bergetar menggenggam erat tanganku. Ibuku datang, menyuruhku untuk shalat subuh. Ku pergi ke lantai bawah lalu shalat, berdoa semoga kelahiran istriku diberi kelancaran, diampun dosa-dosa istriku di saat-saat antara hidup dan mati ini. Beruntungnya istriku, mendapat kesempatan berpahala jihad ini, selain diampuni dosa-dosa.

Kemudian aku kembali ke ruang bersalin, menggantikan ibuku yang shalat subuh juga. Tak lama istriku merasa si kecil akan segera keluar. Dia merasa ingin mengejan. Suster melarangnya karena bukaan belum cukup besar, walaupun sudah bukaan 6 atau 7. Suster lain membimbing istriku untuk mengatur nafas agar tidak mengejan. Kulihat perubahan di raut mukanya…dia mulai kepayahan menahan. Alhamdulillaah dokter Wid datang dengan cepat, dan tanpa buang waktu, setelah bukaan 10, dimintanya istriku untuk mengejan dengan kuat dan secepat itu pula dokter menarik kepala si kecil yang sudah muncul dan…

Pluk!

Bayi mungil yang masih berlapis darah dan lendir tiba-tiba sudah ada di perut istriku. Istriku tertegun, tanganya masih mengepal menggenggam tanganku. Seperti orang kaget dan terpana, mungkin tak disangkanya si kecil sudah keluar. Kucium wajah istriku, kuelus-elus dahinya,, Alhamdulillah sekali semua lancar dan penantian pun berakhir bahagia. Dalam kondisi masih agak-agak terpana, aku bergeser ke tempat si kecil dibersihkan. Kini tugasku mengazaninya untuk pertama kali. Ajaibnya, saat diazani, si kecil yang tadinya menangis sesaat terdiam. Persis seperti hadits nabi yang mengatakan bahwa saat lahir, setan menusuk-nusuk perut si bayi sehingga ia menangis. Adzan mengusir setan-setan terkutuk ini sehingga si bayi kembali tenang. Nah, setelah selesai diadzani, dia menangis lagi. (Ditusuk-tusuk lagi, dong??) Hii kasiann…

Alhamdulillaah istriku bisa melahirkan dengan lancar tanpa harus sesar. Aku bersyukur bisa menemaninya menjemput si kecil. Tak seberapa yang bisa kulakukan untuknya, tapi buatku sangat lega bisa merasakan pengalaman itu. Oya, bagiku cukup dirasakan dan dialami saja prosesnya, tanpa harus direkam video.  Gimana gitu…kata istriku nanti kalau lihat langsung bisa ilfil. Hiii.

Selamat ya ayang, udah jadi ibun, pasti berjuta rasanya. Semoga engkau menjadi telaga yang menyejukkan dahaga kasih sayang Miza, dan selalu jadi alasan aku untuk pulang.

I love you :-*

Istriku dan putra pertama kami @ Hermina Pasteur

Tagged with:
 

One Response to Menemani Istri Saat Lahiran

  1. ardita says:

    pertamaaxx!
    cium-cium-cium-cium

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>